Cerita dari Hutan: Ketika Batang Toru Merayu

Cerita dari Hutan: Ketika Batang Toru Merayu
info gambar utama

Halo Kawan GNFI! Berjumpa lagi dengan seri terbaru artikel bersambung Cerita dari Hutan. Di episode ketiga yang merupakan bagian penutup ini, saya akan mengajak Kawan GNFI menelusuri seluk beluk hutan lindung yang terbentang dari Tapanuli Utara, Tengah, sampai Selatan, di Sumatera Utara ini.

Perjalanan penelusuran hutan dimulai pada hari kedua kami tiba di hutan. Ini dilakukan lantaran di hari pertama kami baru tiba di Camp Mayang menjelang malam, sehingga tidak memungkinkan langsung melanjutkan ekspedisi.

Air terjun Bulu Botak menjadi tujuan kami di hari kedua. Sebuah air terjun alami dengan air yang jernih, dan bisa menyegarkan badan seketika jika berenang di sungainya. Mendengar gambaran semacam itu, tak pelak membuat semangat kami berlipat ganda untuk mengunjungi air terjun Bulu Botak.

Perjalanan ke air terjun berbeda dibanding jalur yang ditempuh dari kampung S.Kalangan II ke Camp Mayang. Jika di Jalan Menuju Kamp (JMK) banyak terdapat tanjakan, di jalur menuju air terjun kami menjumpai banyak sekali turunan. Sebuah hal yang lumrah karena jalan menuju sumber air pasti menurun.

Jarak tempuh dari Camp Mayang ke air terjun pun tidak sejauh seperti ketika berangkat dari kampung terakhir. Hanya dibutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan, yang diperkirakan tidak akan menguras banyak tenaga.

Estimasi waktu tersebut ternyata bisa kembali kami tepati. Tepat dua jam lamanya kami menempuh perjalanan, berangkat pukul 09.30 WIB dan tiba di air terjun Bulu Botak sekitar pukul 11.30 WIB.

Dua jam yang terasa singkat, bukan hanya karena jarak yang tidak terlalu jauh, tapi juga keindahan air terjun Bulu Botak yang langsung menyambut kami setibanya di sana.

Berfoto bersama di air terjun Bulu Botak | Foto: Sumarwan (HII)
info gambar

Beningnya air dipadukan dengan kesegaran udara hutan, yang menyatu dengan suara alami sungai Bulu Botak, membuat kami serasa berkunjung ke tempat wisata privat. Hanya kami yang berada di sana, bersama tumbuhan yang menemani di sekeliling tempat kami beristirahat.

Beberapa anggota tim ada yang berenang mencicipi segarnya air, ada pula yang memanfaatkan momen dengan mengambil foto-foto untuk dipublikasi, dan ada yang duduk-duduk santai sambil menikmati keindahan alam yang tiada duanya ini.

Selama hampir dua jam kami menikmati masa kunjungan privat ke air terjun Bulu Botak. Usai menyantap makan siang sebagai bahan bakar melanjutkan perjalanan, kami pun berencana melakukan pencarian Orangutan di jalur pulang menuju camp.

Namun sayangnya alam belum merestui keinginan kami. Tepat ketika beranjak dari lokasi air terjun dan mendaki jalan pulang, hujan deras langsung menyerbu kawasan itu. Alhasil, kami pun mengurungkan niat mencari Orangutan karena cuaca yang kurang mendukung, dan langsung kembali ke camp.

Hari ketiga yang terlewatkan

Gagal menjalankan misi bertemu Orangutan di hari kedua, membuat kami bertekad menuntaskan keinginan di hari ketiga. Dengan tujuan mengunjungi Goa Kelelawar, kami berharap di sepanjang perjalanan bisa menjumpai Orangutan karena cukup banyak sarang yang terdapat di jalur menuju goa.

Akan tetapi di hari ketiga ini saya tidak bisa melanjutkan perjalanan. Kondisi kaki yang belum maksimal membuat saya terpaksa beristirahat dulu di camp, untuk memulihkan fisik demi menempuh perjalanan pulang keesokan harinya.

Akhirnya tim pun melanjutkan ekspedisi tanpa kehadiran saya. Sebuah perjalanan yang memakan waktu empat jam dan medan lebih ekstrem dibanding ke air terjun Bulu Botak. Di Goa Kelelawar nantinya, akan dijumpai spesies-spesies bawah tanah seperti serangga, buah-buahan khas hutan Batang Toru, dan tentunya kelelawar sebagai penghuni utama!

Situasi di dalam Goa Kelelawar | Foto: Nur Khafifah/Kumparan
info gambar

Sementara itu di Camp Mayang, anggota tim yang tidak ikut ke Goa Kelelawar melakukan kegiatan fenologi (pengamatan buah-buahan) di Meranti. Tempat tersebut merupakan titik tertinggi di hutan Batang Toru dengan ketinggian lebih dari 1.000 mdpl. Bahkan saking tingginya, terkadang sinyal GSM bisa menjangkau area tersebut.

Batang Toru yang terus merayu

Tak terasa sudah tiga hari lamanya kami singgah di Camp Mayang, markas “penjaga” hutan Batang Toru. Selama itu pula banyak pengalaman yang kami rasakan, dan banyak perjalanan yang menjadi kenangan indah selama masa singkat kami tinggal di sana.

Rasanya tak cukup hanya tiga hari menetap hutan lindung habitat alami Orangutan Tapanuli ini, tapi rutinitas dan pekerjaan sehari-hari memaksa kami harus mengakhiri perjumpaan dengan hutan Batang Toru, Camp Mayang, dan orang-orang baik di dalamnya.

Ibarat sosok yang anggun dan penuh pesona, hutan Batang Toru terus merayu kami agar tinggal lebih lama. Plus dengan belum tuntasnya misi bertemu Orangutan, membuat rayuan hutan Batang Toru semakuin kuat, dan kami pun merasa kian berat beranjak dari hutan yang syahdu ini.

Namun pepatah “ada pertemuan pasti ada perpisahan” memang tak pernah bisa dihindari. Kamis, 6 Desember 2018, kami melakukan persiapan untuk perjalanan pulang. Sebuah perjalanan 6 jam bagian kedua dengan “beban” yang lebih berat, karena turut ditunggangi sejumlah kenangan manis.

Kenangan tentang keindahan hutan Batang Toru, kenangan dari senyum lebar keramahan para tim YEL/SOCP, kenangan berkumpul sembari bersenda gurau diiringi petikan gitar di ruang makan pada malam hari, dan kenangan botol minum spesial Rudolf Gilmore Perez yang tertinggal di air terjun Bulu Botak.

Semoga kelak kenangan-kenangan itu bisa menuntun kami, ataupun para Kawan GNFI, untuk berkunjung (lagi) ke hutan seluas 141.747 hektare yang terbagi ke tiga blok ini.*

Bersama tim YEL/SOCP sebelum meninggalkan Camp Mayang | Foto: Arrum/YEL
info gambar

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini