Kembali Mengingatnya, Sang Romo Bagi Kaum Marginal

Kembali Mengingatnya, Sang Romo Bagi Kaum Marginal
info gambar utama

Ialah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, yang kemudian akrab dikenal dengan Romo Mangun. Ia lahir di Ambarawa, Jawa Tengah pada 7 Mei 1929. Pendidikannya dimulai di HIS Fransiscus Xaverius Muntilan, Magelang, di usia tujuh tahun.

Sebelum lulus dari STM, Mangun bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ia pun menjadi prajurit dan ikut bertempur di Ambarawa juga Magelang.

Di masa SMA, seperti yang tertulis dalam Tirto, Mangun mengaku mulai tertarik dengan dunia pelayanan gereja Katolik. Ia memutuskan untuk menjadi Pastor di usia 21 dan masuk ke seminari di Yogyakarta.

Bukan tanpa alasan kemudian Mangun memilih menjadi Pastor. Menurutnya, ia menjadi Pastor karena ia beragama Katolik. Jika ia beragama Islam, mungkin, ia akan memilih pesantren. Sebab di situ adalah tempat dan ruang yang paling dekat dengan rakyat kecil. Paling tidak, menjadi Pastor 80% nya akan bersentuhan langsung dengan wong cilik entah di kota atau di desa.

Setelah menjadi Pastor, Mangun melanjutkan kuliah di Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung pada 1959. Ia kemudian kembali melanjutkan studi di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule Aachen, Jerman pada 1960 – 1966.

Sekembalinya ke Indonesia, ia menjadi Pastor di Paroki Gereja Santa Theresia, Magelang. Di sanalah kemudian ia mulai bertemu dengan tokoh lintas agama seperti Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Uniknya, di sela waktu luang, Mangun lebih sering menghabiskannya dengan menulis cerpen juga novel. Tak heran jika ia tercatat telah berhasil menerbitkan 36 karya tulis, baik berupa esai, cerpen, maupun novel. Salah satu yang paling terkenal dan berhasil dibaca banyak kalangan ialah Burung-Burung Manyar (1981).

Burung-Burung Manyar Buah Karya Romo Mangun | Sumber dok: Medium
info gambar

Novel itu pula yang membuatnya mendapat Ramon Magsaysay Award, yakni penghargaan sastra se-Asia Tenggara pada tahun 1996.

Pada suatu kesempatan, tepat saat ia memberikan ceramah di depan para frater di Seminari Kentungan, ia menyindir frater-frater yang hanya mengetahui tiga lokasi di Yogyakarta, yakni Panti Rapih, Kapel, dan Kampus. Padahal di luar sana, banyak orang yang hidup dalam belenggu kesusahan dan ketidakberdayaan, sedangkan para frater di dalam seminari hidup dalam kondisi serba berkecukupan.

Ia pun mengaku prihatin, sebab baginya “calon gembala umat” tidak pernah dilatih untuk melebur dengan masyarakat. Hal ini disebabkan, mereka, terlalu banyak dijejali filsafat dan teologi.

Lagi-lagi, bukan tanpa alasan Mangun mengungkap hal demikian. Ia pun tetap bisa membuktikan seluruh ucapannya dengan fakta-fakta yang tidak bisa dibantah, sebab benar adanya. Apalagi, sebelum dapat berbicara seperti itu, Mangun telah lebih dulu hidup bersama masyarakat yang tertindas.

Salah satunya di tahun 1981, Romo Mangun berhasil menggagas pembangunan rumah di bantaran layak huni pinggir kali Code, Yogyakarta. Tak hanya itu, ia turut membela warga yang menjadi korban penggusuran waduk Kedung Ombo di 1986. Bahkan Romo Mangun harus rela kucing-kucingan dengan aparat keamanan demi bertemu warga.

Baginya, Hak Asasi Manusia (HAM) telah diganggu, dirampas dengan berbagai alasan yang mengatasnamakan pembangunan.

Di sisi lain, Mangun juga menyempatkan diri memikirkan dunia pendidikan bagi anak-anak. Pada 1994, ia diketahui mendirikan SD Kanisius Mangunan di Kalasan, Yogyakarta. Sekolah ini yang kemudian menjadi karya terakhir Mangun sebelum meninggal akibat serangan jantung pada 10 Februari 1999.

Romo Mangun | Sumber dok: Indonesian Writers
info gambar

Namun, dalam kepergiannya, hingga kini Kampung Code terus dikenang sebagai karya gemilang gubahan Romo Mangun sebagai seorang arsitek. Bahkan di 1992 ia pernah dianugerahi Aga Khawan Award, yakni sebuah penghargaan bagi konsep arsitektur yang ramah lingkungan dan mewadahi aspirasi masyarakat. Di 1995, berkat dedikasinya untuk kaum marginal di Code, ia menerima The Ruth and Ralp Erskine Fellowship.


Sumber: Tirto

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini