Di bawah terik matahari, seorang pria berseragam oranye dan dipersenjatai dengan jaring kupu-kupu dan karung plastik putih memburu kupu-kupu terbang di sekitar ladang rumput di Jakarta Timur pada hari Senin.

Setelah mengumpulkan sejumlah sampel, ia berjalan menuju area seluas 120 meter persegi yang dikurung dengan pagar 5 m dan dinaungi oleh jaring plastik hitam, yang dikenal secara lokal sebagai taman kupu-kupu, untuk melepaskan serangga yang dikumpulkan.

Pemandangan itu telah menjadi acara rutin selama beberapa bulan terakhir di ruang terbuka hijau (RTH) Cipinang Melayu seluas 5 hektar yang berlokasi di Cipinang Melayu, Jakarta Timur.

Taryono, 32, seorang karyawan Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Cipinang Melayu, juga dikenal sebagai "pasukan oranye", dilansir dari Jakarta Post mengatakan baru-baru ini bahwa pekerja badan tersebut yang awalnya memiliki inisiatif untuk mengembangkan kebun tersebut, sebagaimana mereka memperhatikan serangga terbang tersebut di sekitar padang rumput di dekatnya.

Setelah Camat Cipinang Melayu menyetujui gagasan tersebut, mereka mulai pada bulan September untuk membersihkan daerah tersebut dari limbah domestik yang dibuang ke lokasi sebelum memulai pada bulan Oktober pengembangan taman kupu-kupu menggunakan bahan-bahan yang tersedia milik kecamatan.

"Kebun itu dirancang untuk memanfaatkan lahan limbah, yang pernah digunakan oleh warga untuk membuang limbah domestik mereka," kata Taryono, menambahkan bahwa sampah yang dibuang di daerah itu bisa mencapai 10 ton sehari pada waktu itu.

Sebulan kemudian, mereka selesai mengembangkan kebun, yang juga dilengkapi dengan kandang setinggi 15 meter persegi 2 m untuk burung bulbul berkepala hitam.

Anak-anak mengamati seekor terung hitam, putih dan oranye, spesies kupu-kupu, yang bertengger di atas sebuah tanaman di Taman Kupu-kupu di Cipinang Melayu, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, pada hari Senin. Enklosur 120 meter persegi adalah bagian dari ruang terbuka hijau Cipinang Melayu. (JP / Sausan Atika)
Anak-anak mengamati seekor kupu-kupu eggfly hitam, putih, dan oranye, spesies kupu-kupu, yang bertengger di atas sebuah tanaman di Taman Kupu-kupu di Cipinang Melayu, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, pada hari Senin | Foto: Sausan Atika / Jakarta Post

Karena masa hidup kupu-kupu biasanya hanya bertahan beberapa minggu saja, dikombinasikan dengan kemampuan beberapa kupu-kupu untuk menyelinap masuk dan keluar dari jaring, jumlah kupu-kupu yang menghuni taman selalu bervariasi. Namun, kira-kira berjumlah sekitar 100 kupu-kupu dari lebih dari lima spesies berdasarkan pengamatan Taryono.

Meskipun jumlah kupu-kupu relatif sedikit dibandingkan dengan Taman Kupu-kupu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur, misalnya, taman kupu-kupu di Cipinang Melayu telah menarik pengunjung yang setia, terutama anak-anak.

Ridho, seorang siswa kelas dua yang tinggal di dekatnya, mengatakan bahwa ia mengunjungi taman hampir setiap hari hanya untuk menikmati berjalan melalui taman dengan serangga terbang di sekelilingnya. "Aku sangat menyukainya," kata Ridho, ditemani oleh tiga temannya yang juga mengunjungi taman pada hari Senin.

Ridho menunjukkan kupu-kupu hitam, oranye, dan putih yang dikenal sebagai lalat telur besar yang terbang dari satu bunga ke bunga lainnya, mengatakan itu adalah favoritnya.

Spesies kupu-kupu lain seperti raja, macan kastanye, dan elang laut bergaris juga terlihat di "kandang" tersebut, berterbangan di antara soka, mawar, amaranth dunia, dan banyak tanaman berbunga lainnya di dalam kebun.

Taryono mengatakan bahwa tidak hanya warga setempat tetapi juga beberapa murid sekolah PAUD mengunjungi taman, dengan yang terjauh datang dari Jatibening, Pondok Gede di Bekasi, Jawa Barat

Syahrul Munir, Camat Cipinang Melayu, mengatakan taman kupu-kupu itu hanya sebagian kecil dari RTH Cipinang Melayu. “[Cipinang Melayu] RTH diharapkan menjadi ruang rekreasi-pendidikan,” katanya.

Dalam upaya mewujudkan tujuannya, pemerintah kecamatan, bekerja sama dengan penduduk setempat, secara bertahap memanfaatkan daerah itu dengan menciptakan pertanian perkotaan, kolam ikan, dan saung (gubuk) untuk berkumpul.

Pertanian kota menghasilkan cabai rawit, kacang panjang dan terong, sedangkan kolam ikan seluas 10 meter persegi digunakan untuk membudidayakan ikan mas.

Syahrul mengatakan situs perkemahan, kebun rempah, lapangan olahraga, bank sampah, dan situs pengomposan akan dikembangkan di RTH untuk mempromosikan banyak topik pembelajaran bagi pengunjung.

Sumber: Jakarta Post

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu