Kejutan! Ratusan Spesies Anggrek Baru Ditemukan di Tempat ini, Banyak yang Tak Ada di Tempat Lain

Kejutan! Ratusan Spesies Anggrek Baru Ditemukan di Tempat ini, Banyak yang Tak Ada di Tempat Lain

Ilustrasi Anggrek © unsplash.com

Sejumlah peneliti anggrek dari Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, Provinsi Bengkulu berhasil menemukan dan mendokumentasikan 160 spesies anggrek di wilayah itu. "Ratusan anggrek tersebut ditemukan melalui proses observasi yang telah dilakukan sejak 2012, dan masih berlanjut hingga sekarang," kata Atra Romeida, salah seorang peneliti anggrek di Bengkulu, Rabu (26/9).

Adanya penemuan ratusan spesies anggrek ini menjadi kejutan tersendiri bagi para peneliti anggrek karena akan menambah potensi kekayaan alam hutan Bengkulu. "Beberapa anggrek itu, ada yang tercatat endemik. Artinya, hanya tumbuh di habitat itu saja, tidak di tempat lain," ungkapnya.

Untuk membudidayakan hasil temuan spesies anggrek, para peneliti bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat telah menyiapkan lokasi taman konservasi plasma nutfah dan pengembangbiakkan massal melalui teknik kultur jaringan tanaman. Kultur jaringan atau in vitro merupakan kegiatan menjaga dan menumbuhkan jaringan, serta organ tanaman pada kondisi aseptik. Melalui teknik ini, angka populasi tanaman bisa ditingkatkan secara cepat.

Salah satu yang ditemukan | flickr.com
Salah satu yang ditemukan | flickr.com

"Spesies yang kami kembangbiakkan melalui teknik ini adalah anggrek pensil (Papillionanthe hookerina), tanaman anggrek endemik dari Danau Dendam Tak Sudah di Kota Bengkulu," ujar dosen bergelar doktor yang mengajar mata kuliah Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman itu.

Atra menjelaskan, di habitat aslinya angka harapan tumbuh satu biji anggrek pensil hanya berkisar 0,1-1 persen saja. Sedangkan melalui teknik kultur jaringan, satu biji anggrek pensil dapat menghasilkan 10 ribu benih baru.

"Hal ini karena biji anggrek pensil hanya berisi embrio, tanpa ada cadangan makanan. Melalui kultur jaringan, populasi aggrek dapat ditingkatkan," jelasnya.

Dengan di temukannya 160 spesies anggrek di Bengkulu dan pengembangbiakan melalui kultur jaringan, tanaman hias ini berpeluang menjadi bisnis ekspor yang menjanjikan. Tanaman anggrek ini merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi dan prospektif untuk dibudidayakan.

"Karena itu, upaya pemuliaan menjadi poin penting yang harus dilakukan terkait pelestarian spesies tanaman anggrek, baik itu skala nasional ataupun daerah," ujarnya.

Sumber : Antara

Pilih BanggaBangga83%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang17%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Atlet Asian Para Games: Kami Si Para Penembus Batas Sebelummnya

Atlet Asian Para Games: Kami Si Para Penembus Batas

Peringati Hari Gunung Sedunia, Mapala UMN Terapkan Konsep Less Waste Pada Pendakian Perdananya Selanjutnya

Peringati Hari Gunung Sedunia, Mapala UMN Terapkan Konsep Less Waste Pada Pendakian Perdananya

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.