Inilah 4 Elemen Budaya Bali yang Didaftarkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional

Inilah 4 Elemen Budaya Bali yang Didaftarkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional
info gambar utama

Dinas Kebudayaan Denpasar Bali telah mengusulkan empat tarian untuk didaftarkan sebagai warisan budaya takbenda nasional (WBTB), daftar yang disusun setiap tahun oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pemerintah daerah telah memilih empat aspek warisan tradisional, atau ngaro, untuk termasuk dalam kategori adat dan tradisi. Pihak pemerintah daerah ingin tarian janger kedaton sumerta, pegok, dan legong binoh diakui sebagai warisan budaya dalam seni pertunjukan dan sate renteng agar diakui dalam subkategori keahlian kuliner tradisional.

Tari Legong Binoh | Sumber: MetroBali
info gambar

"Pada 2018, kami mendaftarkan empat elemen budaya. Keempatnya telah ditetapkan sebagai WBTB Indonesia tahun 2018. Kami akan mendaftarkan empat lagi pada tahun 2019; semoga keempatnya akan diterima, seperti halnya pada tahun 2018," kata Yudhu Wasudewa, anggota Tim Warisan Budaya Denpasar, seperti dikutip oleh kantor berita Antara.

Dia mengatakan Dinas Kebudayaan Denpasar berusaha untuk mencatat dan melindungi budaya daerah dan mengusulkan sebagian dari budaya dan seni tradisionalnya sebagai WBTB Indonesia.

Yudhu menjelaskan bahwa proses memiliki unsur seni atau tradisi yang terdaftar sebagai WBTB tersebut mencakup beberapa tahap, termasuk pengajuan proposal, studi akademis serta dokumentasi foto dan video.

Kepala Dinas Kebudayaan Bali I Gusti Ngurah Bagus Mataram mengatakan langkah untuk mendaftarkan lebih banyak budaya pulau Dewata ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan upaya pelestarian budaya dan menghindari kemungkinan klaim dari negara lain.

"Semoga keempatnya dapat ditentukan sebagai WBTB Nasional 2019, dan Denpasar dapat membuktikan dirinya di tingkat nasional, dan bahkan di dunia," kata Ngurah.

"Sebagai kota dengan perspektif budaya, tentu saja, kita harus melindungi dan memelihara warisan budaya Denpasar," tambahnya.


Sumber: Jakarta Post

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini