Tak Terima Identitas Kotanya Memudar, Ini Aksi Nyata Arek Soeroboyo

Tak Terima Identitas Kotanya Memudar, Ini Aksi Nyata Arek Soeroboyo

© roodebrugsoerabaia.com

Tak terima melihat Kota Pahlawan yang identitasnya mulai memudar. Ady Setyawan lakukan aksi nyata dengan dirikan komunitas Sejarah. Komunitas yang berdiri sejak tahun 2010 itu bernama Roodebrug Soerabaia.

Nama yang diambil berasal dari bahasa Belanda. Roodebrug yang berarti jembatan merah. Secara filosofis, jembatan adalah penghubung. Komunitas ini diharapkan akan menjadi media penghubung cerita – cerita sejarah. Jembatan Merah juga dikenal sebagai ikon Surabaya.

“orang dulu meskipun nggak fasih berbahasa Belanda, namun bahasa itu umum digunakan. Itu sebabnya saya memakai nama dari Bahasa Belanda” terang Ady.

Ady bersama komunitas RB (Roodebrug) telah menulis beberapa buku sejarah. Buku yang ditulis berisi cerita yang jarang diberikan di pendidikan formal, seperti buku pertama yang berjudul benteng – benteng Surabaya.

Di dalam buku ini diceritakan bahwa Surabaya memiliki benteng – benteng sejarah yang tidak terawat. Karena terbengkalai, benteng ini seperti bangunan tua usang yang tidak memiliki nilai sejarah.

“Benteng – benteng itu sekarang mangkrak, tertutup tanaman liar. Beberapa sudah rusak hilang, dalam buku itu kita mengangkat tentang itu,” ungkapnya.

Salah satu benteng yang teridentifikasi adalah Benteng Kedung Cowek. Benteng Kedung Cowek digunakan pejuang Indonesia dalam perang Surabaya.

Dalam penjelasannya Ady mengatakan 200 orang gugur di benteng itu. Pejuang – pejuang yang gugur itu masih belum terevakuasi hingga sekarang.

“sampai sekarang masih tertutup tanaman liar, dan dinding – dindingnya masih penuh lubang tembakan,” imbuhnya.

Untuk karya kedua dari teman – teman RB berisi tentang pentigraf (cerita pendek tiga paragraf).

Cerita unik terjadi ketika menulis buku ketiga. Ketika Ady mencari informasi ke Belanda. Ia menemui seorang peneliti juga yang kemudian menjadi co-writer dari buku terbarunya.

Ady Setyawan bertemu dengan seorang peneliti juga bernama Marjolein Van Pagee. Ketika Ady mengorek informasi dari veteran Belanda, ia kemudian mendapat info tentang Marjolein.

Kebetulan yang sangat unik, keduanya ternyata memiliki kesamaan. Ady dan Marjolein adalah cucu dari dua orang veteran yang pernah berperang di Indonesia. Jika kedua kakeknya dahulu saling memerangi, namun tidak bagi keduanya.

Ady dan Marjolein berkolaborasi mengumpulkan fakta sejarah, yang kemudian mereka satukan menjadi buku “Surabaya Di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu?”.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kolaborasi Nyata Akan Bantu Indonesia Ciptakan Prestasi Ekonomi Sebelummnya

Kolaborasi Nyata Akan Bantu Indonesia Ciptakan Prestasi Ekonomi

Dulunya Penuh Sampah, Kini Jadi Primadona Wisata di Bekasi Selanjutnya

Dulunya Penuh Sampah, Kini Jadi Primadona Wisata di Bekasi

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.