Tiga Tambang Raksasa yang Kembali ke Pangkuan Indonesia

Tiga Tambang Raksasa yang Kembali ke Pangkuan Indonesia
info gambar utama

Kabar baik itu datang jelang berakhirnya tahun 2018. Dengan divestasi saham 51%, Indonesia kembali menguasai kepemilikan PT. Freeport Indonesia. Namun, tahukah Kawan GNFI kalau di tahun ini total ada tiga tambang raksasa yang kembali ke pelukan Ibu Pertiwi?

Aset tambang pertama yang diambil alih sepenuhnya oleh Indonesia tahun ini adalah Blok Mahakam. Tepat pada 1 Januari 2018 lalu, Pertamina resmi mengelola migas di Blok Mahakam sebesar 100%. Ini merupakan pengambilalihan dari PT. Total E&P Indonesie (TEPI) yang kontraknya habis 31 Desember 2017.

Izin pengelolaan PT. TEPI tidak diperpanjang pemerintah, yang sekaligus menyudahi masa 50 tahun aset tambang di Kalimantan Timur ini dikuasai perusahaan asing. Pengelolaan kemudian diserahkan ke PT. Pertamina Persero, atas izin presiden Joko Widodo.

“Saya serahkan kepada Pertamina. Dulu kita satu persen saja enggak punya saham di situ, sekarang 100%. Ini berikan ke Pertamina,” ucap Jokowi, pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) di Auditorium Tilangga, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dikutip dari CNBC Indonesia.

Kemudian setelah menguasai Blok Mahakam, Indonesia selanjutnya mengambil alih kepemilikan Blok Rokan, sebuah blok raksasa dan tersubur di Indonesia. Data dari Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menunjukkan, sampai April 2018 produksi minyak di Blok Rokan sebanyak 210.280,60 BOPD (Barrel Oil per Day), dan produksi gas mencapai 24,26 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day).

Sama dengan Blok Mahakam, Blok Rokan yang terletak di Riau juga akan dioperasikan oleh Pertamina. Bedanya, pengambilalihan itu baru dilakukan di tahun 2021 sampai 20 tahun mendatang.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, mengungkapkan keputusan ini lantaran penawaran Chevron yang sekarang memegang Blok Rokan, jauh di bawah penawaran Pertamina. Dengan demikian, maka berakhir pula 94 tahun masa-masa Chevron menguasai Blok Rokan.

Lalu aset tambang ketiga yang diambil alih Indonesia tahun ini adalah PT. Freeport. Tambang emas di Papua ini diakuisisi pemerintah melalui holding BUMN Pertambangan, PT. Inalum (Persero) dengan nilai mencapai USD 3,85 miliar atau sekitar Rp 55,8 triliun.

Proses pengambilalihan tidak mudah, tapi upaya keras ini akhirnya membuahkan hasil. PT. Inalum menerbitkan surat utang global senilai USD 4 miliar, yang merupakan salah satu nilai terbesar sepanjang sejarah Indonesia, untuk membeli 51% saham Freeport.

“Hari ini merupakan momen yang bersejarah. Setelah Freeport beroperasi di Indonesia sejak 1973, dan kepemilikan mayoritas ini kita gunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. 51,2% sudah beralih ke PT Inalum (Persero) dan sudah lunas dibayar,” ucap Jokowi pada konferensi pers di Istana Negara (21/12), disadur dari CNBC Indonesia.

Kesepakatan ini membuat Indonesia punya kendali di cadangan terbukti dan terkira di lapangan PTFI bernilai Rp 2.400 triliun. Rinciannya terdiri dari 38,6 miliar pon tembaga, 156,2 juta ons perak, dan 33,8 juta ons emas.


Sumber: CNBC Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini