Asian Para Games 2018: Terimakasih Para Atlet

Asian Para Games 2018: Terimakasih Para Atlet
info gambar utama

Selama tujuh hari terakhir, tuan rumah Indonesia dan Asia telah menikmati “Inspiring Spirit and Energy of Asia” dalam Para Games ketiga yang pernah diadakan oleh benua Asia. Dan ketika acara yang telah berjalan selama seminggu tersebut berakhir hari ini, memori para wanita dan pria yang menantang kekurangan fisik mereka untuk mencapai keberhasilan dalam acara olahraga akan hadir selamanya.

Pujian untuk semua atlet yang berpartisipasi untuk memenuhi harapan bangsa, terlepas dari perolehan medali akhir yang terus mengungkapkan kesenjangan yang lebar dalam pengembangan olahraga di seluruh Asia. Sekali lagi, Tiongkok telah terbukti menjadi pusat terkuat di wilayah Asia dengan koleksi 161 medali emas, 84 perak dan 55 perunggu. Korea Selatan, Iran, Jepang, dan Uzbekistan masing-masing berada di tempat kedua, ketiga, keempat dan kelima.

Atlet Indonesia meniru keberhasilan rekan-rekan mereka yang berkompetisi di Asian Games, mengumpulkan 30 medali emas, 41 perak, dan 46 perunggu untuk menyelesaikan posisi keenam secara keseluruhan. Pencapaian tersebut jauh melampaui target 16 emas yang ditetapkan oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo.

Awal yang baik: Pemain bulutangkis Indonesia merayakan kemenangan mereka di Asian Para Games 2018 selama final tim bulu tangkis pria di Istora Senayan pada hari Minggu. Indonesia memenangkan medali emas pertama dengan mengalahkan Malaysia 2-1. (The Jakarta Post / Seto Wardhana)
info gambar

Hasilnya, entah bagaimana, dapat diprediksi, terutama karena Indonesia selesai pertama di ASEAN Para Games tahun lalu di Kuala Lumpur. Pertunjukan yang terpuji memberi bangsa ini alasan untuk berbahagia terhadap kesempatan yang terjadi di tengah gempa bumi dahsyat dan tsunami di Sulawesi Tengah yang telah merenggut 2.000 nyawa dan membuat ribuan orang mengungsi.

Baru-baru ini, gempa menghantam Bondowoso di Jawa Timur, menyebabkan tiga orang tewas. Gempa bumi juga dirasakan di Bali, di mana Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF) - Bank Dunia 2018

Seperti halnya pertemuan di Bali, Asian Para Games adalah bukti kemampuan Indonesia untuk menyelenggarakan acara kelas dunia. Indonesia Asian Para Games Organizing Committee (INAPGOC) telah dipersiapkan untuk mengajak orang-orang agar menyaksikan atlet terbaik di benua Asia berjuang untuk kejayaan. Tempat untuk olahraga populer seperti bulutangkis, renang, atletik, dan kursi roda basket relatif penuh, tetapi tempat untuk olahraga lain, seperti mangkuk rumput, hampir kosong.

INAPGOC telah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Jakarta dan Kementerian Sosial untuk mengajak mahasiswa dan komunitas penyandang difabel ke lokasi pertandingan tersebut. Keputusan untuk mengadakan upacara penutupan di Stadion Madya di dalam kompleks olahraga Gelora Bung Karno, yang jauh lebih kecil dari Stadion Utama di dekatnya, bisa jadi sebagai antisipasi rendahnya jumlah penonton.

Meskipun Stadion Madya memiliki kapasitas 5.000 kursi, upacara penutupan diharapkan akan sama meriahnya dengan pembukaan gala. Penyanyi terkemuka seperti Judika dan Tunanetra Zizi Raziq, serta kelompok band perempuan asal Korea Selatan AOA siap untuk memeriahkan malam. AOA asal Korea Selatan ditunjuk sebagai duta kehormatan Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018 dan Paralympic Games.

Kita juga dapat membantu pekerjaan duta besar, dengan mempromosikan persamaan hak bagi penyandang difabel, termasuk para atlet para kaita. Setelah berhasil menyelenggarakan Asian Para Games, tanggung jawab kita berikutnya adalah memastikan kesetaraan untuk semua yang ada.

Sumber: Jakarta Post

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini