MASYARAKAT MAJEMUK DAN TRADISI BUDAYA INDONESIA

MASYARAKAT MAJEMUK DAN TRADISI BUDAYA INDONESIA
info gambar utama

Beberapa waktu terakhir belakangan ini sering terdengar berita pembubaran dan penolakan kegiatan tradisi larung laut oleh sekelompok golongan yang tentu mengatasnamakan agama islam. Seperti pembubaran tradisi larung sesasji di laut di Parangkusumo, Bantul Yogyakarta beberapa waktu lalu. Yang lebih menarik lagi adalah penolakan berupa spanduk dan banner berisi penolakan tradisi larung laut di Cilacap, Jawa Tengah. Persoalan yang dimunculkan akan adanya budaya larung laut tersebut tentunya adalah sebuah kemusyrikan yang menyekutukan Tuhan YME. Membingungkan ternyata apabila mengaitkan budaya leluhur dengan dengan keyakinan agama yang dipegang teguh. Hal ini tentu membuat geram sebagian besar masyarakat Indonesia yang notabene masih menjunjung tinggi adat istiadat yang mereka miliki.

Sebagai warga negara Indonesia di satu sisi kita berada pada lingkungan masyarakat budaya dan segala adat-istiadanya. Di satu sisi yang lain sebagai manusia Indonesia juga yang mengamalkan nilai-nilai Pancasila, kita juga sekaligus sebagi makhluk yang bertuhan dengan memeluk salah satu agama/keyakinan. Keyakinan agama dan budaya istiadat sebenarnya keduanya adalah jatidiri setiap manusia Indonesia tanpa bertentangan satu sama lain. Terbukti dari tradisi kebudayaan Indonesia bersumber pada nilai-nilai ketuhanan itu sendiri.

Menyikapi hal yang akhir-akhir ini sering terjadi tentang penolakan-penolakan tradisi budaya tentunya sangat meresahkan bagi keberlangsungan kehidupan bangsa. Maka yang perlu dipekikkan kembali yaitu kesadaran kita sebagai masyarakat yang majemuk. Menurut Furnivall, Masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai ragam kelompok golongan yang memiliki kebudayaan sendiri-sendiri, dengan demikian berbeda pula dalam agama, bahasa dan adat-istiadat. maka kita dituntut untuk saling menghargai dan bahkan tumbuh rasa memiliki terhadap setiap ragam kebudayaan walaupun bukan satu daerah atau satu agama.

Apabila kita runut dari akar kebudayaan maka dari kabudayaan itu sendiri berasal dari buddhayyah berasal dari kata jamak buddhi yaitu buah akal-budi manusia (Soerjono Soekanto, 1990) . Maka kebudayaan Indonesia tentu bersumber dari leluhur di tanah nusantara yang konon sudah terbentuk ratusan tahun yang lalu. Berawal dari masa kejayaan kerajaan-kerajaaan Hindu-budha hingga kehidupan masyarakat di masa kerajaan-keraajaan Islam. Perkembangan agama Islam atau Islmaisasi di pulau jawa ole wali songo pun masuk melalui nilai-nilai kebudayaan yang masih lekat dengan ritual Hindu-Budha waktu. Salah satunya memalui kesenian wayang dan tembang-tembangan yang digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai metode dakwah. Melalui akulturasi tersebut munculah kebudayaaan-kebudayaan islam jawa yang lebih bernilai keislaman. Sampai detik ini kita masih dapat melihat akulturasi budaya adat dengan nilai-nilai agama islam walaupun dengan coraknya masing-masing di setiap daerah. Kalau di melayu Riau dibuktikan dengan syair-syair dan hikayat-hikayat serta di jawa terdapat upacara-upacara adat seperti grebeg maulid, sekaten dan gunungan.

Berkaitan juga dengan upacara larung sesaji di beberapa daerah di nusantara maka hal tersebut juga merupakan hasil budidaya leluhur memaknai kehidupanya dengan alam semesta. Larung sesaji di Indonesia merupakan bentuk sedekah alam yang dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rejeki terutama dalam bentuk hasil bumi bagi masyarakat. Selain itu, upacara ini juga dimaksudkan sebagai bentuk permohonan rejeki dan keselamatan. Tdak adapun yang menyimpang dan selaras dengan nilai-nilai keagamaan apapun itu. Maka dapat kita lihat kebudayaan Indonesia dari sejak zaman nenek moyang memang berasasakan nilai-nilai keagamaaan baik itu Hindhu, Budha atau Islam. Sudah sejatinya kehidupan berbangsa dan berbudaya di Indonesia memang seharusnya selaras dengan keyakinan-keyakinan yang dipegang oleh masing-masing individu masyarakat Indonesia. Mengerti dan menyadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan berbudaya. Maka apa yang terjadi saat ini tentang penentangan-penentangan tradisi budaya yang sudah lahir dari leluhur tentu tidak bisa dibenarkan.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini