Oleh Fahmi M Nasir*

Pada 17-27 Oktober 2018, saya kembali berada di kampung halaman untuk beberapa urusan pribadi dan urusan yang berkaitan dengan kuliah.

Sebelumnya saya pulang ke Banda Aceh pada 20-22 Januari 2018 bersama-sama dengan mentor yang sudah seperti orang tua sendiri, Tan Sri Sanusi Junid. Beliau telah pun kembali ke rahmatullah pada 9 Maret 2018 yang lalu.

Kali ini, saya pulang sendiri dan tidak langsung ke Banda Aceh melainkan melalui Jakarta. Sudah tentu ketika sendiri dalam perjalanan, banyak sekali waktu untuk merenung dan intropeksi diri.

Banyak juga waktu yang tersedia untuk berfikir tentang berbagai hal mulai dari mimpi-mimpi di masa depan baik untuk diri sendiri, keluarga dan kontribusi apa yang dapat disumbangkan, sekedar yang mampu, untuk daerah tempat saya dilahirkan dan dibesarkan.

Terus terang prestasi yang diraih oleh kawan-kawan dalam bidang yang menjadi 'passion' mereka menjadi pemicu bagi saya untuk mengikuti rekam jejak mereka.

Sebut saja perjuangan Akhyari Hananto, pendiri Good News From Indonesia (GNFI) yang dulu pernah menjadi rekan kerja di Muslim Aid Indonesia. Kini GNFI sudah menjadi trend setter dan game changer dalam memberitakan sisi positif dari Indonesia.

Malah GNFI sudah menjadi inspirasi bagi anak bangsa untuk terus berkarya sesuai dengan bidang pilihan kita masing-masing.

Kesuksesan yang diraih oleh Bang Ari, begitu saya memanggilnya, terus terang menjadi salah satu pemicu semangat bagi saya untuk dapat kembali menjadikan wakaf, bidang yang menjadi passion saya, sebagai sektor yang memainkan peranan penting dalam memajukan Aceh.

Apatah lagi Bang Ari senantiasa memberikan dorongan moril serta mengingatkan saya untuk cepat-cepat merampungkan studi agar bisa kembali berkarya di negeri sendiri.

Di Jakarta saya sempat berjumpa sahabat lama seperti Muhammad Zaki dan Abdul Rasyid.

Zaki, anak muda Lhok Nga yang kini bekerja di ibukota, selalu berbaik hati untuk berjumpa dan bercerita tentang mimpi-mimpi kami di sela-sela kesibukan dia bekerja pada salah satu konsultan papan atas di sana.

Rasyid pula, kolega satu kuliah di UIAM mulai dari program S2 dahulu sampai memiliki pembimbing yang sama sewaktu S3. Anak muda asal Jambi ini sudahpun merampungkan studinya dan kini menjadi faculty member di Fakultas Hukum Binus, Jakarta. Rasyid seperti biasa terus memberikan dorongan supaya saya juga dapat mengikuti jejaknya menamatkan kuliah di UIAM.

Kali ini saya juga beruntung dapat berjumpa dengan, Nezar Patria, anak muda Aceh dengan segudang prestasi. Tentunya rekam jejak Bang Nezar, sudah dikenal secara luas oleh publik. Apatah lagi kini beliau adalah Chief Editornya The Jakarta Post.

Banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang saya peroleh dalam pertemuan itu. Tentunya saya harus berterima kasih kepada dua sahabat sesama alumni MAPK Banda Aceh, di tahun yang berbeda, Fauzan Santa dan Reza Idria yang telah membantu mempertemukan saya dengan Bang Nezar.

Di Banda Aceh pula, saya benar-benar beruntung karena kali ini dapat berjumpa dengan banyak kawan lama dan baru yang tak akan cukup halaman media sosial ini jika kita tulis nama mereka satu persatu. Mereka, seperti halnya Rijalul Fadhli, sahabat di MAPK Banda Aceh, dan Roudy Khairuddin, anak muda energik alumni UIAM, semuanya dengan tulus ikhlas memberikan dorongan semangat dan memberikan bantuan dengan berbagai cara agar saya dapat merampungkan kuliah secepatnya. Saya terharu dengan kebaikan dan keikhlasan kawan-kawan semua.

Di Banda Aceh juga, saya harus berterima kasih kepada Dr. Hafas Furqani yang telah memberikan ruang kepada saya berbicara dan berinteraksi tentang wakaf dengan guru sekaliber Prof. Yusny Saby, pelaku wakaf sekaliber Pak Mahdi Muhammad dengan Yayasan Wakaf Barbatenya, pejuang filantropi Aceh sekaliber Bang Sayed Muhammad Husen II, pegiat filantropi dan mahasiswa di FEBI UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada sebuah forum yang dikemas sebagai Seminar Filantropi Islam.

Banda Aceh | Tempo
Banda Aceh | Tempo

Banyak sekali pelajaran yang saya dapati dalam forum itu. Salah satunya adalah keterbatasan dalam ilmu dan skill public speaking yang harus saya tingkatkan lagi. Begitu juga dengan besarnya animo peserta untuk berpartisipasi memajukan wakaf sebagai instrumen ekonomi dan keuangan di Aceh, untuk mengikuti jejak gemilangnya sektor wakaf di Aceh suatu ketika dahulu.

Forum yang diinisiasi FEBI UINAR itu memberikan keyakinan pada saya bahwa wakaf dapat sama-sama kita majukan di Aceh.

Bagi saya pribadi yang menggemari lagu-lagu Dewa 19, Kangen dan Cintakan Membawamu Kembali seakan mewakili perasaan saya pada wakaf.

Rindu yang besar untuk melihat wakaf berjaya di mana saya dapat memainkan peran aktif di dalamnya mungkin sama dengan makna yang ada dalam bait-bait lagu Kangen.

Cinta kepada wakaf pula, saya harapkan dapat menjadi salah satu jalan untuk membawa saya kembali ke Aceh untuk mewujudkan mimpi-mimpi besar memajukan sektor wakaf di sana.

Mudah-mudahan mimpi-mimpi ini dapat terealisir di masa depan.

..

*Mahasiswa di   International Islamic University Malaysia

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu