Cerita dari Hutan: Batang Toru yang Syahdu

Cerita dari Hutan: Batang Toru yang Syahdu

Menerjang terjalnya medan di hutan Batang Toru © Aditya Jaya/GNFI

Waktunya telah tiba. Jam menunjukkan sekitar pukul 10.00 WIB, yang menandakan kami harus segera bersiap menuju kampung S.Kalangan II. Dua kendaraan roda empat dengan ban off-road pun disiapkan, menyesuaikan tekstur jalan di tempat tujuan.

Seperti yang sudah saya ceritakan di episode sebelumnya, kami adalah tim berisikan 8 orang yang terdiri dari beragam latar belakang dan profesi. Ditemani para anggota dari YEL/SOCP, kami bertekad menyebarkan nilai-nilai positif melalui Cerita dari Hutan Batang Toru, sesuai tema yang diangkat oleh Hutan Itu Indonesia (HII) di kegiatan kali ini.

Sebelum berangkat menuju kampung S.Kalangan II, ada persiapan yang sedikit berbeda dari penelusuran alam biasanya. Selain kendaraan yang disiapkan khusus, kami juga diwajibkan memakai sepatu boots dan disarankan tidak membawa barang bawaan terlalu banyak.

Sepatu boots berbahan karet menjadi bahan perbincangan tersendiri, bukan hanya sebelum berangkat ke hutan tapi juga sejak di masa-masa persiapan sebelum lepas landas dari Cengkareng. Tanda tanya besar sempat mengemuka, mengapa harus sepatu boots? Seberat apa medannya? Seberapa dalam lumpurnya?

Banyak dari kami yang berkali-kali menanyakan pertanyaan seperti itu ke tim YEL/SOCP, karena minimnya informasi yang tersedia mengenai medan yang akan ditempuh menuju Camp Mayang, tempat tinggal tim YEL/SOCP di tengah hutan Batang Toru.

Namun keterbatasan informasi itu tidak menyurutkan semangat kami untuk menuntaskan misi petualangan ini: Melahap berbagai rintangan menuju hutan, untuk menyebarkan nilai-nilai baik selama masa singgah kami di sana.

Menikmati perjalanan sembari memandangi sekitar | Foto: Arrum (YEL)
Menikmati perjalanan sembari memandangi sekitar | Foto: Arrum (YEL)

Dari beton terakhir menuju Camp Mayang

Brruumm… brruummm… brumm… suara kendaraan yang mengangkut kami meraung-raung mendaki terjalnya jalanan menuju S.Kalangan II. Namun hebatnya, tak ada kendala selama perjalanan ini karena pengemudi yang sudah berpengalaman, ditunjang mobil yang khusus dipersiapkan menerjang jalan yang terjal.

Setelah sekitar 1,5 jam perjalanan dari mes YEL/SOCP, tibalah kami di kampung S.Kalangan II. Sebuah kampung yang sangat sederhana, dengan jumlah penduduk yang tidak banyak. Beberapa penduduk di sini mengandalkan mata pencaharian sebagai penjual nira (bahan dasar minuman Tuak), dan pengangkut barang (porter) menuju hutan Batang Toru.

Sebagai kampung terakhir menuju hutan Batang Toru, kami benar-benar memanfaatkan masa transit di kampung S.Kalangan II sebaik mungkin. Barang bawaan diatur lagi agar tidak terlalu berat, memastikan persediaan makanan dan minuman cukup, juga tak lupa berdoa bersama sebelum memulai perjalanan.

Sekitar pukul 11.30 WIB perjalanan ke dalam hutan Batang Toru pun dimulai. Kami yang awalnya berjalan beriringan perlahan membentuk barisan karena jalan yang dilalui hanya selebar satu orang. Tepatnya, itu kami lakukan setelah melewati beton terakhir yang menjadi penanda “pintu masuk” hutan Batang Toru.

Tak butuh waktu lama bagi kami untuk mendapat jawaban mengapa sebaiknya memakai sepatu boots dan kenapa jangan membawa tas yang terlalu berat. Sungguh, medan yang dilalui sangat terjal dan curam, plus harus melewati beberapa sungai dengan batuan berlumut. Jangan lupakan juga tekstur tanah yang berlumpur dan licin, karena malam sebelumnya diguyur hujan lebat.

Beragam upaya pun kami kerahkan agar bisa menyelesaikan perjalanan. Melompat ala Ninja Hatori, berjibaku layaknya peserta Ninja Warrior, dan saling membantu seperti kontestan Benteng Takeshi. Segala macam usaha dilakukan agar bisa tiba di camp sebelum matahari tenggelam.

Beratnya medan yang harus dilalui memang tidak mematahkan semangat kami, tapi dengan tenaga yang sangat terkuras, apa daya asupan tenaga harus segera diisi. Maka kami pun memutuskan istirahat sejenak setelah satu jam perjalanan, dengan menyantap makan siang di sebuah pinggiran sungai kecil.

Selain menyantap bekal makanan, kami juga sempat mencicipi buah-buahan khas hutan Batang Toru. Salah satunya adalah Hopong, buah berbentuk bulat yang rasanya sangat mirip belimbing.

Berpacu dengan matahari, harus sampai camp sebelum sang surya tenggelam | Foto: Arrum (YEL)
Berpacu dengan matahari, harus sampai camp sebelum sang surya tenggelam | Foto: Arrum (YEL)

Berpacu dengan matahari

Setelah makan siang kami bergegas melanjutkan perjalanan. Berpacu dengan matahari, kami harus tiba di Camp Mayang sebelum malam tiba. Dan akhirnya, dengan jerih payah dan perjuangan sekuat tenaga, kami berhasil tiba di Camp Mayang dengan keadaan selamat, sehat wal’afiat.

Pukul 17.30 WIB kami tiba di Camp Mayang. Tepat 6 jam perjalanan bagi kami yang baru pertama kali mengunjungi hutan Batang Toru, adalah pencapaian yang fantastis! Tidak banyak pengunjung yang bisa melakukannya tepat waktu, karena beberapa orang ada yang membutuhkan waktu 8-10 jam dari beton terakhir menuju Camp Mayang.

Namun ada yang lebih fantastis lagi dari waktu perjalanan kami yang sesuai ekspektasi, yakni lengkapnya fasilitas di Camp Mayang.

Awalnya kami sepakat menyebut Camp Mayang adalah camp yang tergolong mewah. Namun tim YEL/SOCP mengelak kalau camp mereka tidaklah mewah, tapi dalam hal kelengkapan sarana, tak dimungkiri ini adalah camp yang sangat lengkap.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Camp Mayang di siang hari | Foto: Aditya Jaya/GNFI

Dari pintu masuk camp, dapat kita jumpai dapur di sebelah kiri dan pondok penginapan putra di depannya. Di tengah terdapat ruang makan bersama dan ruang perapian untuk menghangatkan diri, yang bisa juga dipakai untuk memasak nasi dan air.

Total ada lima pondok (dalam bahasa Batak disebut Sopo) di Camp Mayang. Dua untuk tamu (putra dan putri), dua untuk tim YEL/SOCP (putra dan putri), kemudian satu pondok untuk ruang makan yang juga dipakai untuk ruang berkumpul.

Sambutan dari Camp Mayang juga luar biasa. Mengetahui perut kami yang keroncongan, mereka langsung menyediakan makanan hasil masakan sendiri, air minum, dan ditunjukkan tempat membersihkan diri. Tak lupa, kami juga berkenalan dengan tim YEL/SOCP berjumlah 6 orang yang menempati Camp Mayang.

Sekumpulan anak muda hebat ini bernama Sheila Kharismadewi Silitonga, Andayani Oerta Ginting, Ulil Amri Silitonga, Dosmartua Sitompul, Ananda Simanungkalit, dan Jevi Sumakti Gultom.

Benar-benar malam pertama yang istimewa, di tengah hutan belantara Sumatera Utara. Sampai tak terasa tengah malam pun menyapa, dan kami harus segera istirahat memulai petualangan di hari kedua.

Ke mana tujuan kami di hari kedua? Apakah kami bertemu dengan Orangutan? Temukan jawabannya di episode selanjutnya, Kawan GNFI!

Bersambung


Sumber: Dokumentasi GNFI dan YEL/SOCP

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Chrisye, Musisi Indonesia yang Tak Lekang Oleh Waktu Sebelummnya

Chrisye, Musisi Indonesia yang Tak Lekang Oleh Waktu

Dulunya Penuh Sampah, Kini Jadi Primadona Wisata di Bekasi Selanjutnya

Dulunya Penuh Sampah, Kini Jadi Primadona Wisata di Bekasi

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.