Sampah plastik menjadi musuh terbesar di era sekarang ini, terutama sampah plastik yang berasal dari bekas wadah pembungkus sekali pakai. Seperti plastik bungkus bakso misalnya.

Pernah suatu kali saya pergi membeli es teh bungkus di warung depan komplek, sepulang dari sana saya merasa sangat bersalah karena banyaknya plastik yang berakhir di tong sampah secara sia-sia. Bayangkan saja, untuk membungkus satu es teh saja diperlukan empat macam plastik yang berbeda; satu pembungkus untuk teh nya, satu plastik yang dibuang bekas pembungkus es batu, sedotan, dan plastik pembungkus untuk dibawa pulang.

Ilustrasi es teh bungkus plastik | Sumber: Hipwee
Ilustrasi es teh bungkus plastik | Sumber: Hipwee

Sebenarnya banyak sekali alternatif untuk pengganti plastik tersebut, seperti tumblr botol minum dan tote bag misalnya. Tapi mau bagaimana lagi, plastik sekali pakai memang jawaban paling instan di era yang semakin cepat ini.

Andai saja lebih banyak masyarakat yang sadar mengenai dewasa dalam penggunaan plastik sekali pakai. Selain alternatif disebutkan di atas yang merupakan solusi modern, sebenarnya sejak jaman dahulu alam sudah menyediakan segala macam kebutuhan. Misalnya, sebelum berkembangnya teknologi, sebelum ada jas hujan atau payung masyarakat menggunakan daun pisang untuk melindungi diri dari basahnya air hujan.

Sama halnya dengan peralatan makan; piring dan gelas tradisional asli Kabupaten Nagekeo ini. Dibandingkan menggunakan piring styrofoam dan gelas plastik sekali pakai dalam perhelatan acara, Bupati Nagekeo, dr. Johanes Don Bosco Do dan Wakil Bupatinya, Marianus Waja mengajukan program untuk memanfaatkan tradisi Nagekeo yang sudah ada sejak lama; yakni menggunakan wadah makan yang disebut wati dan tempat minum dari bambu.

Warga Nagekeo menggunakan gelas dari bahan bambu | Foto: Markus Makur / Kompas
Warga Nagekeo menggunakan gelas dari bahan bambu | Foto: Markus Makur / Kompas

Wati merupakan wadah anyaman berbahan dasar daun lontar dengan bentuk enam sudut hingga delapan sudut, yang biasanya dilengkapi dengan tutupannya. Selain berguna untuk piring, wati juga dapat berfungsi sebagai wadah untuk penyimpanan seperti bibit tanaman dan benang.

Wati mempunyai bentuk yang sangat banyak dan adapula yang bermotif yang disebut wati woga, wati robha, wati wuga dll.

Warga Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis, (27/12/2018), menikmati hidangan pangan lokal saat syukuran atas pemimpin baru Kabupaten Nagekeo. Semua makanan bagi seluruh rakyat Nagekeo adalah pangan lokal  Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Wadah Wati dan Gelas Bambu di Nagekeo Mengurangi Pemakaian Plastik", https://travel.kompas.com/read/2019/01/01/131000727/wadah-wati-dan-gelas-bambu-di-nagekeo-mengurangi-pemakaian-plastik.  Penulis : Kontributor Manggarai, Markus Makur Editor : I Made Asdhiana
Warga Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis, (27/12/2018), menikmati hidangan pangan lokal saat syukuran atas pemimpin baru Kabupaten Nagekeo. Semua makanan bagi seluruh rakyat Nagekeo adalah pangan lokal | Foto: Markus Makur / Kompas

Selain ramah lingkungan, dengan digunakannya lagi wati ini, ekonomi masyarakat lokalpun turut dihidupkan. Karena wati tersebut merupakan produksi warga lokal yang bersumber dari alam Nagekeo.

Kearifan lokal ramah lingkungan apa yang berasal dari daerah kalian?


Sumber: Kompas | Ooyi |

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu