Tahun 1930, Harga Tiket Pesawat Domestik Belasan Juta Rupiah

Tahun 1930, Harga Tiket Pesawat Domestik Belasan Juta Rupiah
info gambar utama

Di era saat ini kita sangat diuntungkan dengan banyaknya Low Cost Carrier (LCC), atau maskapai penerbangan bertarif rendah. Ini memungkinkan kita bepergian memakai pesawat tanpa perlu merogoh kocek terlalu dalam.

Akan tetapi, apakah kemudahan ini juga pernah dijumpai di masa lalu? Berapa harga tiket pesawat saat dunia masih dilanda perang? Jawabannya….. belasan juta rupiah!

Di artikel Tirto.id berjudul “Bagaimana Hindia Belanda Merintis Penerbangan Sipil” tercantum harga tiket pesawat rute domestik Indonesia yang jika disetarakan dengan nilai uang saat ini, maka harganya bisa mencapai jutaan rupiah! Penghitungan dilakukan melalui metode yang dipakai International Institute of Social History.

Ambil contoh penerbangan Jakarta-Surabaya, salah satu rute dengan frekuensi penerbangan terbanyak saat ini. Di tahun 1930, calon penumpang harus membayar 115 gulden untuk pulang-pergi (PP), yang bila dikonversi ke nilai mata uang saat ini senilai Rp 15,9 juta!

Lalu bagaimana dengan kota-kota lainnya?

Rute Jakarta-Semarang seharga 70 gulden (Rp 9,7 juta), rute Surabaya-Semarang harganya 45 gulden (Rp 6,2 juta), Jakarta-Palembang tiketnya 93,5 gulden (Rp 12,9 juta), bahkan untuk jarak dekat Jakarta-Bandung, tiketnya dibanderol 17,5 gulden (Rp 2,5 juta).

Lebih mencengangkan lagi, di tahun 1939 terjadi kenaikan harga tiket. Tarif Jakarta-Surabaya mencapai 120 gulden, yang jika diibaratkan nilai uang saat ini sekitar Rp 19,1 juta untuk perjalanan pulang-pergi. Hmm… sudah seperti membeli sepeda motor secara tunai ya...

Kemudian untuk penerbangan ke luar negeri, contohnya Jakarta-Singapura 185 gulden (Rp 25,5 juta), dan Palembang-Singapura 91,5 gulden (Rp 12,6 juta). Coba bandingkan dengan harga tiket saat ini, dari Jakarta ke Singapura PP bisa sangat hemat sekitar Rp 1-3 juta-an saja.

Mahalnya harga tiket pesawat Indonesia di zaman kolonial Belanda (sekitar 4x gaji guru swasta sebulan saat itu), membuat orang-orang jarang bepergian naik pesawat. Mereka lebih memilih kereta api, mobil, atau kapal laut karena harganya lebih terjangkau.

Namun fenomena mahalnya harga tiket pesawat di Indonesia ini tidak bertahan lama. KNILM (Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij) yang merupakan satu-satunya maskapai penerbangan di Indonesia saat itu, kolaps usai Jepang menduduki Hindia Belanda di Perang Pasifik.

KNILM tak mampu bangkit, dan kemudian digantikan Indonesian Airways (sebelum berganti nama jadi Garuda Indonesia Airways dan Garuda Indonesia), serta maskapai-maskapai penerbangan lainnya. Rute-rute penerbangan KNILM pun menjadi peninggalan berharga, juga kode PK yang sampai sekarang dipakai pesawat-pesawat Indonesia.


Sumber: Tirto.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini