Pulau Dewata untuk Indonesia dan Dunia

Pulau Dewata untuk Indonesia dan Dunia

Logo IMF © Sumber: Bitcoinist.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Oleh : Agni Luthfi Heryana

Asisten Manajer, Bank Indonesia

(Tulisan merupakan pendapat pribadi, tidak mencerminkan kebijakan institusi tempat penulis bekerja)

“Bapak dan Ibu yang terhormat, kita baru saja mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar. Selamat datang di Bali.”

Pengumuman dari seorang pramugari dengan seragam batik hijau menyadarkan Seno dari tidurnya. Dia tertidur setelah kesal karena pesawatnya terlambat untuk mendarat di bandara tujuan, I Gusti Ngurah Rai. Alasannya sih karena lalu lintas di Bandara I Gusti Ngurah Rai sedang sangat padat.

Padahal Seno memiliki janji untuk bertemu dengan salah satu klien dari India. Namun, tidak ada yang bisa Seno lakukan. Menelepon klien untuk memberitahukan keterlambatan, sepertinya itu hal yang tidak mungkin.

Minta turun di tengah jalan sebelum pesawat mendarat, sepertinya itu lebih tidak mungkin lagi. Tidak ada yang bisa Seno lakukan selain menggumam dalam hati, hingga kesadarannya hilang perlahan-lahan.

Setelah mengambil satu koper President ukuran 24 di conveyor belt, Seno langsung melesat keluar dari bandara. Seorang pria dengan celana panjang hitam dan batik lengan panjang terlihat girang mengangkat sebuah kertas dengan tulisan "Mr. Seno". Seno berlari menuju pria berkulit gelap tersebut dan langsung menarik tangannya tanpa ada introduksi terlebih dahulu.

“Ayo Bli, saya lagi buru-buru.”

“Maaf pak, saya lagi jemput seseorang pak.”

“Jemput Seno kan? Saya Seno! Udah ga usah banyak tanya ayo berangkat.”

Tanpa berpikir panjang, pria tersebut berlari menuju ke mobilnya yang ada di bagian utara lapangan parkir. Malah, sekarang Seno yang ditarik oleh pria yang belakangan diketahui bernama Bli Agung.

“Kita langsung ke lokasi ya pak?”

“Iya, Bli. Cari jalan yang nggak macet. Tumben nih macet banget Bali hari ini, ga kaya biasanya,” ujar Seno.

“Iya, pak. Soalnya banyak delegasi dari negara lain datang.”

“Memang dalam rangka apa, Bli?”

“Beberapa hari lagi kan akan ada rapat tahunan IMF-World Bank, pak. Tahun ini, Indonesia jadi tuan rumahnya. Tuh udah mulai banyak spanduk selamat datang, pak,” Bli Agung menunjuk salah satu spanduk selamat datang untuk para delegasi yang akan datang ke acara Annual Meeting IMF-WB.

Meskipun sambil mengobrol, Bli Agung tetap menyetir mobil dengan penuh konsentrasi dan lihai. Sepertinya, dia sudah hafal setiap jengkal daerah di Bali.

"Bli, kalau ada acara sebesar itu di Indonesia, itu apa nggak menghambur-hamburkan anggaran tuh? Kan pasti biayanya mahal banget. Belum biaya penyelenggaraan, biaya konsumsinya juga, belum biaya pengamanan yang pastinya gede banget, belum biaya lain-lainnya.”

"Iya sih, pak. Biaya yang diperlukan memang pasti sangat besar. Tapi yang namanya pemerintah Indonesia lebih pinter, pak. Pasti ada pertimbangan-pertimbangan tertentu kenapa Indonesia mau jadi tuan rumah acara sebesar ini"

"Emang yang Bli tau kira-kira apa keuntungannya buat Indonesia?"

"Saya sih cuma tau beberapa, Pak. Soalnya, kemarin saya bawa mobil lewat Bank Indonesia Bali di Jalan Letda Tantular, dan banyak pegawai BI yang bagiin brosur tentang kegiatan ini. Di brosur itu sih tertulis banyak pak keuntungannya buat Indonesia.”

"Bli masih nyimpen brosurnya?"

"Masih nih, pak,” sambil menyodorkan brosur ke Seno.

"Bener nih, Bli. Banyak keuntungannya ternyata."

"Iya pak. Kalau diitung-itung lebih banyak untungnya daripada ruginya. Kan pasti banyak orang luar tuh yang datang ke Bali. Itu bisa menggerakkan ekonomi kita, pak. Mulai dari pariwisata, belanja, makanan, sampe transportasi. Saya aja udah dibooking, pak. Untuk penyewaan mobil Camry nanti. Katanya, sih, saya bakalan bawa delegasi dari India, pak. Kalau ga salah namanya Mr. Urjit R. Patel, gubernur bank sentralnya India."

"Wah hebat juga, Bli. Tapi apa bisa pemasukan dari kegiatan itu nutup biaya yang kita keluarin untuk penyelenggaraan, keamanan, dan keperluan lainnya?"

“Iya, itu keuntungan jangka pendeknya, sih, pak. Banyak juga keuntungan jangka panjangnya. Salah satunya, kita jadi punya pengalaman buat menyelenggarakan event yang levelnya internasional, pak. Apalagi Bali gitu, loh. Setelah ada event ini, pasti banyak event-event lain yang bakalan diselenggarakan di Bali,” Bli Agung menjelaskan dengan antusias.

Bli Agung membuka jendela untuk menempelkan uang elektronik ke gardu gerbang tol Bali Mandara. Tujuan mereka saat ini ke kawasan Nusa Dua. Jalanan cukup lengang setelah Avanza berwarna silver itu melewati gerbang tol.

"Ada lagi pak keuntungan jangka panjang lainnya. Nanti juga kan bakalan ada pameran produk-produk Indonesia sebagai rangkaian acara Annual Meeting itu. Nah, dengan begitu kan produk-produk Indonesia bakalan lebih dikenal di mancanegara. Itu bisa naikkin ekspor kita pak. Para pengusaha lokal juga jadi makin sejahtera. Syukur-syukur, mereka pada mau investasi di Indonesia. Kan bisa menyerap banyak tenaga kerja."

"Bener tuh, Bli. Pinter juga ya Bli,”

Telolet telolet... Telolet telolet... Suara dering handphone Seno membuyarkan pembicaraan antara Seno dengan Bli Agung.

"Bentar ya Bli, klien saya dari India nelepon nih."

"Hello Mister Takur, how are you? Main jald hee vahaan jaoonga. Are tumane suna Annual Meeting IMF-WB 2018 Indoneshiya mein? Aap bhaag le sakate hain."

"Ini Bli, klien saya juragan kain dari India. Saya kasih tau ke dia tentang pertemuan tahunan IMF-WB yang nanti akan diselenggarain. Saya suruh dia datang kesini, siapa tau tertarik buat investasi mengembangkan UMKM kain tenun Endek khas Bali."

“Iya, pak, diundang aja kalau punya kolega dari luar negeri. Kan makin banyak orang yang datang makin ramai. Nanti kalau butuh transportasi, saya bisa sediakan pak sama supirnya. Tapi, maaf pak, kita sudah sampai di hotel nih pak."

"Oia Bli, makasih banyak ya. Bli tunggu saja disini sebentar. Saya mau ketemu sama orang dulu. Nanti setelah ini, Bli antar saya ke lokasi pameran produk yang nanti akan diselenggarakan ya? Siapa tau produk saya bisa juga masuk di pameran itu."

"Baik pak, saya tunggu ditempat parkir ya pak.”***

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Suka Jajan? Nih, 3 Pasar Malam Terbaik di Bali! Sebelummnya

Suka Jajan? Nih, 3 Pasar Malam Terbaik di Bali!

Mengenal Tradisi 'Jimpitan' di Tengah Pandemi, Mungkin Bisa Jadi Solusi Selanjutnya

Mengenal Tradisi 'Jimpitan' di Tengah Pandemi, Mungkin Bisa Jadi Solusi

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.