Mari Belajar Empati Dari Pasukan Oranye

Mari Belajar Empati Dari Pasukan Oranye
info gambar utama

Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Jakarta, sering disebut sebagai "pasukan oranye" karena seragam oranye mereka yang khas, mengumpulkan dana sebesar Rp 26.143.000 untuk korban gempa dan tsunami Sulawesi Tengah.

Uang itu dikumpulkan dari hasil penjualan barang dagangan seperti pin, stiker, topi dan baju, yang dijual oleh pasukan oranye di bawah tim yang dijuluki sebagai Forum Jakarta Elit Squad.

Tim Pasukan Oranye saat menyerahkan uang yang berhasil mereka kumpulkan untuk korban bencana Sulawesi Tengah | Foto: Jessi Carina / Jakarta Post
info gambar

"Kami semua mengumpulkan dana dulu buat bikin pin, topi dan baju. Lalu kami serahkan (jual) ke wilayah seharga Rp 5.000. Bahkan ada yang ngasih Rp 10.000 ada juga yang Rp 100.000," kata Novita salah satu anggota tim pada hari Jumat sebagaimana dikutip oleh kompas.com, menambahkan bahwa barang didistribusikan di setiap kecamatan di kota.

Novita mengaku barang yang paling laku yakni pin, ia bersama teman-temannya berhasil menjual seribu keping.

Pin tersebut dijual kesesama anggota PPSU lain di setiap kelurahan, hingga beberapa masyarakat yang berminat.

"Kita memanfaatkan memang teman-teman PPSU yang ada di seluruh DKI bahwa ada teman kita dari palu yang terkena musibah, dan mereka merasa terpanggil karena musibah," kata Deni seorang anggota PPSU.

Dia mengatakan bahwa barang-barang itu dijual dengan harga terjangkau, mulai dari Rp 5.000. Dia menambahkan bahwa banyak pembeli membayar lebih dari harga yang ditentukan karena mereka ingin membantu para korban.

Barang tersebut, kata Novita, dijual hanya selama seminggu, dari 3 Oktober hingga 10 Oktober. Uang hasil penjualan itu kemudian dibawa oleh anggota forum itu ke pos bantuan Jakarta.

Anggota pasukan oranye lainnya, Dani, mengatakan meskipun pasukannya tidak memiliki banyak uang, mereka berempati dengan para korban dan orang yang selamat dan ini menginspirasi mereka untuk ingin membantu meringankan kesulitan mereka dengan menyumbang uang.

"Dalam tujuh hari kita berhasil mengumpulkan jumlah uang segitu. Kita bergerak di luar jam kerja sehingga tidak mengganggu kinerja. Meskipun kami hanya mampu mengumpulkan sejumlah uang ini, kami berharap kami dapat membantu mereka melewati cobaan ini," ungkap Deni.


Sumber: Jakarta Post | Warta Kota

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini