Desa Boro, Potret Pelestarian Lingkungan Dengan Ekowisata di Lereng Menoreh

Desa Boro, Potret Pelestarian Lingkungan Dengan Ekowisata di Lereng Menoreh
info gambar utama
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Desa Boro terletak di Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulonprogo, dapat ditempuh dengan jalan darat dari Kota Yogyakarta sekitar 1 jam. Tidak sulit menemukan desa tersebut, karena sejak lima tahun lalu desa ini menjadi salah satu desa wisata alam. Sebuah tempat ditengah persawahan yang masih asri dan diapit oleh Pegunungan Menoreh.

Mengapa desa ini menarik untuk dikunjungi?

Mongabay mendatangi desa tersebut dan bertemu langsung oleh Ketua Dolan Deso, Hartono, yang disambut dengan ramah. Dolan Deso di Desa Boro mulai pada tahun 2010 karena desa ini memiliki potensi yang luar biasa.

“Kami memulai ide ini dengan berdiskusi bersama perangkat desa dan mereka setuju untuk pengembangan area wisata alam dan outbound karena potensi yang luar biasa dari mulai sawah, air, ternak, dan sebagainya”, ungkap Hartono. “Dolan Deso memiliki konsep tradisional yang tetap mengangkat pelestarian lingkungan berdasar nilai budaya dan kearifan lokal”, tambah Hartono.

Tak mengherankan jika Desa Boro ini menarik karena merupakan daerah tangkapan air wilayah Barat Yogyakarta. Dengan adanya kegiatan di Dolan Deso, maka mereka ikut melestarikan air.

Lahan yang dipakai untuk aktivitas wisata alam dan outbound sebelumnya merupakan kebun tebu dan tidak ada pohon sama sekali seluas 1.03 ha. Daerah yang dulunya kebun tebu, disulap menjadi tempat yang rindang dan sejuk.

Wahana pembelajaran yang diberikan di tempat ekowisata Dolan Deso di Desa Boro, Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta | Foto: Agustinus Wijayanto
info gambar

Bagaimana dengan pendapatan desa dengan adanya kegiatan wisata alam dan outbound tersebut?

Cukup menarik, karena sebelumnya mendapat dana dari tebu sekitar Rp.6 juta/tahun dan sekarang dalam kurun waktu 5 tahun bisa mencapai Rp30 juta/ tahun.

Fakta di atas membuktikan bahwa kegiatan ekowisata dapat berkontribusi terhadap peningkatan perekonomian desa serta masyarakat setempat. Keterlibatan masyarakat lebih nyata dalam kegiatan ekowisata, bahkan bisa lebih dari 100 orang.

Dolan Deso Boro, mengedepankan paket wisata alam dengan konsep pelestarian lingkungan, dari anak-anak hingga orang dewasa. Disini konsep pemberdayaan dan kewirausahaan juga berjalan. Keberadaan ekowisata yang tempat menurut Hartono ada empat hal yang diuntungkan yaitu pihak desa, pengelola, masyarakat, dan lingkungan (sungai, gunung, dll).

Bagaimana pembagian keuntungan? Menarik untuk disimak, karena sistem pembagian keuntungan sesuai peningkatan pendapatan/pemasukan Dolan Deso. Dari awal, telah ada perjanjian yang melibatkan BPD dan Desa dan menyampaikan kondisi yang ada dan tiap 3 bulan ada pertanggungjawaban.

Bila ingin datang, pengunjung dapat mendaftar secara online maupun mengontak langsung pengelola Dolan Deso Boro. Karena pengelola Dolan Deso memiliki prinsip pembatasan pengunjung dalam 1 hari hanya menerima 300 pengunjung karena berhubungan dengan dukung daya dukung lingkungan, kamar mandi, air dan lainnya karena wisata alam tersebut bukan wisata masal yang memperbolehkan berapapun pengunjung bisa datang.

Interaksi bersama warga dengan pengunjung di tempat ekowisata Dolan Deso di Desa Boro, Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta | Foto: Agustinus Wijayanto
info gambar

Sejumlah pengunjung dari Yogyakarta yang diwawancarai oleh Mongabay menyampaikan bahwa tim mereka sangat senang berkegiatan di alam seperti di Dolan Deso Boro. Mereka sengaja datang untuk mengalami langsung kehidupan yang ada di desa. Permainan bertema keakraban, team building, dan lainnya juga ada di sana.

Salah satu pengunjung, Rudiyanto mengatakan ada beberapa yang perlu perawatan untuk sanitasi ke depannya, out bound baik, pemandu sudah professional. Akbar salah satu pengunjung menyampaikan bahwa aplikasi kelembagaan sangat penting. Hal ini dapat menginspirasi desa-desa yang akan mengembangkan ekowisata dapat mencontoh Desa Boro tersebut.

Eri Panca dari Kuai Barat-Kalimantan Timur memberikan pandangan bahwa paket yang ditawarkan di Dolan Deso Boro mungkin terlihat biasa karena banyak desa pun memiliki. Namun yang menarik adalah bagaimana pengelola Dolan Deso mengawal ide yang mungkin banyak difikirkan orang bisa terjadi dan berjalan baik serta memiliki dampak yang luar biasa bagi para pihak. “Mengapa di Boro bisa lebih maju jika dibandingkan dengan konsep desa wisata pada umumnya?” kata Eri.

Tak ketinggalan, Mongabay juga berkesempatan menyapa Laura, salah satu pemandu merasa mendapatkan banyak manfaat tidak hanya ekonomi, namun juga pengalaman karena pengunjung datang dari berbagai pihak, dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, swasta, maupun umum.

Sedangkan pemandu yang lain, Pandu yang menceritakan pengalaman ketika harus menghadapi berbagai latarbelakang pengunjung, karena tentu memerlukan pendekatan dan pendampingan yang berbeda dalam memberikan penjelasan kegiatan di Dolan Ndeso tersebut. Manfaat ekonomi juga didapatkan dari profesinya sebagai pemandu. Beberapa pemandu juga berasal dari Desa Boro sehingga mereka dapat merasakan manfaat langsung keberadaan Dolan Deso Boro tersebut.

Menjadi penting tentunya keberadaan pengelolaan yang profesional dengan manajemen yang ramping dalam sebuah kelembagaan wisata desa atau wisata alam yang dikelola di desa.

“Lalu mengapa pengelolaan model kolektif internal desa belum mampu menjawabnya? Ini menjadi autokritik untuk konsep wisata desa pada umumnya”, tambah Eri menutup pembicaraan kami saat di Desa Boro.

Menjadi kritik bersama tentunya bagaimana wisata desa atau wisata alam dikelola dengan baik tidak hanya memiliki niat atau semangat saja, namun manajemen yang ramping dan transparan mungkin menjadi salah satu pilihan, semoga.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini