Bangga, Kreasi Sineas Indonesia Diakui Dunia

Bangga, Kreasi Sineas Indonesia Diakui Dunia
info gambar utama

Film pendek berjudul Kado karya sutradara muda Indonesia, Aditya Ahmad, dinobatkan sebagai Best Short Film dalam Venice International Film Festival 2018 untuk Orizzonti Section.

Aditya merupakan satu-satunya sineas Indonesia yang berlaga di Festival Film Internasional Venice ke-75 itu. Karya pemuda kelahiran Makassar tahun 1989 ini bersaing dengan 12 film pendek dari berbagai negara dalam kompetisi tersebut.

Dalam malam penganugerahan di Palazzo del Cinema di Venezia, Lido, Italia, Sabtu (8/9) lalu, Aditya menerima trofi penghargaan Orizzonti dari kritikus film Perancis dan Direktur Cinematheque Française, Frederic Bonnaud

Seperti yang dilansir dalam laman Antaranews baru-baru ini, Hasto Kristiyano selaku Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan mengatakan pihaknya merasa bangga dan memberikan apresiasi kepada para Sineas Muda Indonesia. Mereka denan penuh rasa percaya diri menampilkan berbagai film pendek dengan nuansa lokal penuh warna keIndonesiaan, namun dikemas sangat menarik hingga menembus kualifikasi global.

Hasto memberikan ucapan selamat kepada Aditya Ahmad atas prestasi yang diraihnya. Aditya meraih penghargaan tertinggi program kompetisi Orizzonti di Festival Film Venesia 2018. Dia mampu menyisihkan pesaing terberat dari 12 negara seperti Belanda dan Swiss. Menurut Hasto, capaian dari sineas muda Indonesia ini sangat membanggakan kita semua dan menjadi bagian dari kado Hari Pahlawan karena membawa nama harum bangsa Indonesia.

Hasto mengatakan bahwa film pendek dengan judul Kado karya Aditya tidak hanya memukau pemirsa di festival film tertua di dunia tersebut, tapi juga menjadi penghargaan tertinggi sebagai energi pembebas atas energi negatif yang sering kali melanda bangsa kita yakni berupa perasaan kerdil, rendah diri atau minder. Secara psikologis, penghargaan tersebut menjadi milestone rasa percaya diri dan hadirnya semangat berprestasi.

Menurut Hasto, apa yang dilakukan Aditya ini melengkapi sederet prestasi dari Sineas Muda Indonesia lainnya yang terlebih dahulu telah menembus festival film bergengsi di dunia seperti Bayu Prihantoro dengan karyanya On the Origin of Fear; Wregas Bhanuteja dengan karyanya Prenjak.

Kemudian Kamila Andini dengan karya Sendiri Diana Sendiri; Yosep Anggo Noen dengan karyanya Ballad of Bloods and Two White Buckets dan begitu banyak sineas muda lainnya yang telah berhasil membebaskan diri dari berbagai belenggu psikologis serta mampu menghasilkan karya yang bertitik tolak dari kebudayaan dan karakter keIndonesiaan.

Hasto juga menegaskan, berbagai capaian prestasi tersebut menggambarkan bahwa di tengah berbagai kepungan konservatisme, ternyata muncul dialektika kebudayaan yang berakar dari jati diri budaya nusantara.

Sumber: Antaranews

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini