Tahun 1982, seorang peneliti orangutan di Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, menulis surat untuk temannya yang berada di Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas), Jakarta. Peneliti ini menyebutkan, telah bertemu penjual obat jalanan di pasar Pangkalan Bun.

”Satu kepala Badak Sumatera direndam minyak goreng dalam baskom. Minyak kepala itu dimasukkan ke botol-botol seukuran jari telunjuk. Minyak seharga Rp5.000, waktu itu, dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Menurut pengakuan tukang obat, badak diperoleh dari hutan Tanjung Puting,” tulis Muhammad Boang.

Adanya Badak Sumatera di Kalimantan Timur, diinformasikan teman-teman dari Yayasan Titian, tiga dasawarsa kemudian. Tahun 2012, tim yang dipimpin Darmawan Lystianto ini menemukan tanda-tanda Badak Sumatera di sekitar hulu Sungai Mahakam, di perbukitan Mahakam Ulu. Daerah tersebut kini ditetapkan sebagai Kantong Habitat 1, termasuk di dalamnya kawasan Hutan Lindung Kelian Lestari (HLKL). Lokasi ini merupakan bekas pertambangan emas PT. Kelian Equatorial Mining (PT. KEM) seluas 6.700 hektar.

Keberadaan Badak Sumatera di berbagai wilayah Kalimantan, selama ini memang hanya sebatas informasi masyarakat, tanpa dukungan bukti valid. Spesies ini bahkan dianggap sebagian pihak telah punah, sekitar 2-3 dekade lalu. Anggapan yang kemudian terbantahkan dengan temuan Badak Sumatera di Kalimantan (WWF-Indonesia, 2013).

Awal 2013, tim survei orangutan WWF-Indonesia, menemukan jejak segar yang diduga badak yang dikuatkan pendapat para ahli. Temuan tersebut, ditindaklanjuti dengan survei intensif, pemasangan kamera jebak (camera trap) beserta survei sosial di seluruh wilayah Kabupaten Kutai Barat.

Badak sumatera yang berhasil diselematkan di Kalimantan Timur ini diberi nama Pahu. Foto: KLHK/Sumatran Rhino Rescue Team Kalimantan/Sugeng Hendratmo
Badak sumatera yang berhasil diselematkan di Kalimantan Timur ini diberi nama Pahu | Foto: KLHK/Sumatran Rhino Rescue Team Kalimantan/Sugeng Hendratmo

Hasil survei sosial mengindikasikan, adanya beberapa kantong habitat potensial Badak Sumatera di Kalimantan Timur. Untuk mempermudah identifikasi, wilayah habitat tersebut dikelompokkan menjadi Kantong Habitat 1, 2 dan 3.

Hasil survei lapangan di Kantong Habitat 1 dan 3, ditemukan tanda-tanda keberadaan badak, seperti: jejak kaki, kotoran, bekas pakan, plintiran, gesekan di batang pohon, dan kubangan. Pertengahan 2013, badak di Kantong Habitat 1 berhasil terekam kamera jebak.

2 Oktober 2013, penemuan badak di Kalimantan Timur tersebut diumumkan Menteri Kehutanan [sekarang KLHK] dalam acara Asian Rhino Range States Meeting di Lampung. Sejak 2014, survei sistematis dan kolaboratif dilakukan intensif untuk mengetahui populasi dan sebaran badak.

15 Oktober 2014, masyarakat menginformasikan telah menemukan jejak badak di Kantong Habitat 3. Lokasi yang memang terancam aktivitas manusia: perburuan (terdengar beberapa suara tembakan), pembalakan, pembukaan lahan, pembakaran hutan, pertambangan, dan perkebunan sawit.

Berdasarkan pantauan tim dokter hewan, kondisi Pahu baik dan stabil. Foto: KHLK/Sumatran Rhino Rescue Team Kalimantan/Sugeng Hendratmo
Berdasarkan pantauan tim dokter hewan, kondisi Pahu baik dan stabil | Foto: KHLK/Sumatran Rhino Rescue Team Kalimantan/Sugeng Hendratmo

**

“Hasil survei 2015 yang dilakukan WWF-Indonesia dan Universitas Mulawarman, memperkirakan Badak Sumatera di Kantong Habitat 1 lebih dari 15 individu,” kata Yuyun Kurniawan, mewakili WWF-Indonesia, dalam presentasinya di Lokakarya PHVA (Population and Habitat Viability Assessment)2015.

Berdasarkan informasi masyarakat setempat, sejak 2013 Badak Sumatera ditemukan pula di Kantong Habitat 2. Namun hasil survei yang dilakukan AleRT dan WWF-Indonesia pada 2016-2018 tidak ditemukan tanda-tandanya. Di Kantong Habitat 3, badak Najaq tertangkap perangkap jebak pada 12 Maret 2016. Namun, Najaq mati pada 5 April 2016.

Sejak 2013, Badak Sumatera yang ada di Kantong Habitat 3 diketahui sebanyak 3 individu. Semuanya betina, yaitu Najaq, Pahu (induk) dan Tenaik (anak). Survei verifikasi penyelamatan di Kantong Habitat 3 dan di HLKL, dilakukan pada 21 hingga 23 Januari 2015. Tim terdiri dari Direktorat KKH, BKSDA Kaltim, WWF-Indonesia, Universitas Mulawarman, dan Yayasan Badak Indonesia (YABI).

Kondisi di Kantong Habitat 3 saat itu sangat mengkhawatirkan bagi para badak, terkepung perkebunan sawit dan tambang. Kini, Tenaik yang umurnya diperkirakan lebih dari 5 tahun, belum ditemukan jejaknya.

Awal 2016, Rhino Protection Unit (RPU) yang dibentuk BKSDA Kaltim, WWF-Indonesia, dan YABI dalam waktu tiga bulan sudah menemukan lebih dari 250 jerat yang dipasang para pemburu babi dan rusa.

Najaq, badak sumatera di Kalimantan Timur yang kini tinggal kenangan. Najaq merupakan satu dari tiga individu badak sumatera yang tertangkap kamera jebak di 2013 lalu | Foto: YABI
Najaq, badak sumatera di Kalimantan Timur yang kini tinggal kenangan. Najaq merupakan satu dari tiga individu badak sumatera yang tertangkap kamera jebak di 2013 lalu | Foto: YABI

Minggu, 25 Nopember 2018, pukul 07:30 Wita, adalah hari yang menggembirakan bagi penyelamatan Badak Sumatera di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Badak bernama Pahu yang berada di Kantong 3, berhasil dipindahkan dari lokasi penangkapannya ke Suaka Rhino Sumatra (SRS) Hutan Lindung Kelian Lestari, 27 November pukul 16.50 Wita, dan tiba di tujuan pada 28 November 2018 pukul 06.15 Wita.

Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK], mengatakan, “Translokasi merupakan langkah awal yang penting dalam upaya lebih luas penyelamatan Badak Sumatera. Pemerintah Indonesia berkomitmen penuh, tidak hanya pada penangkaran yang tengah dilakukan, namun juga menjaga habitat alaminya. Harapannya, populasi spesies ini lebih baik lagi.”

Tim dokter hewan dan para ahli penangkaran tentu saja akan memantau dan merawat Pahu. Tim juga memastikan keamanan dan kesehatannya di lingkungan yang baru.

Hutan sekunder Kelian di Kalimantan Timur | Foto: Haerudin R. Sadjudin
Hutan sekunder Kelian di Kalimantan Timur | Foto: Haerudin R. Sadjudin

**

Badak Sumatera merupakan salah satu mamalia besar di Planet Bumi yang terancam punah. Dengan jumlahnya yang kurang 100 individu, spesies ini berada di titik kritis. Bertahun-tahun diburu dan kehilangan habitat. Populasinya yang sedikit dan tersebar di berbagai wilayah, berdampak pada sulitnya untuk menemukan pasangan.

Usaha pembiakan ini pun memiliki risiko terhadap tingkat kesuburan badak sebagai akibat isolasi yang lama. Kelangsungan hidupnya bergantung pada kemampuan pelaku konservasi, menemukan dan memindahkan mereka dengan aman ke fasilitas khusus yang dirancang untuk perawatan.

Di lokasi SRS di Kelian, blok perawatan benih tumbuhan yang ditempati badak Pahu, sesuai hasil verifikasi lapangan memiliki tingkat keanekaragaman tanaman yang tinggi. Ada jenis tumbuhan yang disukai Badak Sumatera, seperti pulai (Alstonia scholaris), laban (Vitex pubescens), sulangkar (Leea indica), segel (Dilenia exelsa), waru (Hibiscus tiliaceus), beberapa jenis ara (Ficus spp.).

Pertambangan batubara yang berdekatan dengan habitat badak sumatera di Kalimantan Timur | Foto: Haerudin R. Sadjudin
Pertambangan batubara yang berdekatan dengan habitat badak sumatera di Kalimantan Timur | Foto: Haerudin R. Sadjudin

Dalam kondisi ini, badak yang ada di Kelian jangan diberi makanan selain pakan yang ada di hutan sekitar. Jika akan diberi makanan tambahan, cukup daun nangka (Arthocarpus integra) dan karet kebo (Ficus elastica) yang dapat diperoleh di perkampungan sekitar hutan.

Itu juga harus betul-betul diketahui, tumbuhan tersebut jauh dari kebun atau perkebunan yang menggunakan pestisida. Badak akan rentan kena penyakit, jika keragaman pakannya berkurang atau pakannya terkontaminasi obat pemusnah hama.

Jika dalam satu tahun, badak-badak yang ada di Kantong Habitat 1, belum dapat diselamatkan ke SRS di hutan Kelian; disarankan ada keputusan penting. Salah satu jantan yang ada di SRS Way Kambas, Lampung, segera dikirimkan untuk dipasangkan dengan badak Pahu yang ada di SRS Kelian. Ini penting, agar konservasi Badak Sumatera berjalan sesuai harapan!

*Haerudin R. Sadjudin, Peneliti badak senior, lebih 40 tahun terlibat program konservasi badak di Indonesia.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu