Anak Bangsa Kembangkan Pamor Ayam Kampung di Pasaran

Anak Bangsa Kembangkan Pamor Ayam Kampung di Pasaran
info gambar utama

Ada yang suka makan ayam? Ayam di Indonesia jenisnya juga bermacam-macam, loh, apalagi di zaman sekarang ini teknologi budidaya dan rekayasa genetika makin berkembang. Ayam banyak sekali ditemukan dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia.

Salah satu jenis ayam yang banyak dibududayakan oleh masyarakat Indonesia tersebut disebut ayam kampung atau nama latinnya Gallus domesticus. Ayam kampung atau ayam lokal banyak diteliti dan dimuliakan untuk dikembangkan menjadi bersifat unggul.

Begitu pula yang dilakukan tim peneliti Laboratorium Genetika dan Pemuliaan, Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada (UGM) sejak 2006. Mereka mengembangkan ayam kampung asal Cianjur dan Sukabumi, yaitu ayam pelung, yang memiliki keunggulan dalam hal resistensi terhadap penyakit dan kualitas daging dan telur yang lebih baik daripada ayam ras.

Masalahnya, ayam kampung pada umumnya memiliki kelemahan yaitu produktivitas yang lebih rendah dibandingkan ayam ras. Makanya, melalui penelitian genetika yaitu persilangan, para peneliti muda tersebut berusaha meningkatkan produktivitas ayam kampung tersebut.

Ayam kampung akan disilangkan dengan ayam ras petelur atau disebut ayam layer. Kalau ayam kampung rata-rata hanya menghasilkan 90 butir telur per tahun produksi, maka ayam ras petelur atau layer ini bisa sampai 260 butir telur.

Wah, terbanyang, kan, kalau ayam kampung dengan kualitas daging dan telurnya, disilangkan dengan ayam ras petelur yang produktivitas telurnya tinggi. Peranakannya pasti unggul sekali, ya! Pamor ayam kampung atau ayam lokal pun bisa mendahului ayam ras yang merupakan ayam peranakan dari luar negeri.

Hasil peranakan antara ayam kampung dengan ayam layer tersebut disebut ayam kamper (akronim dari “kampung-layer”), sehingga Ayam kamper ini sudah merupakan keturunan pertama atau F1. Nah, ayam kamper yang sudah berupa hibrida inilah yang dikembangbiakkan oleh tim peneliti tersebut untuk menghasilkan ayam lokal unggul.

Ayam kamper F1 ini memiliki bobot badan mencapai 911-1100 gram di umur ke 49 dengan produktivitas telur selama 300 hari mencapai 140 butir, sementara produktivitas telur ayam layer dan ayam kampung selama hari yang sama masing-masing sejumlah 195 butir telur dan 56 butir telur.

Agar didapat peranakan berkarakter lebih baik dan bergenetika lebih dominan, penelitian berlanjut dengan melakukan selective breeding dengan tujuan menyeleksi keturunan-keturunan yang resesif. Ayam kamper dengan bobot badan besar, warna bulu coklat keemasan atau golden dan ceker putih diprediksi memiliki nilai ekonomis tinggi.

Nantinya ayam kamper yang lolos seleksi kriteria tersebut disebut golden kamper.

Hasil terbaru penelitian dengan selective breeding oleh tim peneliti yang terdiri dari mahasiswa UGM tersebut menunjukkan bahwa ayam golden kamper yang sudah merupakan hasil peranakan atau F1 ketika disilangkan maka akan menghasilkan ayam golden kamper F2 yang produktivitas dan postur tubuh yang mendekati ayam lokal!

Saat ini, tim peneliti Gama Ayam tersebut telah menghasilkan populasi ayam golden kamper dengan keseragaman genetika masing-masing ayamnya mencapai 86,7%!

Bagiamana, ya, perawatannya, sehingga tumbuh ayam dengan karakter yang bagus? Nah, tim peneliti menggunakan pakan jenis AD II untuk indukan ayam golden kamper dan diberikan pasa pagi dan sore hari.

Di kandang juga disesiakan tempat minum dan lampu sebagai penghangat dengan penerangan yang cukup agar ayam dapat tumbuh dengan baik. Memang, ya, kalau kita memberikan yang terbaik untuk alam, alam akan membalas dengan yang terbaik pula!

Penelitian ini, menurut salah satu mahasiswa yang tergabung dalam tim peneliti Gama Ayam ini, Imroatul Habibah atau yang akrab disapa Iim, dapat memberikan hasil menjanjikan bagi industri pertanian dan peternakan, karena dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional terhadap telur ayam kampung sekaligus ketersediaan bibit ayam petelur, yang awalnya menjadi masalah karena harganya cukup mahal.

Dengan pengembangbiakkan ini, diharapkan dapat menjadi jalan keluar bagi pembudidaya ayam kampung untuk meneladani dan memanfaatkan secara ekonomi, juga meminimalisir ayam-ayam ras dari luar negeri, sehingga produk-produk khususnya pangan kita dapat berdaulat secara utuh di negara kita sendiri!

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini