7757 #OrangBaik Urunan untuk Program Pendidikan bagi Penyandang Disabilitas

7757 #OrangBaik Urunan untuk Program Pendidikan bagi Penyandang Disabilitas
info gambar utama

Kampanye #PendidikanUntukSemua yang diinisiasi oleh Yayasan Lari Nusantara (NusantaRun) sejak 10 Oktober 2018, telah berakhir pada 13 Januari 2019 kemarin.

Seperti yang dilansir platform Kitabisa.com, NusantaRun berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 2.650.073.375 yang dihimpun dari 7757 donatur. Total donasi tersebut melebihi target awal yang ditetapkan NusantaRun yaitu Rp 2,5 miliar.

Penggalangan donasi dilakukan oleh para pelari NusantaRun Chapter 6 dan komite NusantaRun. Setiap fundraisers ditantang untuk menggalang donasi dengan target minimal Rp 5 juta dan harus membuat laman penggalangan donasi pada Kitabisa.com.

Selanjutnya, penggalan dana mengajak orang-orang untuk berdonasi melalui laman masing-masing. Hasilnya, banyak dari fundraisers yang justru melebihi target minimal donasi, salah satunya Mulyadi Budiyanto yang berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 171.231.843 dari 217 donatur.

Mulyadi Budiyanto, Pelari NusantaRun Chapter 6 © Aloy Hermawan
info gambar

Pada akun Instagram pribadinya, Mulyadi menulis, “Secara pribadi, saya percaya bahwa saya sanggup mencari 500 orang baik yang mau peduli dengan orang lain, yang mau diribetin, dan yang mau berdonasi untuk membantu anak-anak difabel sehingga #PendidikanUntukSemua bisa terealisasi.”

Kendati tidak mencapai 500 donatur, Mulyadi sudah mengupayakan yang terbaik dengan mengajak orang-orang untuk berdonasi. “Semuanya itu akan dipakai untuk tujuan yang sangat mulia, yaitu membantu pendidikan anak-anak penyandang disabilitas,” tulis Mulyadi pada 8 Desember 2018.

Sebelumnya, pada 7 hingga 9 Desember 2018 lalu, telah digelar event lari NusantaRun Chapter 6 yang diikuti 80 pelari kategori full course, yang menempuh jarak 169 kilometer dan 106 pelari kategori half course yang menempuh jarak 83 kilometer.

Kedua kategori tersebut start di titik yang berbeda. Pelari kategori full course memulainya di Kledung Pass Hotel, Wonosobo, Jawa Tengah, sementara pelari kategori half course mulai dari Kantor Kepala Desa Karangwuni, Wates, Yogyakarta. Namun demikian, semua pelari menuju garis finis yang sama yaitu Pantai Sepanjang, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Pelari kategori full course bersiap-siap start. © Mahfud Achyar
info gambar

Donasi yang sudah terkumpul akan digunakan untuk program Pengembangan Pendidikan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang bekerja sama dengan Kampus Guru Cikal. Program tersebut dipilih lantaran data menyebutkan bahwa akses pendidikan dan pekerjaan untuk penyandang disabilitas di Indonesia masih sangat terbatas.

Founder Kampus Guru Cikal, Najeela Shihab mengatakan penyandang disabilitas di Indonesia hampir 30 juta atau sekitar 12,5% dari populasi. Untuk akses ke pendidikan, penyandang disabilitas yang mengenyam bangku Sekolah Dasar ke atas hanya 54,26% dibandingkan dengan non disabilitas yang mencapai angka 87,31%.

Adapun sekitar 45,74% penyandang disabilitas tidak pernah mengenyam pendidikan SD. Untuk akses terhadap pekerjaan, hanya 51,2% penyandang disabilitas berpartisipasi dalam pasar kerja dibandingkan dengan non disabilitas yang mencapai angka 70,40%.

Founder Kampus Guru, Cikal Najeela Shihab © Jane Djuarahadi
info gambar

Sementara untuk potret pendidikan inklusi di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Najeela Shihab mengatakan bahwa potret pendidikan inklusi di dua provinsi tersebut secara umum dapat dikatakan sudah ada arah untuk mengembangkan pendidikan inklusi, yang terlihat dari kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan pemerintah daerah. Namun di lapangan, implementasi kebijakan tersebut masih jauh dari harapan.

“Sebuah riset yang dilakukan Universitas Negeri Semarang menyimpulkan bahwa pengelolaan pendidikan inklusi di Jawa Tengah masih kurang memadai, mulai dari aspek identifikasi kebutuhan murid, penyesuaian kurikulum, kualitas guru, sarana prasarana, pembiayaan, hingga aspek sosialisasi ke masyarakat,” ungkap Najeela.

Sebagai terobosan, Kampus Guru Cikal akan meluncurkan program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang lebih menekankan pada penyiapan keluaran atau lulusan pendidikan inklusi agar berhasil di pendidikan lanjutan.

“Melalui program tersebut, kami berharap ada contoh nyata keberhasilan pendidikan inklusi yang dapat meyakinkan orang tua, guru, dan masyarakat luas tentang potensi murid penyandang disabilitas,” imbuh Najeela.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa ada tiga pilar utama untuk program yang akan dijalankan, yaitu menyiapkan guru pembimbing karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas, pengembangan komunitas guru belajar bimbingan karier sebagai sistem dukungan bagi murid penyandang disabilitas, serta pengembangan diri dan penyediaan beasiswa pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas.

Founder NusantaRun, Jurian Andika mengaku senang lantaran target donasi NusantaRun Chapter 6 tercapai bahkan melebihi target. Ia mengucapkan terima kasih atas kontribusi banyak pihak, mulai dari komite, pelari, relawan, donatur, sponsor, mitra program, hingga media yang turut menyebarluaskan semangat #PowerOfContribution.

Founder NusantaRun, Jurian Andika © Mahfud Achyar
info gambar

“Saat pertama kali menentukan target Rp 2,5 miliar tidak terbayang bagaimana dapat mencapainya. Tahun ini, ada beberapa potential fundraiser yang tidak berpartisipasi. Selain itu, sudah tidak ada donasi juga dari sponsor korporat. Pencapaian tahun ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kekuatan luar biasa untuk membantu orang lain,” ungkap Jurian.

Selanjutnya, donasi yang sudah terkumpul akan diserahkan kepada Kampus Guru Cikal pada Februari mendatang. Sebagai mitra program dari NusantaRun, Kampus Guru Cikal akan mendayagunakan donasi dari 7757 donatur dalam bentuk program-program yang telah dirancang.

“Program Pengembangan Pendidikan Murid Penyandang Disabilitas akan dijalankan di dua provinsi, yaitu di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Nantinya, donatur akan menerima laporan program yang dikirimkan secara berkala oleh Kampus Guru Cikal. Laporan akan didistribusikan melalui berbagai saluran komunikasi, mulai dari surat elektronik hingga hingga media sosial,” jelas Social Foundation Liaison NusantaRun, Harry Anggie Tampubolon.

Foundation Liaison NusantaRun, Harry Anggie Tampubolon © Mahfud Achyar
info gambar

Kesuksesan kampanye #PendidikanUntukSemua menjadi bukti nyata bahwasanya masih banyak orang-orang baik di negeri ini yang mau berbagi untuk sesama. Berbagi tidak hanya persoalan materi, namun juga gagasan, waktu, dan tenaga.

Semua orang yang terlibat di NusantaRun memiliki kontribusi untuk memajukan pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan untuk anak-anak penyandang disabilitas.

Menyoal sikap kedermawanan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, tak heran Charities Aid Foundation (CAF), sebuah badan amal internasional yang berpusat di Inggris, pada Oktober 2018 merilis laporan yang berjudul “CAF World Giving Index 2018: A Global View of Giving Trends” yang menempatkan Indonesia sebagai peringkat pertama dalam daftar “Most Generous Nations 2018”.

CAF World Giving Index. (Sumber: CAF World Giving Index 2018).
info gambar

Semoga sikap kedermawanan dan gotong-royong selalu tumbuh di hati setiap manusia Indonesia. Mengutip pidato presiden pertama Indonesia, Soekarno,

“Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama!”

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MA
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini