Tangis Haru Sang Siswa Nakal

Tangis Haru Sang Siswa Nakal

Keterangan Gambar Utama © esc.13.net

17 September 2018 – Hari ini saya berangkat ke sekolah seperti biasa. Kunyalakan sepeda motor dan mulai memacunya hingga sampai di SDN 14 Indralaya Utara.

Saya adalah guru kelas enam. Bagi saya, kelas ini unik, terutama karakter siswa-siswa yang sedang pada masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja. Seringkali saya jumpai anak-anak “nakal” yang sebenarnya mereka hanya kurang perhatian.

Saya sudah merencanakan bahwa di hari ini saya akan menerapkan pembelajaran literasi kepada anak didik saya. Dalam niatan pengembangan literasi melalui tulisan, hal luar biasa kali ini terjadi.

Saya meminta agar seluruh anak kelas enam menuliskan sebuah surat untuk siapa saja, baik yang masih hidup atau sudah tiada. Dengan bersemangat anak-anak pun mulai menulis.

Pandangan saya tertuju pada salah satu siswa laki-laki yang menunjukkan gelagat bersedih ketika saat baru saja mengambil pena dan kertas. Ada air mata yang menetes selama menulis.

Surat yang ditulis oleh siswa tidaklah banyak, tidaklah bagus, apalagi sesuai kaidah penulisan yang benar. Selama hampir empat jam pembelajaran, sang siswa menulis dengan khusyuk, menulis dengan lembut, tetapi selama empat jam pembelajaran itu juga seorang siswa tak hentinya meneteskan air mata.

Ceritanya sederhana. Cerita sederhana itu membasahi dasi merahnya dan tisu pemberianku. Teman-temannya hanya diam dan bertanya mengapa sang anak “nakal” itu menangis. Bahkan ada satu anak yang membacakan dua atau tiga baris tulisan sang anak “nakal”.

Kelas kembali terdiam. Sejenak air mata menetes lebih deras. Ternyata surat itu untuk ayah tercinta, ayah yang dirindukannya. Ayah yang telah meninggal dunia.

Di balik kenakalannya, ternyata sang anak masih punya nurani yang lembut. Semoga masa depan sang anak “nakal” ini dan teman-temannya cerah, serta mereka sukses di kemudian hari.

Berikut isi surat sang anak:

Surat ini kubuat untuk ayahku

Ayah, di mana engkau berada? Ayah, semoa engkau tenang di alam surga. Ayah, aku sedih karena cepat sekali engkau pergi. Ayah, aku berdoa selalu untukmu.

Ayah, andaikan engkau masih hidup, aku tidak akan bersedih. Aku sangat rindu padamu. Andaikan engkau masih hidup aku tidak akan rindu seberat ini. Ayah, aku berjanji akan mendoakanmu setiap hari dan aku tidak akan mengecewakanmu.

Ayah, tenanglah terus engkau di alam surga karena suatu saat nanti kita akan bertemu. Ayah, jangan bersedih ketika melihat aku menangis yang sedang mengingat dirimu. Aku kini sedang menangis sambil menulis surat ini.

Ayah, terima kasih telah merawat aku. Meskipun engkau merawat aku hanya sebentar tetapi bagiku engkau menjagaku selamanya. Engkau paling aku sayang. Semoga ayah tenang di sana.

Syawali Fitra Raja


Sumber: Kisah Bapak Suprianto, M.Pd di buku kroniknya

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Suku Asli Indonesia Sang Manusia Ikan Sebelummnya

Suku Asli Indonesia Sang Manusia Ikan

MocoSik Festival 2019 Usung Tema "Buku, Musik, Kamu" Selanjutnya

MocoSik Festival 2019 Usung Tema "Buku, Musik, Kamu"

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.