Setelah Juanda, Jawa Timur Akan Punya Bandara Internasional Kedua

Setelah Juanda, Jawa Timur Akan Punya Bandara Internasional Kedua

Airport © unsplash.com

Kementerian Perhubungan memberi sinyal positif untuk mengubah Bandara Banyuwangi menjadi bandara internasional. Berbagai pemangku kepentingan telah duduk bersama membahas persiapan tersebut.

“Alhamdulillah, belum lama ini kami semua sudah diajak rapat di kantor Kemenhub yang dihadiri seluruh stakeholder, termasuk direksi PT Angkasa Pura II, pihak imigrasi, dan Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav),” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Selasa, 11 September 2018.

Dalam rapat yang dipimpin Direktur Bandar Udara Kemenhub Polana B Pramesti tersebut, merumuskan langkah-langkah percepatan untuk mengubah Bandara Banyuwangi menjadi bandara internasional. "Respon cepat yang dilakukan Kemenhub tersebut menunjukkan komitmen nyata pemerintah pusat untuk terus mendorong pengembangan daerah serta menciptakan pertumbuhan-pertumbuhan ekonomi baru di daerah," ujar Anas.

Bandara Banyuwangi | Tribun Banyuwangi
Bandara Banyuwangi | Tribun Banyuwangi


Menurut Anas, Direktorat Bandara Udara Kemenhub akan segera mengusulkan Bandara Banyuwangi menjadi bandara internasional setelah semua persyaratan/rekomendasi terpenuhi dan sudah dilakukan verifikasi lapangan.

"Diharapkan tanggal 22 September 2018 akan dilakukan verifikasi oleh Kemenhub atas semua syarat yang dibutuhkan. Sehingga saat perhelatan Annual Meeting IMF-World Bank, Kemenhub menargetkan Bandara Banyuwangi sudah menjadi bandara internasional," kata Anas.

Untuk itu, sebelum proses verifikasi sejumlah pihak segera melakukan persiapan. Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi Kusiyadi mengatakan, PT Angkasa Pura II selaku operator Bandara Banyuwangi akan merenovasi gedung VIP menjadi terminal internasional sebelum dibangun permanen. AP II juga segera mengajukan Ijin Kawasan Pabean kepada Kantor Bea Cukai (Custom).

"Karena Ijin Kawasan Pabean merupakan persyaratan dalam penetapan menjadi bandara internasional. Terkait dengan fasilitas Custom, Immigration, dan Quarrantine (CIQ), AP II siap memfasilitasi sarana yang dibutuhkan, namun SDM tetap dari pihak kementerian," jelas Kusiyadi. Sementara itu, Executive General Manager Bandara Banyuwangi Anton Marthalius antusias atas percepatan rencana tersebut.

Menurut dia, respons cepat yang dilakukan Kemenhub atas rencana tersebut berdasarkan kinerja positif yang berhasil dicatatkan oleh Bandara Banyuwangi, di mana rata-rata penumpang mencapai 1.400 orang per hari. Selain itu, kata Anton, Bandara Banyuwangi menjadi bandara internasional tidak hanya karena berkaitan dengan adanya Annual Meeting International Monetary Fund World Bank (IMF-WB) tetapi juga karena adanya permintaan dari maskapai untuk melayani rute internasional.

"Citilink ingin membuka rute Kuala Lumpur - Banyuwangi pada akhir 2018 ini. Bahkan, sudah mengajak biro travel Malaysia menyiapkan paket wisata untuk wisatawan Malaysia," pungkas Anton.

Pilih BanggaBangga82%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang12%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau6%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Pulau Seribu Memiliki Destinasi Wisata Pulau Resort Dan Semi Resort Sebelummnya

Pulau Seribu Memiliki Destinasi Wisata Pulau Resort Dan Semi Resort

Anak Garuda Tambah Rute Mancanegara dari Pulau Dewata Selanjutnya

Anak Garuda Tambah Rute Mancanegara dari Pulau Dewata

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.