Hore Ada Harapan Untuk Badak Jawa

Hore Ada Harapan Untuk Badak Jawa
info gambar utama
  • Badak jawa [Rhinoceros sondaicus] berdasarkan IUCN Red List berstatus Kritis atau Critically Endangered yang berarti satu langkah menuju punah di alam
  • Populasi badak jawa yang diperkirakan sebanyak 67 individu [Balai TNUK 2017], hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon [TNUK], tepatnya di Semenanjung Ujung Kulon
  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berdasarkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak Indonesia, Peraturan Menhut No 43/2007, telah menetapkan wilayah seluas 5.100 hektar dalam kawasan TNUK sebagai perluasan habitat badak jawa.
  • Mengingat belum adanya keputusan pemerintah wilayah mana yang akan dijadikan habitat kedua, perluasan dan peningkatan preferensi [daya tarik] areal JRSCA bagi badak jawa untuk datang dan menetap sangat penting dilakukan

Sabtu 22 Desember 2018, pukul 21.30 WIB, tsunami menghantam wilayah pantai Selat Sunda sebagai dampak longsornya lereng Gunung Anak Krakatau seluas 64 hektar. Gelombang dahsyat itu, menerjang lima Kabupaten: Pandeglang dan Serang [Provinsi Banten], serta Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesawaran [Provinsi Lampung].

Tsunami pun menyapu sebagian kawasan Taman Nasional Ujung Kulon [TNUK] di wilayah Pandeglang. Dua petugas taman nasional yang bertugas di Citelang, meninggal. Sementara, sejumlah bangunan kantor dan kapal milik TNUK tak luput dari kerusakan.

Bagaiman nasib badak jawa? Satwa bercula satu ini dilaporkan baik-baik saja di habitatnya, baik yang berada di semenanjung maupun di JRSCA [Javan Rhino Study and Conservation Area]. Kawasan TNUK yang terdampak tsunami hamparan vegetasi hingga 100 meter dari bibir pantai di Citelang, Jamang, dan Tanjung Alang-alang.

“Tidak ada data badak jawa terdampak. Kemungkinan, saat kejadian, tidak ada badak yang berada di tempat-tempat tersebut. Instink badak lebih dulu menangkap “sinyal-sinyal” datangnya bencana yang membimbingnya lari sejauh mungkin,” tutur Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Mamat Rahmat.

Peristiwa ini menunjukkan, kekhawatiran terjadinya bencana yang berdampak buruk pada badak jawa memang ada. Respon positif apa yang harus kita lakukan?

 Badak jawa yang berada di Sungai Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon | Foto: Stephen Belcher/Dok. Balai Taman Nasional Ujung Kulon
info gambar

Kritis

Badak jawa [Rhinoceros sondaicus], berdasarkan IUCN Red List berstatus Kritis [Critically Endangered]. Populasinya yang diperkirakan sekitar 67 individu (Balai TNUK 2017) hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon, tepatnya di Semenanjung Ujung Kulon.

Semenanjung Ujung Kulon merupakan ujung baratnya Pulau Jawa. Posisinya di Selat Sunda, berdekatan Gunung Anak Krakatau, sesar Indo-Australia, Sesar Semangka, dan Sesar Selat Sunda tentunya.

Populasi badak yang relatif kecil ini [kurang 100 individu], terkonsentrasi pada kawasan terisolir, tentu saja memiliki derajat keterancaman punah yang tinggi. Ancaman yang bisa datang dari bencana alam, perubahan habitat, maupun sifat intrinsik alias genetik satwa itu sendiri. Kelestarian badak jawa di masa mendatang memang dipertaruhkan.

Foto dua individu badak jawa yang berkubang di Taman Nasional Ujung Kulon. Foto: Hoogerwerf, A. – Dipublikasikan tahun 1970/Rhino Resource Center
info gambar

Penetapan JRSCA

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [sebelumnya Kementerian Kehutanan] berdasarkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak Indonesia, Peraturan Menhut No 43/2007, sejatinya telah menetapkan wilayah seluas 5.100 hektar dalam kawasan TNUK sebagai perluasan habitat badak jawa.

Areal yang secara geografis berada di luar Semenanjung Ujung Kulon ini, dipisahkan Tanah Genting Laban – Karang Ranjang, merupakan lokasi yang dinamakan Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA). Wilayah ini diperkirakan relatif aman dari ancaman erupsi Gunung Anak Krakatau dan juga terjangan tsunami.

Dengan pembinaan habitat intensif disertai pembukaan koridor dari Semenanjung Ujung Kulon, diharapkan individu-individu badak bergerak masuk ke areal JRSCA. Individu-individu tersebut, [bersama individu-individu asli di JRSCA], nantinya akan menjadi sub-populasi badak jawa yang dikelola dengan teknik pengembangbiakan relevan [tepat]. Proses ini tentu saja tidak bisa berlangsung cepat, butuh waktu.

Hasil pemantauan menunjukkan, individu badak yang menetap di areal JRSCA setelah dilakukan pengendalian langkap sejak 2012, jumlahnya tiga individu. Semua jantan.

Garis pantai yang menunjukkan wilayah Ujung Kulon | Foto: Rhett Butler/Mongabay.com
info gambar

Ini menunjukkan, JRSCA dapat difungsikan sebagai batu loncatan [stepping stone], sebelum badak-badak yang ada ditranslokasikan ke habitat lain di luar TNUK, habitat kedua. Untuk itu penting dibuat pengembangan koridor yang menghubungkan blok-blok di dalam areal JRSCA, yang pernah dihuni badak tersebut yaitu: Bangkonol, Cimahi, Tamanjaya Girang, Cimenteng, hingga Cibiuk dengan koridor Cibandawoh-Karangranjang.

Fakta lapangan ini sekaligus menunjukkan, JRSCA merupakan lokasi yang cocok sebagai habitat kedua badak jawa. Pertama, ketersediaan ragam tumbuhan pakan yang mencapai 200 jenis. Ada mara, balanding, sulangkar, bisoro, kijahe, kitanjung, simpeureun, juga tepus dan laban kapas [beberapa jenis ditulis dengan nama lokal].

Ujung Kulon yang merupakan habitat badak jawa | Foto: Rhett Butler/Mongabay.com
info gambar

Kedua, di areal JRSCA terdapat delapan sungai utama yaitu; Cilintang [sepanjang 8.000 m], Kalejetan [11.300 m], Aer Mokla [4.000 m], Cihujan [5.400 m], Cikarang [4.000 m], Cipunaga [2.000 m], Ciperepet [2.000 m], dan Selokan Duyung [500 m]. Juga, terdapat delapan mata air: Solokan Duyung, Seuseupan, Cihujan, Rorah Salman, Cekekan Cilintang, Leuwi Bedog, Bangkonol, dan Kubangan Santa.

Ketiga, ada tujuh kubangan aktif. Kubangan Pangorok, Seuseupan, Alor Jangkardi, Kalejetan Gede, Aer Mokla, Bangkonol, dan Santa.

Keempat, beberapa faktor lain, seperti sumber mineral [salt lick], terdapat di Cibiuk, daerah Gunung Honje yang tidak jauh dari JRSCA.

Tanda bekas tanaman yang dimakan badak jawa di JRSCA selatan, Mei 2018 | Foto: JRSCA-YABI
info gambar

Solusi alternatif

Mencari habitat kedua di luar TNUK memang tidak mudah. Kepala Balai TNUK, Mamat Rahmat, sebagaimana dikutip dari BBC Indonesia, pada 27 Desember 2018 menyampaikan penjelasan tersebut.

Sulit menemukan lokasi yang sempurna. Kita membutuhkan setidaknya lima ribu hektar di satu lokasi. Itu harus menyediakan [badak] makanan dan air. Kita perlu tahu penyakit apa yang ada di sana, jika ada predator, serta seberapa mendukung masyarakat setempat.

Badak jawa berkubang yang terpantau di Taman Nasional Ujung Kulon | Foto: JRSCA-YABI
info gambar

Kepala Balai TNUK juga menginformasikan, pemerintah telah melakukan survei 10 lokasi yang mungkin sebagai habitat kedua badak jawa. Satu kandidat lokasi yang muncul adalah Suaka Margasatwa Cikepuh di Jawa Barat.

“Namun, ini bukan tanpa masalah. Ada kesepakatan [di sana] dengan tentara tentang penggunaan tanah untuk latihan tempur. Kita perlu melakukan penelitian lebih lanjut bagaimana [suara] senjata dan meriam dapat [berdampak] pada badak.

Peta wilayah JRSCA, Taman Nasional Ujung Kulon | Peta: YABI/TNUK/IRF
info gambar

Melihat permasalahan yang ada, usulan alternatif yang harus ditempuh untuk mendapatkan habitat kedua badak jawa adalah dengan memperluas JRSCA ke arah Cibiuk yang masih berada di Pulau Jawa. Berikutnya, mempersiapkan beberapa kawasan di Sumatera, yang diyakini tempat badak jawa pernah hidup di sana. Lokasi potensial itu adalah Taman Nasional Way Kambas, Berbak Sembilang, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, dan Hutan Restorasi Ekosistem Harapan di Jambi.

Namun, mengingat sampai saat ini belum ada keputusan pemerintah wilayah mana yang akan dijadikan habitat kedua, perluasan dan peningkatan preferensi [daya tarik] areal JRSCA bagi badak jawa untuk datang dan menetap penting dilakukan segera.

Percepatan “evakuasi” sebagian populasi badak jawa di Semenanjung Ujung Kulon ke areal ini layak dipertimbangkan. Tujuannya, mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan yang mengancam kehidupan badak jawa, terutama kepunahannya. Sebagaimana hantaman tsunami.

*Widodo S. Ramono, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia [YABI]. **Hayani Suprahman, Koordinator JRSCA Ujung Kulon Yayasan Badak Indonesia. Tulisan ini opini penulis


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia Ditulis oleh atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini