Asyiknya Melihat Nelayan Berburu Gurita di Siau

Asyiknya Melihat Nelayan Berburu Gurita di Siau
info gambar utama

Matahari baru saja menunjukan wajahnya pagi ini, tetapi Dedy, sudah sibuk mempersiapkan peralatannya untuk berburu gurita. Mulai dari kacamata selam tradisional dari kayu, sampai dengan 3 bilah bambu dan besi yang menjadi alat untuk mengeluarkkan si hewan cephalopoda dari lubangnya.

Dedy (24 tahun), nelayan pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara ini, hampir setiap hari ketika musim gurita datang, memancing gurita bersama dengan teman-temannya.

Gurita, dengan sebutan setempatnya boboca, termasuk hewan laut yang cerdas dan unik. Gurita mempunyai sistem saraf yang sangat kompleks dengan sebagian saja yang terlokalisir di bagian otak. Dua pertiga dari sel saraf terdapat pada tali saraf yang ada di kedelapan lengan gurita. Lengan gurita pun bisa melakukan berbagai jenis gerakan refleks yang rumit, dipicu oleh 3 tahapan sistem saraf yang berbeda-beda. Bahkan beberapa jenis gurita seperti gurita mimic bisa menggerakkan lengan-lengannya untuk meniru gerakan hewan laut yang lain.

Seekor gurita di perairan Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Sulut. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Menyemburkan tinta untuk mengelabuhi serta melarikan diri dari para predatornya juga merupakan bentuk pertahanan dirinya. Tubuh boboca yang sangat fleksibel memungkinkannya untuk menyelipkan dirinya diantara celah batuan yang sangat sempit di dasar laut, terutama sewaktu melarikan diri dari ikan pemangsanya. Tetapi, gurita yang kurang dikenal orang dari subordo Cirrata memiliki dua buah sirip dan cangkang dalam sehingga kemampuan untuk menyelip ke dalam ruangan sempit menjadi berkurang.

Gurita bukanlah termasuk dalam hewan yang dilindungi, ini karena jumlahnya yang masih cukup banyak di lautan luas.

Seekor gurita yang bersembunyi diantara terumbu karang di perairan Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Sulut. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Dedy mengatakan, jika mencari gurita ini, sebetulnya lebih mudah bila dilakukan pada waktu air surut tejauh,yaitu saat bulan penuh atau purnama. Karena bisa dilakukan di pinggir-pinggir pantai saja. Dan ibu-ibu serta anak-anak bisa melakukannya. tetapi para lelakinya biasa mencari ke tempat yang lebih dalam.

Memang bukanlah perkara yang mudah mencari boboca dengan cara melakukan penyelaman tradisional (tanpa oksigen tambahan) seperti ini, lanjut Dedy, butuh kesabaran dan napas yang panjang, serta stamina yang bagus untuk mendapatkan dua sampai tiga ekor Boboca setiap harinya.

Dedy, seorang nelayan penangkap gurita dari Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Sulut. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Dedy pun menambahkan, kalau rata-rata nelayan gurita di sini, bisa menahan napas selama 2-4 menit di dalam air. Ini berkat latihan selama bertahun-tahun. Para nelayan ini mengenal laut sejak dari balita. Jadi sampai usia remaja mereka sudah mampu menyelam sedalam 10 meter tanpa menggunakan alat bantu.

Karena gurita bersembunyi di dalam lubang-lubang karang yang sempit, para nelayan menggunakan bilah bambu untuk menariknya keluar. Dalam seharinya nelayan gurita di Siau, bisa mendapatkan 2 sampai 5 ekor. Untuk kemudian dijual dengan harga Rp30-60 ribu/ekornya.

Dedy, seorang nelayan tradisional penangkap gurita di perairan Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Sulut. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Sekarang mencari gurita sudah lebih sulit jika dibandingkan dengan 5-10 tahun yang lalu. Musim gurita pun di masa sekarang sulit ditebak datangnya, menurut Dedy, ini karena pergantian musim yang tidak pasti. Sehingga suhu tidak bisa air tidak bisa diketahui dengan pasti, kapan turun dan naiknya.

Ketika matahari mulai condong ke barat, maka Dedy dan kawan-kawan nelayannya pun menyudahi pencarian bobocanya. Di kepalanya sudah terbayang sejumlah uang yang lumayan, karena di tangan Dedy sudah tergenggam 4 ekor boboca.

Dedy, menangkap gurita dengan peralatan sederhana di perairan Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Sulut. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini