Waspada Terjangan ‘Air Mata Setan’ di Nusa Lembongan

Waspada Terjangan ‘Air Mata Setan’ di Nusa Lembongan

Puluhan turis mengelilingi kawasan yang disebut fenomena Devils Tears ini untuk melihat hempasan ombak menerjang tebing di Nusa Lembongan, Klungkung, Bali © Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Hantaman ombak di tebing karang kini jadi salah satu lokasi perburuan foto populer di Pulau Nusa Lembongan, Klungkung, Bali. Hal yang dulu dijauhi karena berbahaya kini didekati.

Orang-orang tua di Bali secara tak langsung memberi pesan hormati alam, dengan mengenalkan istilah tenget. Menakut-nakuti anak agar jangan ngawur saat berada di sebuah lokasi karena ada roh halus yang menunggui. Di era media sosial saat ini, kata ini nampaknya tak lagi bermakna. Karena jika bisa menjangkau pelosok atau lokasi berbahaya makin mendapat banyak jempol di akunnya.

Devil’s Tears, demikian industri pariwisata menamakan lokasi tebing-tebing curam ini. Air mata setan. Warga sekitar ada yang mengingatnya dengan bahasa lokal khas Lembongan, Sedok Gumblong. Sedok artinya teluk yang rendah dan Gumblong mengarah ke semacam empang tempat minum sapi-sapi yang digembalakan.

Sekitar pukul 10 pagi, gelombang ratusan turis berbahasa Tiongkok beriringan menuju Devil’s Tears. Mereka menumpang kendaraan semacam bemo, satu-satunya angkot publik massal di pulau turisme ini. Melewati jalanan berdebu dan berkerikil, berkelok-kelok mencapai salah satu pinggiran pulau. Menemui perairan bebas Samudera Hindia.

Salah satu lokasi wisata populer ini satu paket dan rute dengan Pantai Mimpi (Dream Beach). “Turis belum merasa ke Lembongan kalau belum berjemur di Dream Beach,” seru Bawa, salah seorang warga.

Puluhan turis mengelilingi kawasan yang disebut fenomena Devils Tears ini untuk melihat hempasan ombak menerjang tebing di Nusa Lembongan, Klungkung, Bali. Foto Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia
Puluhan turis mengelilingi kawasan yang disebut fenomena Devils Tears ini untuk melihat hempasan ombak menerjang tebing di Nusa Lembongan, Klungkung, Bali | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Alih-alih berjemur, kebanyakan turis memilih bermain dan berkejaran dengan ombak. Untuk mandi atau berenang cukup berisiko, kecuali jago berenang di tengah gelombang. Sebagian lagi memilih menikmati panorama dari kejauhan, duduk di restoran atau dari pinggir pantai.

Sepotong pantai berpasir putih ini sejak pagi sudah padat. Deburan ombak menjadi pelepas penat, memandang samudera lepas yang membawa angin kencang ke daratan pada Agustus sampai akhir tahun nanti ini.

Pantai ini hanya sepotong teluk, di kanan dan kirinya tebing yang menghadang ombak dan arus laut, sehingga sisa kekuatannya baru masuk ke Dream Beach. Kekuatan ombak ini lah yang menciptakan apa yang disebut Devil’s Tears tadi.

Sebuah papan peringatan dipasang mencolok, sebelum pinggir tebing untuk mengingatkan jangan terlalu mendekat karena berbahaya. Ini bukan bualan. Tragedi terakhir pada awal September ini ketika dua warga Tiongkok jatuh dari tebing, untungnya bisa diselamatkan warga sekitar. Namun pada Juni 2018 lalu Liang Wanchang, 46 tahun, juga jatuh dari tebing dan akhirnya meninggal. Ia disebut sedang berfoto saat air laut yang menghantam tebing menyapunya. Pada 2015 juga ada kejadian serupa, warga Singapura meninggal setelah terjatuh di lokasi ini.

Papan peringatan baru dipasang. “Warning! Segala Bentuk Aktivitas Menjadi Tanggungjawab Sendiri”. Dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin.

Papan peringatan untuk berhati-hati dan menjauh dari tebing karena sering terjadi kecelakaan tersapu hempasan ombak dan meninggal di Devil’s tears, Nusa Lembongan, Klungkung, Bali. Foto Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia
Papan peringatan untuk berhati-hati dan menjauh dari tebing karena sering terjadi kecelakaan tersapu hempasan ombak dan meninggal di Devil’s tears, Nusa Lembongan, Klungkung, Bali | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Waterblow atau hempasan air laut saat menghantam tebing dengan kekuatan besar ini tetap jadi atraksi yang disukai turis ke Lembongan. Malah, mereka yang gemar pamer foto walau berisiko ini, menunggu momen datangnya hempasan air laut sebagai latar belakang. Makin besar, makin dicari. Mereka mendekat ke bibir tebing, menunggu momen hempas air seperti payung raksasa agar bisa membekukannya lewat foto. Frame yang dihasilkan memang terlihat dramatik, seperti tengah berada dalam bencana badai. Manusia menantang kekuatan alam.

Tapi sekali lagi, melihat pengalaman banyaknya korban baik meninggal atau terluka, paling baik agak menjauh dari tebing. Tak akan mengurangi kekaguman melihat ombak melompati tebing, mendesis di goa-goa, dan mendengarkan suara perpaduan angin dan arus air dahsyat ini.

Saat Mongabay Indonesia berkunjung pada akhir Agustus lalu, dua turis terpeleset dan terluka. Syukur mereka tidak jatuh ke laut, tajamnya karang membuat betis mereka tergores.

Sulit diprediksi kekuatan waterblow itu. Kita tidak tahu kapan hempasannya kecil, sedang, atau tinggi. Ombak makin mengikis tebing sampai terlihat goa-goa di tebingnya. Ketika menghantam tebing suaranya mendesis kuat dan mengeluarkan asap seperti kabut. Kadangkala turis menunggu pelangi yang tercipta dari pertemuan cipratan air dengan berkas cahaya.

Seorang turis memberanikan mendekati tebing untuk dapat dipotret bersama hempasan air laut di sekitarnya di Devil’s Tears, Nusa Lembongan, Klungkung, Bali | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia
Seorang turis memberanikan mendekati tebing untuk dapat dipotret bersama hempasan air laut di sekitarnya di Devil’s Tears, Nusa Lembongan, Klungkung, Bali | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Darma, seorang pria paruh baya penjual kelapa muda adalah saksi segala keriangan dan duka di lokasi yang makin ramai dikunjungi turis ini. Tiap hari ia menjajakan buah kelapa muda, menawarkan kesegaran air kelapa pada siapa saja yang melewati warungnya. Seperti pedagang lain, ia sudah bisa mengucapkan sejumlah kata-kata dalam bahasa Mandarin saking banyaknya turis berbahasa itu ke Lembongan.

“Setahun terakhir makin ramai, tapi banyak tamu jatuh karena bandel,” ujarnya sambil membelah buah kelapa. Menurutnya turis sering diperingatkan jangan mendekat tebing karena kekuatan ombak tak bisa diduga.

Ia tak menduga tebing berbahaya seperti ini disenangi turis. Lahan di pinggir tebing dini dijadikan tempat berladang seperti ketela. Berladang di lahan kering kini bukan jadi prioritas karena tiap petak lahan beralih fungsi, termasuk di area berbahaya seperti tebing.

Bahkan buah kelapa saja harus dibeli dari pulau sebelah, Nusa Penida karena pasokan tak cukup. Selain bandel, pemandu wisata dan turis-turis ini juga meninggalkan masalah lain, kebersihan. Terlihat begitu mudahnya membuang sampah sembarangan usai makan dan minum.

Sepotong teluk ini nama populernya Dream Beach berpasir putih dengan ombak berlarian. Foto Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia
Sepotong teluk ini nama populernya Dream Beach berpasir putih dengan ombak berlarian | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Devil’s Tears, air mata setan ini bisa jadi air mata kebahagiaan bagi para pedagang yang membuka warung dan pengusaha wisata di Lembongan. Juga air mata tragedi jika nekad mendekati tebing tanpa pengaman ini. Peningkatan upaya mitigas perlu terus ditingkatkan. Misalnya memastikan ada petugas di sekitar tebing dan memastikan pemandu wisata memberi cukup informasi soal keselamatan di kawasan wisata alam ini.

Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih25%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli25%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Konser Musik Bertenaga Matahari, Apa Bisa? Sebelummnya

Konser Musik Bertenaga Matahari, Apa Bisa?

Walikota Risma Raih Penghargaan di Singapura Selanjutnya

Walikota Risma Raih Penghargaan di Singapura

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.