Yogyakarta telah resmi dinobatkan sebagai Kota Budaya ASEAN untuk periode 2018-2020 oleh Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dalam Gala Performance of The ASEAN Festival of Arts di Prambanan Open Air Theatre pada Rabu (24/10/18) setelah menjadi tuan rumah dua pertemuan dalam dua minggu terakhir; Asean Ministers Responsible for Culture and Arts Meeting dan 14th Asean Senior Officials Meeting for Culture & Art and Related Meeting.

Penampilan kesenian dari delegasi pertemuan ASEAN | Foto: Febriyanto / krjogja
Penampilan kesenian dari delegasi pertemuan ASEAN | Foto: Febriyanto / krjogja

Upacara resmi untuk penobatan tersebut berlangsung pada Rabu malam di Candi Hindu Yogyakarta yang terkenal, Prambanan, di mana delegasi ASEAN juga menikmati pertunjukan seni tradisional yang dipersembahkan oleh para delegasi.

Menjadi rumah bagi banyak tempat wisata dan lebih dari 100 festival per tahun, Yogyakarta adalah kota ke-lima di Asia Tenggara yang menyandang gelar tersebut setelah Bandar Seri Begawan di Brunei Darussalam, Hue di Vietnam, Singapura, dan Cebu di Filipina.

Menurut Hilmar Farid, direktur jenderal budaya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, negara yang menjadi tuan rumah pertemuan diperbolehkan mencalonkan salah satu kota mereka untuk memperoleh gelar tersebut.

Nominasi Yogyakarta disetujui oleh delegasi ASEAN selama pertemuan dan oleh mitra dialog ASEAN Jepang, Korea, dan Cina.

Yogyakarta dipilih sebagai Kota Budaya karena karakternya yang unik.

"Yogyakarta adalah cerminan yang sempurna dari identitas ASEAN, masyarakat yang majemuk dan inklusif," kata Ananto Kusuma Seta, ahli inovasi dan daya saing kementerian.

Candi Prambanan | Sumber: Indonesia.travel
Candi Prambanan | Sumber: Indonesia.travel

Ananto mengatakan penghargaan itu "adalah sebuah momen bersejarah" karena menunjukkan bahwa negara lain sekarang mengakui Yogyakarta karena budayanya yang kaya.

Sebagai pemegang gelar, pemerintah kota dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sekarang harus bekerja sama untuk memperkuat program budaya yang akan mendukung konsep "Budaya Pencegahan" ASEAN, yang pertama kali dinyatakan dalam KTT ASEAN di Manila, Filipina, tahun lalu.

Konsep ini menekankan peran budaya dalam membentuk masyarakat yang damai dan harmonis dan mencegah ekstremisme. "Kami akan melakukan lebih banyak kolaborasi internasional untuk program kami," kata Hilmar.


Sumber: Jakarta Globe | krjogja 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu