Strategi 'Pancing Buku' untuk Mendirikan Perpustakaan Mini

Strategi 'Pancing Buku' untuk Mendirikan Perpustakaan Mini

Ilustrasi rak perpustakaan © Jamie Taylor/Unsplash

SMPN 1 Balikpapan menelurkan inovasi kreatif untuk meningkatkan budaya literasi di lingkungannya. Sekolah yang memiliki 1.074 siswa ini mendirikan perpustakaan mini yang 75% bukunya adalah sumbangan wali murid.

Ada strategi khusus agar para wali murid terpancing untuk menyumbangkan bukunya ke sekolah. Sebuah lomba Perpustakaan Mini diadakan di tiap kelas, setelah mengundang para wali murid di penyerahan rapor ujian tengah semester.

Di penyerahan rapor tersebut wali kelas membeberkan pentingnya literasi di hadapan para wali murid. Orang tua murid kemudian kemudian diajak berpartisipasi dalam kegiatan lomba perpustakaan mini, terutama dalam pengadaan buku dan tempatnya.

Ide ini disambut dengan sangat baik oleh para wali murid. Mereka dengan sukarela menyumbangkan buku, bahkan banyak yang lebih dari satu. Buku-buku yang disumbangkan disesuaikan dengan usia murid, seperti novel, buku fiksi, dan komik.

Rak buku di perpustakaan mini SMPN 1 Balikpapan | Foto: Tanoto Foundation
Rak buku di perpustakaan mini SMPN 1 Balikpapan | Foto: Tanoto Foundation

“Ide mengadakan lomba perpustakaan mini ini datang setelah salah satu guru kami, ibu Aryanti penanggung jawab bagian literasi di sekolah, mengikuti pelatihan literasi dari Kementrian Pendidikan, yang juga bersamaan dengan pelatihan Tanoto Foundation. Kedua program ini saling menunjang untuk peningkatan literasi di sekolah kami. Dari Tanoto kami banyak belajar strategi literasi,” ujar ibu Irma, guru bahasa Inggris yang menjadi salah satu panitia kegiatan tersebut, melalui siaran pers yang diterima GNFI.

Tak hanya sebatas pengadaan buku, loma perpustakaan mini juga memiliki kriteria tersendiri. Beberapa di antaranya adalah jumlah buku di tiap perpustakaan mini minimal ada 60 buku, ada daftar buku, buku pengunjung, dan kreativitas pembuatan perpustakaannya.

Para murid antusias membaca di perpustakaan mini | Foto: Tanoto Foundation
Para murid antusias membaca di perpustakaan mini | Foto: Tanoto Foundation

Penjurian lomba diadakan selama dua hari. Hari pertama, dua orang juri yaitu bapak Surata dan Mely Yana berkeliling untuk mengevaluasi perpustakaan mini di tiap kelas. “Pada hari tersebut, kami belum menilai, tapi memberi masukan terhadap tampilannya agar diperbaiki pada hari itu,” ujar ibu Sri Natalisniwati, salah seorang panitia.

Penilaian dilakukan di hari kedua. Juara kemudian diumumkan pada hari Jumat saat acara Jumat Ilmiah di lapangan sekolah. Tiap jenjang kelas memiliki juara masing-masing. “Karena kelas satu kan masih polos ya. Jadi penilaian untuk mereka juga harus juga dibedakan,” ujar bu Irma.

Juara 1, 2 dan 3 tiap tiap jenjang kelas masing-masing mendapatkan dua buku. Kemudian untuk biaya penyelenggaraan kegiatan dan hadiah buku senilai Rp 1.200.000, diambil dari dana sekolah.**

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MORAL, Produk Indonesia di Fashion Week Dunia Sebelummnya

MORAL, Produk Indonesia di Fashion Week Dunia

SEA Games 2019: Indonesia ke Final Lagi Setelah 6 Tahun! Selanjutnya

SEA Games 2019: Indonesia ke Final Lagi Setelah 6 Tahun!

Aditya Jaya Iswara
@adityajoyo

Aditya Jaya Iswara

Tidak bisa masak tapi suka makan. Tidak bisa main bola tapi suka nonton bola.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.