Selangkah Lagi Menuju Ambon Kota Musik UNESCO

Selangkah Lagi Menuju Ambon Kota Musik UNESCO

Landmark Ambon city of music © Sumber: Indonesiana

Pemerintah Kota Ambon bersama dengan Ambon Music Office (AMO) akan mengajukan dokumen berisikan Ambon Kota Musik Dunia kepada Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO).

Dikutip dari Antara, Ronny Loppies selaku Direktur AMO menyebutkan bahwa pengajuan dokumen tersebut akan dilakukan pada 7-9 September di Bali untuk memenuhi syarat yang ditetapkan UNESCO sebagai kota kreatif dunia sektor musik tahun 2019.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Landmark Ambon city of music | Sumber: Nusantara

Dokumen berisi garis besar rencana strategis tersebut disusun oleh Pemkot Ambon dan AMO bersama Deputi Fasilitasi Kekayaan Elektual dan Regulasi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dalam upaya perwujudan Ambon menjadi Kota Musik Dunia yang tertuang sebagai salah satu persyaratan yang ditetapkan oleh UNESCO.

Adapun syarat pengisian dokumen tersebut berisi biodata kota, bidang kreatif yang dipilih, tampilan umum dari kota, peluang pengembangan khusus, dan tantangan lapisan atau ruang lingkup kota dengan kreativitasnya sebagai penggerak untuk menjawab kebutuhan.

Tidak hanya itu, dokumen berisikan dampak yang diharapkan sebagai penunjukan kota musik, pertimbangan aset dari kota yang tersedia, peranan dan landasan dari bidang kreatif yang bersangkutan yakni musik dengan sejarah kota, serta pusat-pusat penelitian tentang musik pun harus turut disertakan.

Hal yang terpenting juga, katanya, peranan kalangan profesional dalam mengimplementasikan kota musik, inisiatif, dan kebijakan pemerintah yang memiliki hubungan dengan kota musik dunia, anggaran rencana tahunan untuk rencana aksi, serta partisipasi dalam rapat tahunan.

"Syarat tersebut wajib diisi oleh kota yang mengajukan dokumen. Kita berupaya dengan waktu yang singkat ini dapat mengisi dokumen yang dapat memenuhi kriteria UNESCO," ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, lanjutnya, akan dilakukan diskusi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, yakni Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Negara Berkembang, Dirjen Kerjasama Multikultural Kementerian Luar Negeri, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon, Bandung Creatif City Forum (BCCF), Indonesia Creative City Network, Komite Nasional Indonesia , UNESCO, dan AMO.

Anak-anak di Maluku belajar alat musik tradisional | Sumber: Suara Pembaruan
Anak-anak di Maluku belajar alat musik tradisional | Sumber: Suara Pembaruan

Selanjutnya AMO akan mengimplementasi dokumen yang ada untuk menjadi Kota Musik Dunia pada 2019.

"Pelatihan pengisian dokumen dimulai dari Bali dan akan berakhir dengan 'revier' penyusunan dokumen pada Juli 2019," kata Ronny.

Dalam pengisian dokumen, pihaknya difasilitasi Bandung Creatif City Forum yang pernah mengirimkan data Kota Bandung sebagai Kota Desain.

"BCCF dan Bekraf akan membantu kita mengisi dokumen ditunjang pengalaman yang telah dilakukan sebelumnya," katanya.

Sumber: CNN Indonesia

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Payakumbuh Punya Wisata Ala Eropa Sebelummnya

Payakumbuh Punya Wisata Ala Eropa

Lepas Dari Gadget, Bank Indonesia Kenalkan Literasi Pada Anak Selanjutnya

Lepas Dari Gadget, Bank Indonesia Kenalkan Literasi Pada Anak

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.