Menggapai Puncak Monumen Nasional Dengan Cara Baru

Menggapai Puncak Monumen Nasional Dengan Cara Baru
info gambar utama


Sumber:cnnindonesia.com

Mengunjungi Monumen Nasional (Monas, Jakarta, di akhir pekan bisa dikatakan seperti mengantre menuju 'neraka'. Antrean panjang yang bisa memakan waktu sampai beberapa jam, diiringi sengatan mentari yang tak kenal ampun tentu bukan pengalaman yang menyenangkan bagi siapapun.

Untuk mengentaskan masalah ini, Unit Pengelolaan Teknis (UPT) Monas mengatakan pengunjung dapat menikmati bronto skylift untuk menikmati puncak Monas menggunakan alat berat yang disediakan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta.

Bronto Skylift adalah sebuah merek dagang spesialis penyuplai truk hidrolik. Khusus untuk mobil pemadam kebakaran, pabrikan asal Amerika Serikat ini memiliki lima spesifikasi sesuai kebutuhan ketinggian dari dari 20 meter hingga lebih dari 100 meter.


Munjirin menegaskan pengamanan pada setiap wahana cuku aman, karena ada petugas yang menemani dan menggunakan tali pengaman.
"Ada bronto skylift dan flying fox yang bisa dinikmati pengunjung Monas setiap Sabtu dan Minggu," ujar Kepala UPT Monas, Munjirin, seperti yang dikutip dari Antara, Selasa (25/9).

Untuk menikmati bronto skylift pengunjung hanya dapat menikmati di jam tertentu, 09.00-12.00 WIB dan 15.00-17.00 WIB secara gratis.

Selain itu, Munjirin menambahkan, Dinas Perhubungan DKI Jakarta juga akan memamerkan motor gede yang dapat dijadikan ajang swafoto oleh warga.

"Anak-anak pun dapat menikmati fasilitas perlengkapan olahraga gratis, seperti bola, raket, dan net dengan syarat menitipkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik orang tua," ktanya.


Sebelumnya, pihak Monas telah menyediakan fasilitas sepeda gratis berbasis aplikasi yang harus dunduh terlebih dahulu dalam gawai. Tanpa dipungut bayaran, masyarakat ibukota dapat bersepeda mengelilingi kawasan Monas.

Namun sayangnya ada beberapa sepeda yang rusak. Sebagian besar kerusakan disebabkan pengunjung Monas menggunakan keranjang sepeda sebagai kursi anak mereka, meskipun ada juga beberapa sepeda yang posisi joknya terlhat janggal.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini