Asian Para Games: Belajar Dari 8000 Sukarelawan

Asian Para Games: Belajar Dari 8000 Sukarelawan
info gambar utama

Bus yang mengangkut atlet bulu tangkis Asian Para Games terlihat berhenti di gerbang masuk Gelora Bung Karno (GBK) di Senayan, Jakarta Pusat, Senin siang, Ricky, 22 tahun, seorang sukarelawan untuk divisi transportasi tempat itu, dan tujuh rekannya , mendekati bus dan berdiri di pintu dengan senyum hangat.

"Ada yang bisa dibantu?" tanya Ricky pada salah satu atlet di bus, yang berada di kursi roda.

Atlet itu kemudian mengangguk menyetujui tawaran bantuan dan kemudian Ricky dengan hati-hati membantunya dengan mendorong kursi rodanya keluar dari bus ke tanah. Setelah mengucapkan terima kasih, sang atlet kemudian melanjutkan untuk mengarahkan kursi rodanya ke ruang atlet sendiri, tanpa bantuan lebih lanjut.

"Selalu bertanya dulu" adalah hal yang paling penting yang harus dipahami oleh para sukarelawan, tidak peduli seberapa besar mereka ingin cepat membantu para atlet.

“Kami telah dilatih untuk bertanya terlebih dahulu sebelum menawarkan bantuan apa pun. Bantuan yang berlebihan takutnya justru menyakiti perasaan mereka. Mereka tidak ingin dikasihani, dan dari apa yang saya lihat mereka semua adalah atlet yang sangat kuat dan independen,” kata Ricky dikutip dari Jakarta Post.

Bekerja pada shift pagi dari jam 6 pagi sampai jam 2 siang, Ricky dan relawan lainnya harus siap berdiri di gerbang untuk ratusan atlet bulutangkis yang datang ke stadion untuk melakukan latihan atau berkompetisi.

Untuk Para Games 2018,Indonesian Asian Para Games Organizing Committee (INAPGOC) telah mengerahkan 8.000 sukarelawan yang telah dilatih untuk membantu atlet difabel. Dari 8.000 relawan, 300 telah dilatih sebagai koordinator relawan oleh Kementerian Sosial. Koordinator ini kemudian ditugaskan untuk melatih sisa sukarelawan.

“Relawan ini memiliki karakteristik yang berbeda dari rekan-rekan mereka di Asian Games. Para sukarelawan harus belajar bahwa menampilkan terlalu banyak empati dapat menjadi kontraproduktif,” kata direktur umum rehabilitasi sosial, Edi Suharto.

Setiap sukarelawan telah diberikan pelatihan dalam keterampilan bahasa isyarat dasar dan keterampilan teknis lainnya untuk membantu orang-orang dengan berbagai macam kekurangan.

Atikah Safirah, 22, seorang sukarelawan lain yang ditugaskan di tempat tribun bulutangkis, mengatakan bahwa dia telah belajar banyak dengan menjadi sukarelawan.

"Saya belajar bahwa orang-orang difabel mampu melakukan banyak hal, dan mereka kuat, mandiri dan cerdas, sama seperti kita semua," katanya.

Banyak atlet memuji para sukarelawan dan fasilitas di Para Games, yang telah membantu mereka mengakses lokasi di area sekitar.

“Area toilet, bus, dan para relawan sangat baik. Saya dapat dengan mudah pergi dan menggunakan semuanya. Ini adalah tempat yang sangat ramah bagi para difabel. Para relawan selalu siaga dan siap,” kata Kouhei Kobayashi, 39 tahun, atlet asal Jepang, seorang shuttler yang berkompetisi dalam kategori kursi roda tunggal pria, kata.

Sukarelawan membantu penonton penyandang difabel | Foto: Seto Wardhana / Jakarta Post
info gambar

Untuk penonton yang juga penyandang difabel, fasilitas dan tempat telah dipermudah untuk dapat mengakses segala venue pertandingan.

Kristin Prasetyaningtyas, seorang guru di Dwituna Rawinala, sekolah bagi penyandang difabel di Jakarta Timur yang menemani sembilan muridnya mengunjungi pertandingan bulutangkis pada hari Minggu, mengatakan bahwa mereka sangat menikmati permainan tersebut.

“Para sukarelawan itu hebat, tapi mungkin mereka perlu berbicara lebih jelas dan lantang sehingga siswa tunanetra saya akan tahu apa yang terjadi di lapangan,” kata Kristin.

Sumber: Jakarta Post

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini