Institut Pertanian Bogor (IPB) memperkenalkan Sekolah Kopi pada hari Sabtu, 10 November, yang bertujuan untuk mengajar siswa tentang kopi.

Institut ini, yang menyadari tren gaya hidup, menyadari bahwa banyak anak muda hari ini menjadi lebih bergairah tentang kopi, dengan profesi seorang barista menjadi sangat dihormati.

Rektor IPB, Arif Satria, mengatakan institut ini mengelola Sekolah Kopi bekerja sama dengan kedai kopi Bogor Rumah Kopi Ranin.

“Suka atau tidak suka, kami harus mulai menanamkan pengetahuan di siswa kami, terutama mereka yang tertarik dan bersemangat tentang kopi. Sekolah kopi ini adalah institusi kami yang akan membangun komunitas pecinta kopi, dan membangun komunitas orang-orang yang mau belajar tentang kopi, karena kopi adalah salah satu garda depan pertanian dengan nilai yang terus meningkat, ”kata Arif.

Gelombang perdana Sekolah Kopi berfokus pada pembuatan kopi manual, dengan apron seragam yang bertuliskan judul Kelas Dasar Peracik Kopi . Gelombang ini menerima 10 siswa dari 80 yang terdaftar, dengan IPB menyandang semua pembiayaan dan biaya kuliah.

Rektor IPB Arif Satria menyambut para siswa ke Sekolah Kopi | Foto: Theresia Sufa / Jakarta Post
Rektor IPB Arif Satria menyambut para siswa Sekolah Kopi | Foto: Theresia Sufa / Jakarta Post

Salah satu pendiri Rumah Kopi Ranin, Tejo Pramono mengatakan bahwa ide membuka sekolah kopi dimulai pada bulan Oktober 2017, ketika Presiden Joko "Jokowi" Widodo mengundangnya ke Istana Bogor.

“Saya mengatakan kepada Presiden bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak ahli kopi, dan saya juga mempresentasikan hasil pelatihan yang kami lakukan dengan petani di banyak daerah di Indonesia. Presiden kemudian mengatakan kepada saya bahwa kita membutuhkan sekolah kopi,” kenang Tejo.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa alasan mengapa mahasiswa IPB membutuhkan sekolah kopi adalah karena mereka sudah diajarkan ilmu yang berkaitan dengan kopi, sehingga mereka memahami dasar-dasar, dan mereka juga belajar pertanian, profesional, terbiasa bekerja di lab dan keterampilan mereka dapat dikembangkan ke tingkat berikutnya dalam pelatihan kopi.

Bertekad untuk berkolaborasi dalam menjalankan sekolah kopi, Tejo mengingatkan masyarakat bahwa produksi kopi Indonesia menempati urutan keempat di dunia.

“Kopi kita memiliki cita rasa terkaya di dunia, dan di negara kita, kopi dapat tumbuh di Aceh dan Papua, dan itu tidak terjadi di negara lain.”

Tejo menegaskan bahwa di Italia di mana kopi tidak tumbuh, orang-orang mampu menciptakan cappuccino yang terkenal di dunia. Ini berarti bahwa negara-negara bukan penghasil kopi mendapatkan keuntungan secara ekonomi dari menyebarkan pengetahuan tentang kopi, memberikan pelatihan tentang kopi, dan penjualan kopi, sementara di Indonesia orang bekerja keras di perkebunan kopi.

Yessica Cahyani Sitohang, a student of IPB's Sekolah Kopi. (JP/Theresia Sufa)
Yessica Cahyani Sitohang, salah satu siswa di Sekolah Kopi | Foto: Theresia Sufa / Jakarta Post

Yessica Cahyani Sihotang, seorang mahasiswa senior jurusan teknologi pangan di Sekolah Teknologi Pertanian IPB, yang diterima di Sekolah Kopi, mengatakan dia tertarik mengambil kursus karena dia ingin membantu petani kopi di kampung halamannya, Sidikalang di Sumatera Utara.

Perkebunan kopi di Sidikalang memiliki banyak potensi tetapi mereka masih belum berkembang, sehingga tidak dapat menjual kopi mereka dengan harga yang bagus, katanya. Yessica ingin dapat membantu para petani mengembangkan dan memproses kopi dengan lebih baik.


Sumber: Jakarta Post

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu