By Ahmad Cholis Hamzah*

Dulu pada tahun 1950 an dunia perminyakan mengenal istilah “The Seven Sisters” yang di populerkan oleh Enrico Mattei Kepala perusahaan minyak Negara Itali. Dia menjelaskan istilah itu adalah tentang tujuh perusahaan minyak dunia yaitu Anglo Persoan Oil Company – yang sekarang bernama BP; Gulf Oil, Standard Oil of California atau SoCal; Texaco – yang sekarang bernama Chevron, Royal Dutch Shell; Standard oil of New Jersey atau Esso dan Standard Oil Company of New York – yang sekarang bernama ExxonMobil. Kartel ketujuh perusahaan dari Amerika dan Eropa ini menguasai industri minyak global sejak pertengahan tahun 1940 an sampai tahun 1970 an; menguasai hampir 85% lebih cadangan minyak dunia – yang sebagian besar berada di Timur Tengah. Kartel ini juga yang menguasai dan menentukan harga minyak dunia.

Kedigjayaan the Seven Sisters ini mulai menurun ketika Negara-negara penghasil minyak dunia membentuk OPEC dimana dulu Indonesia menjadi salah satu anggotanya. OPEC ini menjadi tandingan kartel ketujuh perusahaan minyak dunia ini dalam hal menentukan jumlah produksi minyak dan tentunya harga minyak dunia. Dalam perang teluk tahun 1973 an, OPEC menggunakan pengaruhnya dengan mengeluarkan embargo minyak dunia.

Dunia secara cepat berubah, Negara-nagara dulu yang perekonomiannya dianggap kecil, mulai tumbuh cepat dan bangkit menjadi Negara-negara maju seperti China, Brazil dan India. Dalam industri minyak pun ada perubahan yang drastik, Rusia setelah pecahnya Uni Sovyet bangkit menjadi raja minyak untuk daerah utara dan timur Eropa, pipa-pipa minyak dan gas Rusia sampai masuk ke Negara Turki. Di daerah timur dunia ini muncul Negara China yang pertumbuhan ekonominya tercepat di dunia dan memiliki devisa Negara yang besar yang menjadikan negaranya Negara paling kaya ke dua di dunia. China yang “hungry for oil” atau memerlukan supply minyak yang besar untuk menopang pertumbuhan ekonominya, mulai melebarkan sayapnya ke berbagai Negara seperti di Afrika dan Asia. Di barat dan selatan tentunya perusahaan-perusahaan lama Amerika masih bercokol kuat. Jadi sekarang publik dunia menyaksikan: di Utara ada “Russian Bear” atau Beruang Rusia, di Selatan ada “American Eagle” atau Elang Amerika; dan di Timur ada “Chinese Dragon” atau Naga China yang menguasai belantara industri minyak dunia.

Sekarang apakah Indonesia yang memiliki PERTAMINA yang bercokol di negeri tercinta ini sejak lama hanya diam di pinggir jalan menonton hiruk pikuk perubahan dunia ini?. Jangan mau! Perusahaan minyak Negara ini sudah saatnya tidak boleh menjadi raja di kandangnya sendiri; sudah saatnya mulai merambah dunia luas. Sudah saatnya juga PERTAMINA menjawab cibiran dunia bahwa SDM Indonesia belum mampun menangani industry minyak dunia. Tengok saja Negara serumpun kita yang kecil; tapi sudah memiliki perusahaan minyak yang mendunia – padahal PERTAMINA memiliki pengalaman yang lebih dari perusahaan minyak Malaysia ini.

Apabila PERTAMINA bisa menjadi perusahaan yang professional dan efisien, lepas dari image sarang korupsi atau perusahaan “Cash Cow” atau sapi perah kepentingan politik sesaat; maka mungkin sekali suatu saat “Indonesian Eagle” atau Garuda Indonesia juga mampu menjadi pemain kunci dan penentu industri minyak dunia.

*Alumni University of London, Universitas Airlangga Surabaya

Dan dosen pada STIE PERBANAS Surabaya.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu