Tarian Menyambut Dewa dari Kahyangan ala Masyarakat Hindu Bali

Tarian Menyambut Dewa dari Kahyangan ala Masyarakat Hindu Bali
info gambar utama

Masyarakat Bali memiliki sebuah tarian tradisional yang dilakukan saat menyambut kedatangan para dewa dari khayangan yang turun ke bumi. Tarian ini berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan mereka kepada dewa atas berkenannya turun ke Bumi. Tarian tersebut bernama Tari Rejang.

Tak hanya menjadi salah satu warisan budaya, tari Rejang juga memiliki nilai-nilai penting di dalamnya., terkhusus makna spiritual. Oleh karena itu tari Rejang juga dipercaya sebagai tarian suci dan dilakukan secara khidmat.

Penari Rejang di desa Bale Gede | Foto: Agung Prameswara
info gambar

Menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa tari Rejang ini telah ada sejak jaman pra-Hindu. Penampilannya tidak pernah sembarangan, melainkan saat berlangsungnya upacara adat dan keagamaan. Di kalangan masyarakat Hindu Bali, Tari Rejang ini selalu ditampilkan pada berbagai upacara adat dan keagamaan yang diselenggarakan di pura seperti saat Piodalan.

Para penari mengenakan hiasan kepala yang terbuat dari anyaman daun kelapa yang disebut gelungan dan dihiasi dengan bunga | Foto: Agung Prameswara / Jakarta Post
info gambar

Tari Rejang merupakan satu dari sembilan warisan Budaya Tak Benda dari Bali yang masuk warisan budaya dunia (UNESCO).

Tari Rejang ini dapat ditampilkan oleh sejumlah penari wanita baik muda, separuh baya, dan tua yang sudah disucikan sebelum menarikannya. Tidak harus penari profesional, siapa saja bisa menarikannya. Kemudian penari-penari tersebut dipimpin oleh beberapa orang yang bertugas sebagai penuntun atau disebut Pamaret. Pamaret adalah mereka yang sudah berpengalaman melakukannya. Pemaret ini biasanya berada di barisan paling depan agar para penari pemula bisa mengikuti gerakannya.

Meskipun bukan penari profesional, para penari Rejang percaya bahwa dengan kehadiran Dewa dan dedikasi tulus yang mereka berikan akan membuat tarian mereka selaras | Foto: Agung Prameswara / Jakarta Post
info gambar

Wanita siapapun bisa menarikan tarian ini karena secara umum gerakan Tari Rejang ini sangat sederhana. Hal ini disebabkan karena dalam tarian ini lebih berfokus pada nilai spiritual di dalamnya. Gerakan Tari Rejang ini biasanya didominasi dengan gerakan ngembat dan ngelikas atau gerakan kiri dan kanan yang dilakukan sambil melangkah ke depan secara perlahan. Setiap gerakan dalam tarian ini, biasanya dilakukan dengan tempo yang cenderung pelan dan juga disesuaikan dengan iringan musik yang ada, sehingga terasa hikmat dan terlihat selaras.


Sumber: Jakarta Post | Negeriku Indonesia | Bali Express

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini