Menceriakan Murid dengan Mengubah Tata Kelas

Menceriakan Murid dengan Mengubah Tata Kelas

Ibu Esa sedang mengajar di kelasnya © ns_fardillah

Menceriakan Murid dengan Mengubah Tata Kelas

Oleh:

Ibu Esa Novita, S.Pd

Guru Model SDN Inpres Tenga, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat

SDN Inpres Tenga merupakan satu-satunya Sekolah Dasar yang ada di tanah kelahiranku. Di sini pertama kali saya duduk di bangku sekolah, hingga waktu membawa saya kembali ke tanah kelahiran. Namun saat ini keadaannya berbeda.

Saya tidak lagi sebagai murid yang selalu takut apabila guru masuk kelas seperti beberapa puluh tahun silam, tapi telah menjadi seorang pendidik. Seorang guru sukarela tanpa status yang jelas, begitulah kira-kira keadaannya. Walau demikian, keterbatasan itu tidak menjadi penghalang untuk terus bercita-cita menjadi insan yang selangkah lebih maju dari teman-teman yang lain.

Beberapa tahun lalu sekolah kami mendapat bantuan dari pemerintah berupa rehabilitasi gedung sekolah, tepatnya ruang belajar. Akan tetapi hanya beberapa tahun saja keadaannya layak untuk ditempati, karena rata-rata ruangan belajarnya bocor apabila musim hujan melanda. Atap yang terbuat dari genteng, kemudian diganti dengan seng multi-roof.

Namun kelasku masih bernasib malang. Salah satu ruang belajar tidak mendapat dana dari pemerintah, sehingga terpaksa tidak dipakai untuk kegiatan belajar mengajar. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, kelasku dipindahkan ke ruangan perpustakaan yang sudah lama tidak dihuni, dan kondisinya sudah berubah fungsi menjadi gudang.

Di sinilah kisahku dimulai. Hari berganti hari, sekolahku mendapat program dari Dompet Dhuafa, yaitu program Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Ada dua orang Konsultan Relawan (Kawan) SLI yang akan mendampingi kami dalam program ini, yaitu Neneng Sri Fardilah, S.Pd, Gr. dan Agustia, S.Pd.

Pengalaman yang sangat berkesan. Kawan-kawan SLI kusambut dengan kondisi kelas yang begitu memprihatinkan, bahkan mungkin lebih layak disebut sebagai gudang. Dengan perabot seadanya kami melaksanakan proses belajar mengajar, dengan kondisi kelas yang tidak menyenangkan dan siswa dan siswi yang liar tak beraturan. Itulah kesan pertama yang saya berikan pada kedua orang tersebut.

Dari kisah itu saya mulai berpikir, saya harus mengubah kelasku. Saya malu pada mereka, dan saya harus bisa membuat oleh-oleh untuk para tamu. Setidaknya untuk menebus sambutan pertama saya yang kacau balau. Berkat koreksi dan motivasi dari kawan-kawan SLI, sedikit demi sedikit saya mulai mengubah kondisi kelas dengan modal kertas seadanya.

Saya mulai menata ruangan yang tadinya saya sebut sebagai gudang, dan lambat laun telah berubah menjadi rungan belajar yang sangat menyenangkan. Alhamdullillah ternyata hasil yang kudapatkan tidak seperti apa yang ada di pikiranku, karena tidak hanya kondisi kelasku yang berubah menjadi baik, tapi sikap dan karakter siswa dan siswi pun ikut membaik.

Siswa dan siswi yang tadinya sulit diatur menjadi patuh dan betah dikelas. Suasana belajar mengajar juga lebih menyenangkan. Kami lebih betah berada di kelas, karena para murid lebih suka membaca dalam kelas dari pada bermain di luar kelas. Alhasil teman-teman guru kelas lain pun ikut mengubah kondisi kelas mereka.

Di setiap akhir pembelajaran, saya hiasi ruang belajar dengan potongan-potongan kertas media pembelajaran yang harganya dapat terjangkau. Beberapa rak buku sederhana saya tata dengan buku-buku pelajaran, dan yang paling berkesan adalah keberadaan rak buku yang terbuat dari potongan bambu, yang sedikit dihiasi dengan balutan kertas berwarna agar terlihat menarik.

Akan tetapi karena kami belum punya persedian buku-buku cerita, akhirnya saya mengisinya dengan beberapa buku Iqro, Juz ‘Amma, dan tuntunan salat lengkap. Tak terasa perasaan haru mulai menguasai jiwa. Tetesan air mata pun tak terbendung ketika melihat dan mendengarkan siswa dan siswiku mulai membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, meskipun mereka masih dalam tahap belajar dan mengeja.

Mereka sangat antusias dalam belajar membaca. Semoga kehadiran kawan-kawan SLI menjadi awal yang baik untuk kemajuan pendidikan di tanah kelahiranku. Tak ada kata yang pantas untuk saya persembahkan kepada kawan-kawan SLI, selain ucapan terima kasih atas bimbingan dan motivasi semangatnya.

Semoga Allah membalas amal kebaikan yang kita lakukan.
Salam Literasi...

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Museum Islam Indonesia Kini Resmi Dibuka Sebelummnya

Museum Islam Indonesia Kini Resmi Dibuka

Ternyata Orang Perancis Suka Makanan Indonesia Selanjutnya

Ternyata Orang Perancis Suka Makanan Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.