BTS, Blackpink, dan Gelombang Baru Korea

BTS, Blackpink, dan Gelombang Baru Korea
info gambar utama

Beberapa minggu lalu, saya tak sengaja mendengarkan sebuah lagu yang menghentak dengan aransemen musik modern, yang terdengar sangat sangat atraktif. Saya kemudian tak ingat lagi lagu tersebut hingga 3 hari lalu saat anak saya yang belum genap berusia 6 tahun memainkan lagu itu di Spotify dan menghubungkannya ke audio-system di mobil. "Nah..yes...lagu ini lagi" pikir saya. Saya baru sadar ternyata itu lagu Korea, dengan judul "Idol" yang dinyanyikan oleh BTS, sebuah boyband.

Saya menyempatkan diri untuk googling boyband tersebut dan langsung mendapati sebuah artikel yang terbit bulan Mei 2019 di Billboard.com dengan judul yang mengagetkan saya; "How BTS Took Over the World". What? Take over the world?

Saya teruskan mencari informasi dengan grup ini di Youtube, dan kekagetan saya terjawab. Saya tak pernah menyangka (saya bukan penggemar Kpop maupun film/drama Korea), BTS ini sudah konser di seluruh dunia, termasuk AS dan Eropa, dan selalu penuh, dan selalu dielu-elukan oleh para penggemarnya yang orang setempat. Konon katanya, penggemar mereka di AS dan Eropa juga sama dengan penggemar mereka di Asia yang ..menunggu kedatangan mereka selama berjam-jam di bandara, pun menangis bahagia hanya dengan sekedar melihat wajah mereka langsung, apalagi jika tangan sang idola melambai-lambai.

Ah...berarti benar. Mereka sudah taking over the world.

Fans BTS berkemah di luar Staples Center, LA, menunggu hari tibu untuk konser sang idola | ABC7 News
info gambar


Saya cukup terlambat tahu, BTS (Beyond The Scene) menjadi buah bibir dunia. Dengan dukungan puluhan juta penggemarnya yang menamakan diri sebagai A.R.M.Y (Adorable Representative MC for Youth), grup yang memulai debutnya tahun 2013 ini berhasil menembus tangga lagu AS di tahun 2017 dengan lagu berjudul “DNA”.

Mereka pun menyabet Top Social Artist Award pada Billboard Music Awards di tahun yang sama dengan mengalahkan artis pop terkenal, Justin Bieber, yang menjadi langganan pemenang kategori tersebut selama enam tahun berturut-turut. Tak hanya itu, BTS menjadi satu-satunya boyband K-Pop yang diundang tampil di perhelatan musik terkemuka, American Music Awards tahun 2017. Jadi, bisa dibayangkan seberapa besar popularitas grup BTS di dunia.

Selain BTS, yang juga sedang sangat menjadi buah bibir adalah Blackpink. Girlband K-Pop ini bahkan diramalkan akan melebihi prestasi BTS.

Terlalu banyak yang harus dibahas tentang dunia K-Pop. Intinya, BTS dan Blackpink tentu bukan yang pertama.

Saya kemudian ingat ketika penyanyi Psy dengan lagunya berjudul “Gangnam Sytle” pada tahun 2012 berhasil bertengger di British Official Singles Chart, peringkat ke-2 di Billboard’s Hot 100 di AS, dan merajai anak tangga musik di lebih dari 30 negara. Lagunya begitu mendunia, hingga mainan mobil remote dan robot anak saya pun berbunyi lagu itu ketika tombol "on" dinyalakan.

BTS, Blackpink, dan Psy tak sendirian. Sama sekali tak sendirian. Popularitas global mereka juga dinikmati oleh boyband maupun girlband Korea seperti EXO, Big Bang, ShiNee, Super Junior, Girl’s Generations dan masih banyak lagi.

Konser Girl's Generation yang membuat stadion penuh | allkpop.com
info gambar

Dunia musik K-Pop pun juga tak sendiri berjalan menjelajah dunia. Popularitas Korean Wave (K-Wave) atau secara harfiah bisa diartikan sebagai 'Gelombang Korea" yang terdiri dari Korean Pop (K-Pop), film, serial TV hingga budaya Korea Selatan kini telah menjamah hampir seluruh pelosok dunia. Selain itu, K-Wave juga ditopang dengan produk-produk buatan Korea mulai dari kapal raksasa, otomotif, smartphone, hingga kosmetik, dengan kualitas sangat baik, yang juga merambah ke jutaan rumah di seluruh dunia.

Dari menaklukkan Jepang, Asia Selatan dan Asia Tenggara sejak pertengahan 1990an, K-Wave atau Hallyu ini masuk ke wilayah-wilayah lain di seluruh dunia. "Hallyu," yang diterjemahkan menjadi "aliran Korea" menjadi begitu besar sehingga dianggap sebagai ekspor utama Korea Selatan. Mengekspor pariwisata dan budaya populer selama ini selalu diasosiasikan menjadi domain negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris Raya (dan Eropa), juga Jepang. Tapi kemudian, Korea yang awalnya tidak banyak diketahui di luar Semenanjung Korea (dan sebagian Asia Timur), Hallyu sekarang menjadi salah satu industri utama negara tersebut.

Kosmetik yang mengalir bersama K-Wave | thetravelthread.com
info gambar

K-Wave sendiri terdiri atas tiga gelombang. Gelombang pertama berkisar pada awal tahun 1990-an hingga awal 2000-an saat drama dan film Korea Selatan sangat populer di Jepang dan China. Kemudian gelombang kedua menyusul pada pertengahan tahun 2000-an ketika drama, film, dan musik Korea populer di Asia Selatan dan Asia Tenggara, seperti dikutip dari Kumparan.com

K-Wave pun mulai merambah belahan dunia lainnya seperti Eropa, Australia, Amerika dan Afrika pada gelombang ketiga di tahun 2010-an. Kini tak hanya sebatas drama dan musik, pada masa itu semua yang berbau Korea seperti fashion, makanan hingga permainan komputer menjadi mesin utama popularitas K-Wave.

Berdasarkan hasil survei Korean Tourism Organization, K-Pop merupakan bagian dari K-Wave yang paling menarik perhatian orang di luar Korea. Peringkat kedua diduduki drama Korea disusul dengan film. Yang menarik, dari survei ini juga terlihat mayoritas penggemar K-Wave (sekitar 67%) adalah kaum muda berusia 20-an dan 30-an. Dengan kata lain, mayoritas penggemar K-Wave merupakan usia produktif, dan konsumtif tentu saja.

Titik awal

Industri seni dan budaya Korea sendiri dimulai pada tahun 1953 setelah penandatanganan Perjanjian Gencatan Senjata Korea. Dari titik ini , Korea Selatan mengalami masa-masa pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Industri film juga mulai berkembang dan pusat studi film Amerika mulai membuka cabang di negara tersebut. Yang pertama datang adalah Twentieth Century Fox (1986). Diikuti oleh Warner Bros pada tahun 1989 dan Columbia Pictures pada tahun berikutnya. Pada tahun 1993, Walt Disney juga sudah memiliki kantor distribusi di negara tersebut.

Film Shiri | screenanarchy.com
info gambar

Pemerintah Korea waktu itu dibuat terkesima oleh pendapatan film Jurassic Park yang melampaui penjualan kebanggaan nasional, mobil Hyundai. Pemerintah lalu memutuskan untuk mendirikan biro industri budaya di bawah Kementerian Kebudayaan untuk membantu mengembangkan seni dan budaya.

Pada tahun 1998, Korea Selatan melihat industri manga Jepang, anime, J-pop dan film yang sangat digemari di seluruh dunia. Kementerian Kebudayaan Korea kemudian memberikan peningkatan anggaran yang besar untuk memasukkan kurikulum mengenai seni dan budaya di banyak perguruan-perguruan tinggi mereka.

Tahun berikutnya, film berskala besar pertama yang diproduksi secara lokal, "Shiri" sukses besar secara komersial, menghasilkan lebih dari $ 11 juta, sebuah angka yang luar biasa saat itu.

Terobosan-terobosan

Pada tahun 1999, drama-daram Korea mulai ditampilkan di Tiongkok dan di negara itu, makin banyak orang mendengarkan musik Korea. Grup H.O.T. dari S.M. Entertainment adalah boy band pertama yang tampil dalam konser Beijing pada tahun 2000. Tiketnya terjual habis jauh hari sebelum konser berlangsung. Pada tahun yang sama, negara bagian Manipur di India mulai mengonsumsi hiburan Korea karena film-film Bollywood dilarang di negara bagian tersebut. Agence France-Presse melaporkan bahwa ungkapan-ungkapan Korea terdengar di pasar jalanan dan di sekolah-sekolah di Manipur. Musik, film, dan drama Korea Selatan mulai menyebar di banyak lokasi di sekitar India Timur Laut.

Sementara F4 dari Taiwan dan drama TV 'Meteor Garden' juga sedang booming di Taiwan dan negara-negara Asia lainnya, artis solo Korea Selatan BoA menjual satu juta kopi albumnya, 'Listen to My Heart' di Jepang. Hebat kan?

Winter Sonata | tokopedia.net
info gambar

Pada tahun 2002, drama Korea Selatan, 'Winter Sonata' menjadi hit yang sangat fenomenal. Ini adalah drama Korea pertama yang memasuki pasar Jepang dan sukses, yang mempopulerkan Bae Yong-joon menjadi superstar di Jepang. Mantan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi bahkan mengatakan bahwa aktor Korea Selatan lebih populer darinya di negara tersebut.

Winter Sonata memulai Hallyu atau Korean Wave gelombang dua, diikuti dengan rilis lain seperti Dae Jang Geum (Jewel in the Palace), Full House dan Jumong. Yang lainnya segera menyusul, termasuk konser grup K-pop awal, seperti TVXQ, SS501, dan Super Junior.

2010 ke atas

Meskipun drama, film dan musik, terutama grup idola, lebih sering menjadi buah bibir, Hallyu di era ini juga mulai membawa serta berbagai produk dari Korea Selatan, termasuk makanan tradisionalnya, pakaian dan perhiasan trendinya, pun juga beragam produk rias dan perawatan kulit. Hallyu juga meningkatkan minat jutaan orang dari seluruh dunia untuk mengeksplorasi berbagai hal tentang Korea, termasuk sejarah, budaya, serta bahasa Korea.

Budaya pop Korea kini sedang meraja di banyak bagian di Asia dan di berbagai belahan dunia. Di Asia, akan sulit untuk menemukan orang yang tidak terkena Gelombang Korea ini. Kita selalu bertanya-tanya Hallyu bisa memiliki daya tarik massal dan besar-besaran seperti sekarang ini. Ingat, banyak sekali orang-orang dari luar Asia yang kini mengikuti orang-orang Asia di era sebelumnya yang begitu tergila-gila pada Kpop maupun drama/film Korea. Sebuah teka-teki memang, ketika kita penggemar dari negara-negara barat menikmati musik mereka dan dengan setia menonton drama dan film Korea Selatan secara online, meski harus menunggu subtitel yang dibuat penggemar untuk memahami mereka.

Menurut Sung Tae Ho, seorang manajer senior KBS (Korean Broadcasting System) dan Dr. Liew Kai Khiun dari Wee Kim Wee School of Communication dan Informasi Nanyang Technological University- Singapura, fenomena ini disebabkan oleh kesamaan dalam budaya Asia, meskipun perbedaan bahasa. Dr. Liew Kai Khiun menambahkan bahwa itu karena orang-orang di Asia berbagi mentalitas Timur, seperti menghormati orang tua. Di banyak bagian di Asia, masyarakat itu hirarkis. Asisten profesor menambahkan bahwa ketika menyangkut drama, hiburan Korea Selatan secara sadar dan taktis memasarkan kepada pemirsa wanita, segmen yang mudah loyal, dan marketer yang militan.

Drama-drama Korea memang umumnya bercerita secara sederhana, meski dengan bumbu yang menawan. Mirip-mirip dengan cerita Cinderella dan cerita-cerita si miskin dan si kaya yang mudah difahami. Ada juga beberapa cerita yang berhubungan dengan perjuangan yang dihadapi perempuan di rumah tangga mereka, maupun di tempat kerja. Adalah hal yang biasa untuk memiliki pria tampan dan gagah berani (kebanyakan dari mereka kaya) yang membantu mereka mengatasi hambatan dan tantangan hidup sehari hari. Cerita-cerita ini memang fiksi, dan tak sesuai dengan kehidupan nyata. Justru karena inilah banyak kaum perempuan yang tertarik pada drama Korea untuk melepas penat dari kehidupan duniawi mereka sehari-hari.

Nah, di drama-drama inilah produk-produk Korea juga ditampikan, dan ikut populer.

Kunci Sukses K-Wave
Kunci sukses pertumbuhan K-Wave terdiri atas lima faktor.
Pertama, pencabutan larangan bagi warga Korea Selatan untuk bepergian ke luar negeri. Kedua, konsistensi dalam mencari mesin pertumbuhan K-Wave yang baru. Ketiga, mempromosikan ekonomi terbuka dan pendekatan aktif terhadap kebudayaan yang beragam. Keempat, pelarangan UU Sensor. Terakhir adalah peningkatan investasi untuk infrastruktur internet berkecepatan tinggi.
”Untuk aspek-aspek yang mendukung tumbuh kembang K-Wave, ada lima faktor juga yakni peraturan pemerintah yang minim; investasi jangka panjang dan berkesinambungan; pemanfaatan sosial media secara proaktif; konten yang kuat dengan sumber global; serta pendekatan yang menyeluruh dan sistematis dengan prinsip "from management to creation", ujar Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Y.M. Chang-beong Kim seperti dikutip Kumparan.com
Khusus aspek investasi, Kyung Jin Han dari SM Entertainment menggarisbawahi lamanya waktu dan besarnya biaya yang diperlukan dalam K-Pop. “Diperlukan setidaknya 3-5 tahun dan dana sekitar Rp 28 milyar untuk membentuk suatu grup musik, baik boyband maupun girlband hingga berkiprah di kancah internasional,“ tukas Han. Karena itu tidak mengherankan jika komitmen dan totalitas sektor swasta untuk melibatkan musisi, penulis lagu dan koreografer terkemuka di dunia berbuah manis dengan semakin tenarnya K-Pop di seluruh dunia.
Hal ini pun sejalan dengan popularitas produk Korea yang semakin meningkat, peningkatan riset dan pengembangan dalam desain, produksi yang dipadukan dengan pemasaran produk berbasis K-Wave serta prinsip "going global". Semua faktor tersebut berkontribusi sebagai pendorong pengembangan K-Wave di dunia.
Bagaimana dengan Indonesia?
Sebagai sebuah bangsa yang begitu kaya akan kesenian dan budaya, juga keragaman musik tanah air, rasanya Indonesia bisa mengikuti jalan yang sudah dibuat Korea. Memang perlu komitmen jangka panjang, pun juga kontribusi dan berbagai pihak. Memang akan makan waktu, tapi jika tidak dimulai, bisa jadi..Indonesian Wave, atau I-Wave, takkan pernah terjadi.
Sumber dan referensi:

1. Racoma, Bernadine. “Hallyu or Korean Wave Continues to Take the World by Storm.” Day Translations Blog, Day Translations, 30 July 2018, https://www.daytranslations.com/blog/korean-takes-world/.

2. Romano, Aja. “How K-Pop Became a Global Phenomenon.” Vox, Vox, 26 Feb. 2018, www.vox.com/culture/2018/2/16/16915672/what-is-kpop-history-explained.
3.“How BTS Is Taking Over the World.” Time, Time, 11 Oct. 2018, time.com/5421722/.
4. Nurmala, Noviyanti. “Noviyanti Nurmala | Menyingkap Sejarah Dan Rahasia Sukses Korean-Wave.” Kumparan, Kumparan, 10 Mar. 2018, kumparan.com/noviyanti-nurmala1519197736585/menyingkap-sejarah-dan-rahasia-sukses-korean-wave.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini