PII Milenial, Aktualisasi Catur Bakti Zaman Now

PII Milenial, Aktualisasi Catur Bakti Zaman Now
info gambar utama

Dewasa ini, dunia mengalami perkembangan yang cukup siginifian khususnya di bidang teknologi dan informasi. Dapat kita temui di berbagai belahan dunia bermacam-macam tekhologi yang memberikan kemudahan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Namun disisi lain juga mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Misalnya moral pelajar yang mengalami degradasi dan perpecahan bangsa.

Menurut Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020-2035. Jumlah penduduk dengan usia produktif dengan presentase 70%-30%. Hal ini akan menjadi sebuah peluang dan ancaman. Bonus demografi tersebut memberikan secercah harapan untuk Indonesia lebih maju. Namun, jika melihat relialita maraknya kasus kriminalitas di kalangan pelajar, minimnya prestasi yang diraih, dan tidak ada kepedulian masyarakat dengan kondisi tersebut.

Pelajar Islam Indonesia (PII) hadir sebagai mata rantai perjuangan umat Islam Indonesia, dengan tujuan mulia “Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi seluruh rakyat Indonesia dan ummat manusia”. Dengan berbagai proses pengkaderan yang dilaksakan untuk menyiapkan generasi pemuda mencetak kader Muslim, Cendekia, Pemimpin agar siap menghadapi tantangan kedepan.

Pengurus Wilayah PII Jawa Timur menyelenggarakan Konferensi Wilayah (KONWIL) ke-31 sebagai momentum membangun kesadaan pelajar serta memfasilitasi kader PII Jawa Timur untuk merapatkan barisan untuk bersama-sama membangun masyarakat yang berkeadaban. Semangat ini yang dituangkan pada tema “Pelajar Peduli Membangun Masyarakat Berkeadaban”.

Kehadiran PII ikut andil dalam mencetak para pemimpin bangsa serta orang pengaruh di bangsa ini seperti Dahlan Iskan, Yusuf Kalla, dan Muhadjir Efendy. Dengan kondisi zaman yang selalu berubah menjadi tantangan tersendiri bagi PII agar tetap meraih prestasi lebih baik atau justru menurun.

Kondisi internal PII dengan berbagai dinamika yang cukup kompleks sangat berpegaruh terhadap jalanya roda oragnisasi ini. PII sebagai wadah memaksimalkan potensi pelajar dan media dakwah kurang dimaknai secara utuh. Kebermanfaat PII belum dirasakan oleh masyarakat. Hal ini menjadi sarana muhasabah berdirinya organisasi pelajar Islam yang sudah tua menginjak usia ke-71.

Fungsi dan kemanfaatan PII tersebut dikenal dengan Catur Bakti PII yang meliputi: tempat berlatih, wahana penghantar sukses studi, wadah pembentukan pribadi muslim, dan alat perjuangan.

Pertama, tempat berlatih. PII menfasilitasi para kadernya untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan minat dan bakatnya melalui berbagai program. Para kader dan anggota juga dilatih untuk mengembangkan daya berpikir, kepedulian terhadap permasalahan masyarakat, tampil sebagai sosok pemimpin.

Kedua, wahana penghantar sukses studi. Sebagai organisasi pelajar, kader dan anggota PII berstatus pelajar seharusnyatidak boleh melupakan kewajibannya belajar dan kesuksesan studinya. Maka dari itu, PII harus dapat dijadikan sebagai wahana penghantar sukses studi para kader dan anggotanya melalui kegiatan bimbingan belajar (konseling), memberikan ruang apresiasi yang cukup bagi kader atau anggotanya yang berhasil mencapai kesuksesan dalam studinya, dan menfasilitasi pelajar yang informal agar mampu menghasilkan prestasi yang mumpuni seperti pelajar formal. Hal ini dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi pelajar umum untuk termotivasi masuk menjadi anggota PII.

Ketiga, wadah pembentukan pribadi muslim. Melihat pada era globalisasi yang telah membuat lunturnya nilai-nilai agama pada kehidupan generasi muda. Sebagai organisasi yang berasaskan Islam PII harus mampu menjadi wadah pembinaan dan pembentukan kepribadian muslim pada generasi muda yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa.

Keempat, sebagai alat perjuangan. Tujuan PII “kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan umat manusia”. Kedua bidang ini lah yang akan membangun karakter generasi pemuda yang never ending goal . Pelajar Islam Indonesia (PII) lahir dari semangat yang tinggi dengan tiga komitmen dasar: kepelajaran, keislaman, dan keindonesiaan. PII hadir sebagai mata rantai perjuangan umat Islam menjadikan pelajar sebagai agent of change, yang berlandansan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dan Indonesia sebagai pilihan wilayah dakwah.

“Berlelah-lelahlah! Manisnya hidup terasa setelah berjuang.Aku melihat menjadi rusak karena tertahan. Jika air mengalir menjadi jernih. Jika air tidak mengalir, akan keruh. Wahai kader PII, jadilah aktivis yang dinamis dan menjadi kata-kata hikmah Imam Syafi’i sebagai pelecut ghiroh berdakwah. Menghadirkan kembali peran PII terhadap masyarakat dengan mengaktualisasikan catur bakti PII di zaman now. Sebagai aktivis senantiasa bergerak agar tidak tertinggal. Semangat berjuang! []

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini