Indonesia Jadi Partisipan Terbanyak Aksi World Clean Up Day. Kok Bisa?

Indonesia Jadi Partisipan Terbanyak Aksi World Clean Up Day. Kok Bisa?

Partisipan World Clean Up Day bersama relawan Greenpeace mengumpulkan sampah plastik di Pantai Kuk Cituis, Tangerang Banten pada Jumat (15/9/2018) © Foto : Greenpeace Indonesia/Mongabay Indonesia

Hari Sabtu (15/9/2018) kemarin, menjadi hari penting bagi upaya membersihkan sampah di dunia. Secara serentak di 155 negara, dilakukan aksi global bersih sampah dalam event World Clean Up Day (WCD).

Panitia WCD internasional mengklaim ini menjadi aksi terbesar dalam sejarah umat manusia. Dalam rilisnya, tercatat ada sekitar 13 juta partisipan dari 144 negara dari rencana 155 negara yang melakukan aksi bersih sampah tersebut.

11 negara sisanya terpaksa menunda kegiatan bersih sampah, terutama karena kondisi cuaca. Menurut peringatan bencana global, ada enam siklon tropis aktif, topan dan badai yang mempengaruhi negara tersebut, antara lain Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Makau, beberapa negara bagian Amerika Serikat dan Republik Dominika.

Indonesia menjadi partisipan terbesar dengan 3,3 juta orang yang mengikuti kegiatan bersih-bersih WCD. Disusul negara Pakistan dan Amerika masing-masing 3 juta dan 1,5 juta orang partisipan. Kyrgyzstan memiliki persentase tingkat partisipasi penduduk terbesar dalam pembersihan, yaitu 7%.

Sumber: worldcleanupday.org
Sumber: worldcleanupday.org

Tetapi yang penting bukan tentang angka jumlah partisipan, melainkan tentang pesan yang dibawa ke seluruh dunia kepada ratusan juta orang. “Anda tidak pernah bisa menggambarkan keberhasilan nyata (kegiatan ini) dalam jumlah partisipan, ” kata Merili Vares, Head of Partnerships for Let’s Do It! Foundation dalam rilis Panitia WCD internasional.

Di Indonesia, kegiatan WCD dilakukan serentak di 34 propinsi. Dari akun facebook WCD Indonesia, propinsi yang berpartisipasi antara lain Jakarta, Jabar, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Bali, Sumatera Selatan, Riau, Bengkulu, Lampung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, NTB dan NTT.

Di Bali, International Coastal Cleanup (ICC), Ocean Conservancy, bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan sejumlah lembaga berkumpul menggelar WCD yang dipusatkan di di Pantai Padang Galak, Denpasar, dengan 1.287 partisipan dan berhasil mengumpulkan sampah sebanyak 841,53 kg.

Partisipan World Clean Up Day bersama relawan Greenpeace mengumpulkan sampah plastik di Pantai Kuk Cituis, Tangerang Banten pada Jumat (15/9/2018). Foto : Greenpeace Indonesia/Mongabay Indonesia
Partisipan World Clean Up Day bersama relawan Greenpeace mengumpulkan sampah plastik di Pantai Kuk Cituis, Tangerang Banten pada Jumat (15/9/2018) | Foto : Greenpeace Indonesia/Mongabay Indonesia

Perda Sampah

Di Palangkaraya, Kalteng, aksi WCD dilaksanakan di enam titik, yaitu di Flamboyan Bawah, Universitas Palangka Raya, Kecamatan Bukit Batu, Dermaga Kereng Bengkirai, STIKES Eka Harap dan Akbid Betang Asi dan melibatkan 2973 partisipan.

World Clean up Day 2018 cukup menjadi momentum sinergi komunitas dengan instansi pemda terkait, pemangku kebijakan masalah Perda pengelolaan sampah, komunitas peduli lingkungan dan lapisan masyarakat. Semua merasa menjadi satu kesatuan untuk meningkatkan kesadaran mengelola sampah dengan lebih bijaksana,” kata salah satu Koordinator WCD Palangkaraya, Dewi Sukmaningrum kepada Mongabay Indonesia, Sabtu (15/9/2018).

Pemerintah Kota Palangkaraya sendiri telah menerbitkan Perda No.01/2017 tentang aturan penetapan waktu membuang sampah, yang akan diterapkan 1 Oktober 2018.

Kepala Bidang Kebersihan, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Palangkaraya, M. Alfath mengatakan meski akan diterapkan 1 Oktober 2018, perda tersebut sudah disosialisasikan sejak awal 2018.

Dari hasil monitoring Disperkim, ada perubahan tren pembuangan sampah sebelum dan sesudah sosialisasi Perda Sampah. Kesadaran masyarakat meningkat. “Sekarang sudah lebih tertib daripada sebelumnya,” kata Alfath kepada Mongabay Indonesia.

Aksi bersih sampah World Clean Up Day di Pantai Bengkirai, Palangkaraya, Kalteng. Foto : sugianto sabran/fb WCD Indonesia
Aksi bersih sampah World Clean Up Day di Pantai Bengkirai, Palangkaraya, Kalteng | Foto: sugianto sabran/fb WCD Indonesia

Sedangkan Sekda Pemprov Kalteng, Fahrizal Fitri mengatakan selama ini masyarakat terbiasa membuang sampah di bantaran sungai. “Kiri dan kanan menjadi tempat pembuangan sampah. Sekarang mulai berubah,” katanya.

Fahrizal mengharapkan masyarakat membiasakan hidup bersih, salah satunya dengan pengelolaan sampah melalui bank sampah. “Sampah dipilah sesuai dengan jenisnya yaitu sampah organik dan non-organik sejak dari sumbernya yaitu dari rumah tangga atau sumber lainnya,” katanya.

Data Disperkim menyebutkan sekitar 800 meter kubik sampah per hari di Kota Palangkaraya dan hanya 48,52 persen saja yang bisa dikelola oleh Disperkim. Kendala utamanya karena geografis kota yang panjang dan luas, sarana dan prasarana yang terbatas, dan terbatasnya layanan pengangkutan sampah.

Kota Palangkaraya sendiri hanya memiliki satu tempat pembuangan sampah yaitu TPST Organik di Jalan Sumbawa, dengan kegiatan pengolahan sampah menghasilkan 200 kg/bulan.

Dengan diterbitkannya Perda, Alfath berharap warga sudah mampu memilah, memanfaatkan dan mengurangi sampah maka akan meringankan pekerjaan pelayanan pengelolaan sampah.

Partisipan World Clean Up Day bersama relawan Greenpeace mengumpulkan sampah plastik di Pantai Kuk Cituis, Tangerang Banten pada Jumat (15/9/2018). Foto : Greenpeace Indonesia/Mongabay Indonesia
Partisipan World Clean Up Day bersama relawan Greenpeace mengumpulkan sampah plastik di Pantai Kuk Cituis, Tangerang Banten pada Jumat (15/9/2018) | Foto: Greenpeace Indonesia/Mongabay Indonesia

Kesadaran Masyarakat

Di kota Maumere, ibukota kabupaten Sikka, NTT, pelaksanaan WCD dilakukan pada Jumat (14/9/2018) dan Sabtu (15/9/2018). Hari Jumat, WCD digelar di kecamatan Kewapate, Maumere melibatkan 1.400-an pelajar dan warga. Hari Sabtu, WCD dilakukan di Jalan El Tari, pusat kota Maumere melibatkan 1.852 pelajar SMPK Frateran dan SMAK John Paul II.

“Kami targetkan diikuti 5 ribu orang tapi ternyata hanya 3.252 orang saja. Tapi minimal dengan aksi ini bisa menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan,” kata Wenefrida Efodia Susilowati, Direktur Bank Sampah Flores, kepada Mongabay Indonesia, Sabtu (15/9/2018).

Sebelum aksi, Susi sapaan akrab Wenefrida menjelaskan pengelolaan sampah seperti jenis, pemisahan sampah dan konsep 4R (Replace, Reuse, Reduce, Reycle) sampah.

“Setiap acara aksi bersih-bersih kami mulai dengan melakukan sosialisasi dan edukasi terlebih dahulu. Ini penting untuk menumbuhkan pemahaman dan kepedulian,” sebut Susi yang dijuluki Ratu Sampah.

Bupati Sikka terpilih Roberto Diogo Idong yang hadir bersama sang isteri mengaku senang diangkat menjadi bapak peduli lingkungan dalam kegiatan itu.

Bupati Sikka Robertus Diogo Idong (baju biru) dan kepala sekolah SMPK Frateran Maumere Frater Herman Yosef (jubah putih) sedang mengambil sampah plastik dalam aksi World Clean Up Day di kota Maumere, Sikka, NTT. Foto Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia
Bupati Sikka Robertus Diogo Idong (baju biru) dan kepala sekolah SMPK Frateran Maumere Frater Herman Yosef (jubah putih) sedang mengambil sampah plastik dalam aksi World Clean Up Day di kota Maumere, Sikka, NTT | Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

Acara WCD menurut Susi penting untuk membangkitkan kesadaran warga tentang pengelolaan sampah karena selama ini masyarakat Maumere masih sembarangan membuang sampah.

Pengelolaan sampah perlu keterlibatan semua pihak, dan pemerintah sebagai ujung tombaknya. “Peran pemerintah pun masih belum maksimal. Halaman kantor pemerintah pun masih banyak sampah bertebaran dan hampir tidak ada tempat sampah di lingkungan kantor,” sesalnya.

Dengan kegiatan WCD, lanjutnya, masyarakat terbangun kesadarannya membuang sampah. “Sepersepuluh saja yang menjalankan pesan yang kami sampaikan tentu sudah sangat bagus. Sulit memang merubah kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan namun kita tetap harus berusaha terus menerus,” tegas Susi.

Aksi WCD di Maumere itu berhasil mengumpulkan 180 karung sampah, yang diangkut kemudian oleh Dinas Lingkungan hidup (DLH) kabupaten Sikka.

Gatot Muryanto, Kepala bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) DLH Sikka menyebutkan, jumlah sampah di kota Maumere meliputi kecamatan Alok, Alok Barat, Alok Timur dan Kewapante sekitar 4.900 m3 per bulan

Dalam setahun sebut Gatot, mencapai angka 59.453 m3 dan hanya terangkut 42.120 m3. Permasalahan utama karena keterbatasan petugas dan sarana pengangkutannya.

Puntung rokok yang dikumpulkan saat aksi bersih sampah World Clean Up Day di Kendari, Sulawesi Tenggara. Foto : teamspearokendari.tsk/fb WCD Indonesia/Mongabay Indonesia
Puntung rokok yang dikumpulkan saat aksi bersih sampah World Clean Up Day di Kendari, Sulawesi Tenggara | Foto : teamspearokendari.tsk/fb WCD Indonesia/Mongabay Indonesia

Tanggung Jawab Produsen

Aksi WCD juga digelar Greenpeace Indonesia bersama komunitas lokal yang tergabung dalam gerakan global #breakfreefromplastic di sejumlah wilayah seperti Pantai Kuk Cituis Tangerang, Banten; Pantai Pandansari, Bantul, Yogyakarta; dan Bali.

Tak hanya memungut, mereka juga memilah sampah plastik berdasarkan mereknya atau melakukan audit merek. “Audit merek dilakukan untuk melihat perusahaan-perusahaan mana saja yang seharusnya bertanggung jawab atas sampah mereka,” ujar Muharram Atha Rasyadi, Jurukampanye Urban Greenpeace Indonesia dalam rilisnya.

Muharram mengatakan masyarakat mengonsumsi plastik sekali pakai karena adanya suplai yang masif dari para produsen seperti produk-produk kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer good). Dengan gencarnya suplai dari perusahaan, maka volume sampah plastik pun menjadi tak terbendung.

Partisipan World Clean Up Day bersama relawan Greenpeace mengumpulkan sampah plastik di Pantai Pandansari, Bantul, Yogyakarta, pada Jumat (15/9/2018). Sampah itu kemudian dipilah dan diteliti mereknya. Foto : Greenpeace Indonesia/Mongabay Indonesia
Partisipan World Clean Up Day bersama relawan Greenpeace mengumpulkan sampah plastik di Pantai Pandansari, Bantul, Yogyakarta, pada Jumat (15/9/2018). Sampah itu kemudian dipilah dan diteliti mereknya | Foto : Greenpeace Indonesia/Mongabay Indonesia

Sementara, hanya 9% sampah plastik yang dapat didaur ulang, 12% dibakar dan 79% berakhir di tempat pembuangan akhir dan lingkungan sekitar. Dari daratan, sampah plastik tersebut pun akhirnya berlabuh di laut lewat beberapa jalan, dan akhirnya mengancam ekosistem laut di mana 94% sampah plastik akhirnya mengendap di dasar laut.

“Korporasi tidak dapat ‘mencuci tangan’ mereka dari krisis polusi plastik dan menyalahkan masyarakat sepanjang waktu. Audit merek kami memperjelas perusahaan mana yang terutama bertanggung jawab atas proliferasi sampah plastik yang mencemarkan alam dan membunuh lautan kita. Jejak merek mereka memberikan bukti yang tak terbantahkan tentang kebenaran ini,” ucap Von Hernandez, Koordinator Global #breakfreefromplastic seperti dikutip dari rilis Greenpeace Indonesia.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau25%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tiga Fakta Tersembunyi  di Balik Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia Sebelummnya

Tiga Fakta Tersembunyi di Balik Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia

Sama-sama Punya Capit, Apa Bedanya Kepiting dan Rajungan? Selanjutnya

Sama-sama Punya Capit, Apa Bedanya Kepiting dan Rajungan?

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.