Sebuah festival musik akan diadakan di Sangkareang Square di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai tanggal 8 hingga 9 Desember untuk membantu Lombok pulih dari gempa bumi yang sempat mengguncang wilayah itu pada awal tahun ini.

Diselenggarakan bersama oleh pemerintah kota Mataram serta musisi dan relawan yang dikelompokkan dalam produksi Bandini, Festival Musik Jazz & Dunia Mataram 2018 juga bertujuan untuk menghibur para relawan gempa dan membantu para korban yang selamat dari pengalaman traumatis mereka.

"Acara ini juga diadakan untuk mempromosikan Lombok sebagai tujuan yang aman untuk dikunjungi," tambah ketua panitia penyelenggara, Imam Sofian, pada konferensi pers pada hari Senin.

Sekitar 100 musisi jazz lokal dan nasional dijadwalkan untuk tampil di festival musik tersebut, yang mengambil tema "Sound of Humanity: Jazz Tribute for Humanity".

"Diprakarsai oleh seniman, musisi jazz, dan relawan, acara ini berfungsi sebagai bentuk apresiasi bagi seniman dan relawan yang telah melakukan banyak hal dan membantu masyarakat Lombok setelah gempa bumi," kata Imam.

Para seniman, katanya, telah menjadi sukarelawan dengan membagikan bantuan, membangun rumah sementara, memberikan penyembuhan trauma, dan kegiatan kemanusiaan lainnya bagi para korban gempa.

“Bahkan hari ini mereka masih terus membantu para korban. Refleksi pengalaman mereka sebagai sukarelawan memotivasi kami untuk menyelenggarakan acara, ”kata Imam.

Di antara para musisi yang dijadwalkan untuk berpartisipasi dalam festival ini termasuk para seniman yang berbasis di Jakarta, Tohpati Ethnomission, Jason Ranti, Dua Drum, Cerita Fatmawati, dan Jazz Muda Indonesia. Agis Kania; serta Astrid Sulaiman Quartet dari Ubud, Sambava dari Sumbawa, dan musisi yang bermarkas di Mataram, Ary Juliant, Sura Dipa, Jazz Double Quartet / Jadeq, Neo Decker, Pesawat Kertas, One & Flower, Don't Tell Mom, dan Pelita Harapan Jazz Prestasi proyek juga akan tampil.

JKR dijadwalkan untuk diadakan di taman kota Sangkarean, acara ini merupakan bagian dari kampanye "Mataram MoveOn".

Wakil Walikota Mataram, Mohan Roliskana mengatakan, gempa bumi yang melanda wilayah itu dari 29 Juli hingga 19 Agustus juga mempengaruhi Mataram, ibu kota provinsi. Gempa bumi merusak rumah, gedung perkantoran dan fasilitas lainnya. Bahkan sebulan setelah gempa bumi melanda, orang-orang di Mataram masih tinggal di tenda-tenda evakuasi.

Kampanye "Mataram MoveOn" bertujuan untuk membantu orang yang selamat untuk kembali ke aktivitas sehari-hari mereka, serta memperbaiki kantor, sekolah, dan ekonomi kawasan.


Sumber: Jakarta Post

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu