Seperti Apa Pernikahan Adat Jawa?

Seperti Apa Pernikahan Adat Jawa?

Ilustrasi resepsi pernikahan adat Jawa © Sumber: ShopBack

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Menyambut pernikahan kerajaan pada Januari mendatang, menarik jika melihat kembali ke pernikahan adat Jawa. Dengan kekayaan budaya yang dimiliki, Indonesia memang sangat beragam dalam perihal pernikahan adat.

Di artikel kali ini akan membahas seperti apa pernikahan adat Jawa dilakukan. Berbicara pernikahan adat tentunya kita tidak hanya berbicara mengenai hari H resepsi, sebelum itu tentunya ada tahapan-tahapan menjelang resepsi yang perlu dilakukan terlebih dahulu.

Beberapa tahap yang berlangsung selama beberapa hari tersebut termasuk wilujeng kenduri, siraman, midodareni, akad, dan resepsi.

Berdasarkan adat Jawa, wanita itu bernama Mantu, dan pria itu bernama Ngunduh Mantu begitu penjelasan mengenai status mempelai pada acara perkawinan.

Menurut tradisi Jawa, prosesi ngunduh mantu tidak wajib. Namun, beberapa orang tua masih ingin melakukannya sebagai bentuk ucapan syukur atas pernikahan putra kesayangan mereka.

Dengan setiap acara yang memiliki makna dan filosofi tersendiri, prosesinya dimulai dengan wilujeng kenduri, yang terdiri dari doa bersama untuk berharap prosesi yang lancar.

Selama wilujeng kenduri, makanan tradisional Jawa biasanya disajikan dalam bentuk tumpeng, yang dihiasi dengan berbagai ubo rampe (lauk pauk).

Susanto, seorang ahli budaya dan sejarah Jawa dari Universitas Sebelas Maret, menjelaskan bahwa wilujeng kenduri adalah tahap awal dalam pernikahan, itu adalah ritual untuk meminta berkah dari Tuhan.

"Proses menuju pernikahan ini adalah tahap yang sangat penting karena pernikahan itu sendiri adalah ikatan untuk membangun masa depan. Itulah sebabnya prosesi kenduri wilujeng sangat penting," kata Susanto.

Ilustrasi nasi tumpeng yang ada di prosesi kenduri wilujeng | Sumber: Tribunnews
Ilustrasi nasi tumpeng yang ada di prosesi kenduri wilujeng | Sumber: Tribunnews

Lebih lanjut Susanto menjelaskan bahwa tumpeng juga memiliki makna tersendiri dalam ritual tersebut, karena melambangkan gunung dan menggambarkan alam semesta. "Di gunung ada air, hewan, dan tanaman yang merupakan simbol dari alam semesta. Sementara itu, alam semesta adalah tempat di mana kehidupan terjadi," kata Susanto.

Ubo rampe yang menyertainya, atau lauk pauk, disajikan dengan tumpeng juga bertindak sebagai simbol untuk mengusir bahaya.

Kemudian selanjutnya diikuti oleh upacara siraman, atau percikan air, yang biasanya dilakukan secara terpisah oleh pengantin di tempat masing-masing.

Untuk pengantin wanita, siraman akan diikuti oleh ritual dawet sadeyan dan midoderani.

Ilustrasi proses siraman | Sumber: Hipwee
Ilustrasi proses siraman | Sumber: Hipwee

"Siraman sebenarnya adalah cara bagi anak untuk mengucapkan selamat tinggal kepada kedua orang tua. Ini menunjukkan anak tidak lagi 'mandi' atau dimandikan oleh kedua orang tua," kata Susanto.

Lebih lanjut Susanto menambahkan bahwa makna sadeyan dawet dalam rangkaian prosesi melambangkan bahwa anak tersebut siap menavigasi kehidupan dan mencari nafkah.

Sebelum ritual siraman pengantin wanita, juga akan ada instalasi bleketepe, atau daun kelapa yang masih muda dan dianyam menjadi ukuran rata-rata 50 cm x 200 cm. Ritual akan dilakukan oleh ayah pengantin wanita.

"Arti instalasi bleketepe ini seperti undangan orang tua untuk memurnikan hati," kata Susanto.

"Upacara dan ritual itu penting terutama sejak zaman kerajaan Mataram," tambahnya.


Sumber: Jakarta Post

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli25%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi25%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Perkenalkan, MAB: Bus Listrik Pertama di Indonesia Sebelummnya

Perkenalkan, MAB: Bus Listrik Pertama di Indonesia

Indonesia Ternyata Punya 26 Milyar Lobster Bertelur yang Siap Jadi Cuan Selanjutnya

Indonesia Ternyata Punya 26 Milyar Lobster Bertelur yang Siap Jadi Cuan

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

0 Komentar

  • rizky

    Komentar telah dihapus oleh Admin

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.