Orang-orang mengenal Kapiten Paulus Tiahahu sebagai orang terpandang di Nusa Laut, Maluku. Mereka pun turut memiliki rencana guna melawan pemerintah kolonal.

Paulus diketahui hanya mempunyai satu orang anak yakni Martha Christina.

Di usianya yang ke-17 Martha telah mengetahui soal rencana ayahnya yang hendak melawan koloni. Sebab ia pun memang cukup dekat dengan sang ayah, karena ibunya telah meninggal dunia.

Melalui Tirto diketahui bahwa Martha sudah tiga kali ingin ikut bertempur melawan pemerintah kolonial, namun tiga kali itu pula Paulus melarang. Akan tetapi, larangan itu pada akhirnya menjadi sia-sia sebab putri tunggalnya rupanya turut hadir di medan perang.

Saat itu di daerah Ulat dan Ouw, Saparua, terjadi pertempuran yang membuat terluka para rakyat sipil dan perwira militer Belanda. Di sanalah Martha terlibat. Ia pun menjadi sosok yang luar biasa berani.

Martha Christina | Sumber dok: Sebangsa
Martha Christina | Sumber dok: Sebangsa

Ia diketahui tak hanya menolong dengan memikul senjata ayahnya, melainkan turut serta dengan para pemimpin perang mengadakan tarian perang dan mampu memperlihatkan kecakapan, keberanian, juga kewibawaannya.

Bahkan ia terbiasa memegang tombak untuk bertempur dan cukup berhati-hati hingga selamat dalam pertempuran.

Namun di tanggal 12 November 1817, para pemimpin Nusa laut berhasil disergap. Termasuk Martha Christina dan ayahnya yang makin tua. Setelah ditahan dan diperiksa pada 15 November oleh Laksamana Buyskes, Martha berusaha bersikap tenang.

Setelah mendengar vonis mati untuk ayahnya, Martha berusaha membujuk para pejabat Belanda agar dirinya menggantikan ayahnya dalam menjalani hukuman. Walau Martha sendiri termasuk yang mendapat hukuman dengan dibuang ke Jawa.

Hukuman mati Paulus dilakukan pada 17 November 1817, di mana ketika itu ia dieksekusi di sebuah tanah lapang. Saat itu Martha dibawa masuk agar tidak melihat kematian ayahnya.

Martha Christina sendiri sempat tidak ditahan dan dibiarkan bergerak dalam ruang yang agak lebar. Namun, karena tingkahnya yang dianggap gila oleh aparat, Martha pun ditangkap dengan dinaikkan ke kapal Eversten dan ditempatkan dalam ruangan kosong.

Rasa sedih yang dirasakan atas kematian ayahnya terus membekas hingga membuatnya jatuh sakit dan tak mau menerima obat dari aparat Belanda.

Ia pun turut kehilangan kebebasan. Di usianya yang baru 17, ia sudah menjadi tahanan bagi aparat kolonial.

Tepat di malam tahun baru 1818, tubuhnya semakin lemah. Dini hari di 2 Januari 1818, di perairan antara Pulau Buru dan Manippa, Martha Christina Tiahahu menghembuskan nafas terakhirnya dengan usia yang hampir menjelang 18 tahun.

Sumber: Tirto

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu