Gencar Pembangunan Demi Persatuan

Gencar Pembangunan Demi Persatuan
info gambar utama

Saat ini, apalagi ketika menjelang perhelatan Asian Games 2018 lalu, beragam konstruksi di sana-sini sangat gencar dilakukan pemerintah. Mulai dari menata jalur pejalan kaki atau pedestrian di ibukota dan sekitar arena pertandingan Asian Games hingga saat ini pembangunan tol di berbagai wilayah bahkan Papua.

Infrastruktur tentu sangat penting peranannya dalam beragam aspek kehidupan kita. Bayangkan bila akses sulit, atau jalanan tidak layak dan memadai, tentu kita akan kesulitan mengerjakan beberapa keperluan. Jelas, infrastruktur merupakan faktor penting produktivitas masyarakat. Dari pembangunan tol, jembatan hingga moda-moda transportasi telah mencapai progres memuaskan.

Bukan hanya sekedar berorientasi pada pencapaian target ekonomi saja, gencarnya pembangunan infrastruktur ini, menurut presiden Joko Widodo dalam kesempatan kuliah umum Wawasan Kebangsaan dan Pembukaan Rakernas PGRI di Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, pembangunan infrastruktur juga sebagai penghubung antarkota, antarpulau dan antarprovinsi. Dengan kata lain, sebagai pemersatu wilayah-wilayah di Indonesia.

Ketimpangan yang kita rasakan antara di pusat dengan di wilayah timur, berpengaruh terhadap persatuan masyarakatnya. Di satu sisi ada yang merasa tidak adil, sehingga pembangunan infrastruktur ditujukan agar tiap wilayah mendapatkan akses yang sama terhadap pelayanan-pelayanan. Tidak ada yang merasa ditelantarkan.

Infrastruktur juga secara tidak langsung berperan mencetak sumber daya manusia yang andal dan kompetitif. Pemasangan kabel optik sebagai medium pengiriman data untuk akses internet, misalnya, atau akses barang dan jasa yang cepat dan efisien sehingga waktu yang dapat digunakan untuk melakukan hal produktif lainnya tidak terbuang percuma.

Untuk di wilayah Papua, berdasarkan laporan hingga Februari 2018 lalu, telah dibangun 49 buah waduk selama lima periode kepemimpinan presiden Joko Widodo. Lalu di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki permasalahan pasokan air juga telah dibangun 7 buah waduk.

Pembangunan Jembatan Holtekamp di kota Jayapura yang pada Akhir Agustus 2018 lalu sudah mencapai progres 99% diharapkan pula selesai secara paripurna pada Desember ini dan nantinya akan dapat memperpendek waktu tempuh ke distrik-distrik sekitarnya yang tadinya 2,5 jam menjadi satu jam saja.

Pelabuhan-pelabuhan di Indonesia Timur seperti di Makassar, Pantoloan, Ambon, Balikpapan dan Jayapura juga mengalami percepatan pembangunan yang bertujuan menghubungkan wilayah Timur ke Barat melalui empat BUMN kepelabuhan yaitu Pelindo I, Pelindo II, Pelindo III dan Pelindo IV, selain juga sebagai sarana mendorong penurunan biaya logistik dan meningkatkan produktivitas.

Fasilitas kesehatan juga tidak luput dari gencarnya pembangunan infrastruktur oleh pemerintah. Juli 2018 lalu, dibangun Rumah sakit rujukan vertikal pertama di tepi teluk Ambon, Maluku sekaligus di Indonesia Timur dengan anggaran Rp 217 miliar dengan luas lahan 4,7 hektar.

Dengan sertifikat tanah hibah dari pemerintah provinsi Maluku, Kementerian Kesehatan RI segera memulai pembangunan infrastruktur kesehatan tersebut di Maluku yang dianggap sudah lebih siap dibanding Papua dan NTT.

Urgennya peningkatan akses pelayanan kepada masyarakat dimanapun dan kapanpun diharapkan tetap menjadi orientasi pemerintah dalam menjalankan program-program kerjanya, karena merupakan hal konkrit dan dapat langsung dinikmati masyarakat. Dengan demikian dapat meminimalisir konflik-konflik dan sentimen antara warga negara di wilayah barat dengan timur. Sudah seharusnya kita bersatu dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur Indonesia.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini