Desa Wisata Ini Berambisi Untuk Melestarikan Budaya Asli

Desa Wisata Ini Berambisi Untuk Melestarikan Budaya Asli
info gambar utama

Sekumpulan pria mengenakan kasatriyan tradisional Jawa menyanyikan lagu yang dikenal dengan sebutan geguritan sebuah ekspresi harapan dan pujian kepada Tuhan. Ritual tersebut berlokasi di sumber air alami bernama Ngancar di desa Purwoharjo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

Kendi berisi air yang dibawa oleh sekumpulan pria tersebut |
info gambar

Mereka mengambil sedikit air dan menuangkannya ke dalam sebuah kendi dan kemudian membawa kendinya, bersama bunga-bungaan, dan makanan untuk persembahan, menuju puncak bukit Kleco, 700 meter di atas permukaan laut. Kemudian prosesi tersebut, berlanjut dengan warga lokal dan wisatawan menyantap nasi tiwul dan sayur rebus. Penampilan menunjukkan tari jathilan, musik tradisional, pembacaan puisi, dan tari-tarian lainnya dipersembahkan untuk menghibur warga lokal dan wisatawan.

Tari Jathilan |
info gambar

"Prosesi ini merupakan bentuk apresiasi terhadap Tuhan sebagaimana sumber air Ngancar terus memberikan air sepanjang tahun untuk melengkapi kebutuhan warga sekitar bukit Kleco," ucap penjaga sumber air Ngancar, seperti yang dikutip dari Jakarta Post.

Warga lokal juga membantu menjaga sumber air dengan menanam pepohonan di bukit Kleco. Wargilan menyebutkan siapapun yang menebang pohon harus menanam pohon baru untuk menggantinya.

Puncak Kleco | Foto: Bambang Muryanto / Jakarta Post
info gambar

Wahjudi Djaja, seorang inisiator inisiatif pariwisata Puncak Kleco, menyebutkan bahwa warga lokal telah turun temurun melakukan prosesi tersebut secara sederhana sejak 1942, namun dua tahun terakhir dibuat lebih meriah. Ide tersebut muncul untuk mempromosikan Purwoharjo sebagai sebuah desa wisata yang dikelola oleh warganya, dengan bukit Kleco sebagai daya tarik utama.

Pengunjung dapat menikmati pemandangan dari puncak bukit Hill, melihat ke Sungai Tinalah yang mengaliri pepohonan dan desa, hijaunya sawah, dan lanskap bukit Menoreh.

Pangeran Diponegoro, salah satu pahlawan nasional Indonesia, disebut-sebut pernah singgah di puncak Kleco saat gerilyanya pada tahun 1820. Ia dipercaya mengerjakan strateginya untuk memerangi koloni Belanda saat singgah di puncak ini.

"Puncak Kleco menjadi situs wisata dengan kombinasi menarik dari pemandangan panorama dan latar belakang sejarahnya," sebut Wahjudi.

Ia menyebutkan bahwa desa wisata tidak hanya akan meningkatkan pendapatan lokal, namun juga sebuah gerbang untuk menghidupkan situs sejarah serta melestarikan budaya dan tradisi lokal.

Wahjudi mengutarakan kecemasannya terhadap modernisasi yang diadakan di Kulonprogo, tidak sedikit karena konstruksi bandara yang baru, Bandara Internasional Yogyakarta Baru. Ia cemas jika konsumerisme akan mematikan identitas budaya dari warga di kawasan tersebut.

"Jika budaya aslinya tertinggal, maka apalagi yang bisa dibanggakan?" ungkap Wahjudi mengutarakan kecemasannya.

Responnya adalah dengan hadirnya desa wisata di 4 kawasan, Nanggulan, Kalibawang, Samigaluh, dan Girimulyo. Nama dari keempat kawasan tersebut telah digabungkan menjadi Dewi Nawangsarim karakter cerita rakyat Jawa, seorang setengah dewi.


Sumber: Jakarta Post

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini