Apa yang Berbeda Dari Festival Krakatau 2018?

Apa yang Berbeda Dari Festival Krakatau 2018?
info gambar utama

Festival Krakatau merupakan ajang bergengsi tahunan yang digelar untuk memperkenalkan indahnya Krakatau sebagai destinasi wisata andalan. Seperti sudah keharusan, setiap puncak rangkaian festival, Pemerintah Lampung selalu mengajak wisatawan lokal dan mancanegara mengunjungi Gunung Anak Krakatau yang berada di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.

Menariknya, dalam perhelatan di 2018 ini, Pemerintah Provinsi Lampung menggelar seminar Internasional pada 23-24 Agustus lalu. Hadir sebagai pembicara Prof. Tukirin Partomihardjo, DR. Eng. Mirza Abdurrachman, Igan S Sutawijaya, serta Aline Scott Maxwell dan Mitchell Molisson (ahli budaya Australia), guna mengupas tuntas vulanologi dan pemanfaatan Gunung Anak Krakatau sebagai daya tarik wisata.

“Kita memiliki destinasi wisata paling bersejarah di dunia, ini ikon Lampung yang patut dibanggakan. Kita berharap, Krakatau bisa diturunkan statusnya demi kemajuan dunia pariwisata,” kata Asisten I Setda Provinsi Lampung Heri Sulsityo dalam sambutannya sebelum seminar.

Anak Krakatau, gunung berapi aktif yang diperkirakan terbentuk mulai 1930-an. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia
info gambar

Terkait Krakatau, Tukirin menjelaskan Krakatau merupakan laboratorium alam tiada tanding perihal suksesi primer tumbuhannya. Hingga kini secara umum, vegetasi Krakatau masih dalam tingkat perkembangan dan pengayaan jenis.

Perkembangan vegetasi di Krakatau secara keseluruhan, akan sangat dipengaruhi vegetasi daerah sektiar, termasuk Jawa dan Sumatera sebagai sumber benih. Penyebaran tumbuhan di di sini bisa melalui manusia yang berkunjung, satwa, angin, dan juga air.

“Krakatau tidak perlu ada perubahan status, biarkan saja sebagai cagar alam. Guna menjamin keberlangsungan proses hunian dan keberlangsungan vegetasi alam sangat dibutuhkan pengelolaan kawasan yang tepat sehingga dapat mewadahi semua aspek kepentingan,” tutur ahli Kratau dari LIPI ini.

Perubahan status cagar alam, di satu sisi memang diharapkan dapat meningkatkan jumlah wisatawan. Namun, letusan Anak Krakatau yang dapat terjadi sewaktu-waktu, merupakan potensi bencana yang harus diperhatikan. “Anak Krakatau dapat meletus kapan saja tanpa aba-aba. Bila terjadi erupsi saat wisatawan di lokasi, siapa pihak yang bertanggung jawab,” jelas Tukirin.

Dari puncak pertama Anak Krakatau, pemandangan sekeliling akan terlihat mengesankan | Foto: Ridzki R. Sigit/Mongabay Indonesia
info gambar

Kepala BKSDA Kanwil Bengkulu-Lampung Teguh Ismail, menyiratkan kekhawatiran yang sama. Menurut dia, pihaknya tidak menutup kegiatan pariwisata di Lampung, namun adanya aktivitas manusia di sekitar Anak Krakatau harus diwaspadai.

Permasalahan mendasar, status Krakatau adalah cagar alam laut. ”Minimnya sarana penunjang pariwisata di sana, bila terjadi sesuatu, bagaimana mengevakuasi pengunjung dari tengah laut?” tanya Teguh.

Permasalahan lain adalah belum ada formula tepat untuk mengelola potensi alamnya. “Bagaimana memanfaatkan Krakatau tanpa mengorbankan lingkungan? Sekalipun pada kenyataannya sudah banyak wisatawan yang berkunjung secara ilegal,” lanjutnya.

Sebelumnya, Dinas Parawisata Provinsi Lampung menyatakan kesulitan mendapat izin membawa wisatawan dalam rangkaian festival tersebut ke Krakatau. Surat Izin Memasuki Kawasan Konservasi (Simaksi) tak kunjung diterbitkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kanwil Bengkulu-Lampung, hingga sehari sebagaimana jadwal yang direncanakan.

“Krakatau di depan mata, mengapa potensi ini tidak bisa dimanfaatkan?” tutur Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Lampung Budiharto dalam seminar internasional itu. Padahal, menurutnya, wisatawan mancanegara lebih mendominasi kunjungan ke gunung berapi aktif tersebut.

Penampakan Anak Krakatau yang lebih dekat. Foto: Ridzki R. Sigit/Mongabay Indonesia
info gambar

Tetap berkunjung

Meski tanpa surat izin, perjalanan ke Krakatau tetap dilaksanakan. Alasan kuat yang dipertahankan adalah landasan rencana tindak lanjut seminar yakni menurunkan status cagar alam Krakatau menjadi taman wisata alam. Rombongan wisatawan sebanyak lima perahu penumpang dikerahkan, satu perahu memuat 20 orang.

Siti Andriani warga Bandar Lampung yang turut dalam rombongan menceritakan keberangkatannya, Minggu (25/8/2018) pagi. Mereka menyeberang lautan dari Dermaga Bom Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan. “Ombak cukup besar waktu itu. Sekitar tiga jam rombongan menempuh perjalanan menuju bibir pantai Gunung Anak Krakatau,” jelasnya.

Begitu tiba, penumpang turun dan melanjutkan dengan swafoto, mengabadikan momen bersejarah tak terlupakan. Wisatawan dapat mengeksplorasi Anak Krakatau satu jam. “Sebenarnya saya agak takut, saya melihat asap putih mengepul dari kawah gunung,” ujarnya.

Wisatawan lokal maupun macanegara biasanya mengunjungi Anak Krakatau di akhir pekan. Gunung berapi penuh sejarah ini akan sangat sayang jika tidak diteliti lebih mendalam sebagai laboratorium terbaik di dunia. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia
info gambar

Berikutnya, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Sebesi. “Perahu sempat mogok. Tidak bisa saya bayangkan bagaimana jika saat itu aktivitas vulkanik sedang hebat-hebatnya,” kata Andriani lagi.

Forcaster Lampung melalui situs Magma Indonesia melaporkan per tanggal 11/9/2018, telah terjadi kegempaan tremor terus menerus dengan ampitudo 5-60 mm (dominan 45 mm) pada Gunung Api Anak Krakatau. Tingkat aktivitasnya level II atau waspada. Pengelola Foscaster Lampung menjelaskan, status waspada ini sebenarnya sudah disandang Gunung Anak Krakatau sejak tahun 2012. Hingga saat ini belum pernah ada penurunan status.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau merekomendasikan masyarakat tidak mendekati kawah dalam radius dua kilometer.

Sejarah

Krakatau merupakan gugusan pulau bernama Rakata, Sertung, Panjang, dan Anak Krakatau, yang membentang di Selat Sunda. Statusnya, cagar alam seluas 13.605 hektar.

Awalnya, Krakatau merupakan gunung api purba setinggi 3 ribu meter, bergaris tengah 11 kilometer. Krakatau Purba lenyap saat erupsi di zaman prasejarah. Letusannya memunculkan tiga kepundan aktif: Danan, Perbuatan, dan Rakata yang selanjutnya menjelma sebagai pulau memanjang.

Pagi yang indah di Anak Krakatau. Cagar Alam Krakatau bukan sekadar untuk dikunjungi tetapi juga harus diteliti. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia
info gambar

26-27 Agustus 1883, letusan luar biasa kembali mengguncang yang kali ini menghancurkan puncak Danan dan Perbuatan, juga dua per tiga Rakata. Bencana alam yang diikuti gelombang tsunami dan awan panas ini menewaskan 36 ribu penduduk yang bermukim di pesisir Selat Sunda.

Perkembangan selanjutnya, muncullah daratan yang diberi nama Anak Krakatau, tahun 1930. Daratan ini, sejak awal kelahirannya bertambah luas dan meninggi seiring ledakan vulkanis yang terjadi. Anak Krakatau ini yang sering kita namakan Gunung Krakatau yang terus tumbuh dan diperkirakan telah mencapai ketinggian 450 meter dengan garis tengah sekitar 3 kilometer.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini