Kepopuleran Nurhadi-Aldo tak butuh waktu lama untuk sampai ke perbincangan dunia. Hari ini (18/1) The Guardian merilis tulisan tentang fenomena Nurhadi-Aldo sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) fiktif jelang Pemilu 2019.

Artikel yang ditulis oleh Kate Lamb ini menceritakan tentang Nurhadi-Aldo yang hadir di tengah ketidakpuasan generasi milenial pada dua pasangan capres dan cawapres di Pemilu kali ini. Dengan akronim “Dildo”, mereka mendadak viral dan mendapat banyak penggemar walau bukan menjadi capres dan cawapres sebenarnya.

Dalam artikelnya, The Guardian berkesempatan berbincang langsung dengan salah seorang pencetus pasangan Dildo. Ia bernama Edwin, seorang mahasiswa asal Jawa Tengah, dan secara khusus meminta The Guardian untuk tidak mempublikasikan nama belakangnya.

“Gerakan ini adalah udara segar untuk politik kita (Indonesia). Ini adalah perspektif baru, cara baru untuk menikmati politik, dan drama di antara para elite politik yang selalu berdebat, tapi sebenarnya sama sekali tidak mewakili rakyat.”

“Saya selalu ingin mendengarkan (perkataan) dari para kandidat, tapi seringkali mereka tidak menunjukkan programnya, atau memberi solusi pada permasalahan di masyarakat,” tutur Edwin.

The Guardian kemudian menjabarkan bahwa 80 juta dari total 187 juta pemilih di Pemilu 2019 nanti adalah generasi muda, tapi hingga sekarang masih banyak yang belum yakin dengan pilihannya karena belum menemukan pasangan capres-cawapres yang benar-benar memuaskan.

Situasi semakin pelik dengan hasil debat capres tahap pertama yang dinilai kurang maksimal. Baik pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno sama-sama belum memberikan jawaban yang memuaskan masyarakat.

Di tengah dahaga itulah hadir Nurhadi-Aldo, dengan beragam visi-misi, program, dan kutipan yang dipersingkat menjadi akronim vulgar. Contohnya adalah akronim nama mereka, dan salah satu programnya, “Program Subsidi Tagihan Warnet bagi Umum”, disingkat jadi Prostat Bau.

Bahkan tak hanya sebatas guyonan, Nurhadi-Aldo melalui timnya yang berjumlah tujuh orang, juga menjabarkan ide-ide yang jarang tersentuh oleh para kandidat pemimpin negara. Contohnya mendukung hak LGBT dan melegalkan ganja sebagai obat.

Tak lupa The Guardian juga menjelaskan profil singkat Nurhadi yang merupakan tukang pijat humoris dari Kudus, Jawa Tengah, dan Aldo sebagai tokoh fiktif yang wajahnya adalah hasil photoshop dari dua wajah berbeda.

Untuk membaca artikel lengkapnya bisa Kawan GNFI akses di sini.


Sumber: The Guardian

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu