Mitologi, Kisah & Kepercayaan Kuno Tentang Gempa Bumi di Indonesia

Mitologi, Kisah & Kepercayaan Kuno Tentang Gempa Bumi di Indonesia
info gambar utama

Indonesia adalah negara yang dilewati Cincin Api Pasifik atau biasa disebut Ring of Fire, sebutandaerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Daerah yang dilewati oleh Cincin APi Pasifik ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km. Sebab itulah Indonesia sering mengalami guncangan karena gempa bumi ataupun gunung berapi yang mengalami erupsi.

Cincin Api Pasifik pastinya sudah ada dari ribuan tahun lalu, bahkan mungkin jutaan tahun lalu saat benua terbentuk. Tentunya hal ini juga dirasakan oleh nenek moyang atau siapapun yang menghuni daratan Indonesia pada masa lalu. Orang jaman dulu yang belum mengenal ilmu pengetahuan tentang geologi, juga akan menyangkut pautkan dengan mitos, kisah atau legenda pada masa itu.

Indonesia yang memiliki banyak sekali kelompok masyarakat dengan budaya yang berbeda-beda juga memiliki mitos dan kepercayaan yang berbeda-beda, begitu juga dengan mitos adanya gempa. Berikut adalah beberapa mitos, kepercayaan dan kisah tentang gempa bumi di Indonesia.

.

Babad Tanah Bali

sumber : alitmd
info gambar

Dalam mitos masyarakat lokal Bali, memiliki makhluk mitologi berwujud kura-kura raksasa yang bersemayam di dasar bumi dan menjadi perlambang dari magma di bawah gunung berapi, yang bernama Bedawangnala. Ia diikat oleh dua ekor naga bernama Anantabhoga dan Basuki. Anantabhoga melambangkan tanah, sedangkan Basuki merupakan simbol air. Menurut Zamidra dalam bukunya Makhluk Mitologi Sedunia (2012), jika Bedawangnala menggeliat dan memicu erupsi gunung berapi, Anantabhoga juga ikut bergerak. Inilah yang dipercaya menyebabkan gempa bumi. Dan apabila pergerakan Bedawangnala semakin aktif, giliran Basuki yang terusik dan turut bergerak pula. Maka, terjadilah gelombang air dari laut atau yang kemudian dikenal sebagai tsunami.

.

Kisah di Tanah Jawa (bagian Timur)

sumber : sidomi
info gambar

Pada tahun 1256 Saka atau 1334 masehi, Jawa timur pernah mengalami gempa bumi di Jawa Timur. Serat Pararaton, sebuah kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi, memaknai gempa bumi itu sebagai penanda perubahan, bahwa akan lahir seorang calon raja besar. Dan memang, Hayam Wuruk —bersama Mahapatih Gajah Mada— nantinya menjadi raja yang berhasil membawa Kerajaan Majapahit meraih kejayaan, bahkan sebagai kerajaan terbesar pada masa itu.

.

Riwayat Kerajaan Pajajaran

sumber : kekayaan nusantara blogspot.com
info gambar

Dari Babad Galuh, naskah kuno dari Kraton Kasepuhan Cirebon, penobatan Prabu Siliwangi pada tahun 1482 bersamaan dengan terjadinya gempa bumi yang konon sebagai sambutan alam bahwa raja baru yang akan membawa kemajuan telah hadir.

.

Syair Kuno di Aceh

sumber : the jakarta post
info gambar

Di daerah Aceh, yang beberapa kali dilanda gempa bumi dan tsunami selama perjalanan panjang riwayatnya. Kisah panjang yang dialami oleh masyarakat Aceh melahirkan kearifan lokal yang sangat bermanfaat melalui hikayat atau syair yang beberapa di antaranya memberikan semacam panduan bilamana terjadi bencana alam.

Aceh sering diguncang gempa besar dan smong (berarti tsunami, tapi dapat bermakna sebenarnya lebih dari itu), termasuk pada era pemerintahan Sultan Iskandar Muda tahun 1621, kemudian 1907, 1964, serta 2004 lalu. Dari pengalaman itulah tercipta kearifan lokal berupa syair seperti Syair Nandong.

Syair Nandong berisi tentang kearifan lokal masyarakat Pulau Simeulue dalam menghadapi peristiwa smong (tsunami), yang dilafalkan turun-temurun sejak berabad-abad lalu. Syair ini di antaranya berbunyi:

anga linon ne mali
(jika gempanya kuat)
uwek suruik sahuli
(disusul air yang surut)
maheya mihawali fano me singa tenggi
(segeralah cari tempat yang lebih tinggi)
ede smong kahanne
(itulah tsunami namanya)

--

Diambil dari berbagai sumber seperti Tirto.id, Wikipedia, dan lain-lain

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini