Dua minggu lalu, suatu pagi, di Bandara Ngurah Rai Bali, saya bertemu dengan serombongan wisatawan dari Italia. Mungkin sekitar 10-20 orang. Berpasangan, cantik-cantik seperti Monica Belluci, para pria pun ganteng rapi seperti Alessandro Del Piero. Mereka terlihat menengok kiri-kanan seolah mencari sesuatu, dan kemudian saya pun mendekat, untuk sekedar menawarkan bantuan jika diperlukan. Mereka ternyata sedang mencari gate untuk penerbangan mereka ke Sumba, yang belum tertera di papan pengumuman, karena jadwal keberangkatan masih lama. Ya, Pulau Sumba.

Saya paling suka bercengkerama dengan wisatawan dari luar negara, untuk mengetahui pendapat mereka, dan apa saja tentang Indonesia yang mereka sukai, atau yang mereka kurang sukai. Kali saya tanyakan pada mereka...mengapa Sumba.

Rupanya mereka sudah beberapa kali ke Indonesia, namun belum pernah ke tempat lain selain Jawa dan Bali. Mereka bercerita awalnya mereka bertemu dengan serombongan wisatawan dari Eropa di Bangkok, yang baru saja pulang dari menjelajahi Sumba. Cerita mereka begitu berapi-api.

"It's a land the time almost forgot. One of places to go before we die" kira-kira begitu kata mereka.

Saya tertegun sebentar, "forgotten by time?" saya membatin. Sebuah terminologi yang (menurut saya) serius sekaligus powerful..dan membuat penasaran. Itulah mengapa, masih menurut sang turis, pulau kini menjadi buah bibir di Eropa sana. "Mythical" kata kawan sang turis yang duduk di sebelahnya.

Kami berpisah karena saya harus terbang dari gate berbeda. Dalam perjalanan ke pesawat saya, masih terngiang akan kata "forgotten by time" itu tadi. Saya sudah ke banyak pulau terluar di Indonesia, mulai dari Pulau Weh, Miangas, Pulau Rote, Alor, Sangihe, Talaud. Saya pernah ke Timor, ke Flores, dan Sumbawa. Yang begitu dekat dengan Sumba. Saya bahkan pernah transit di Bandara Tambolaka di Sumba Barat Daya, tapi tak keluar dari pesawat.

Di dalam pesawat, kok ya kebetulan kebetulan Sumba di inflight magazinenya. Di tulis di disitu, bahwa pulau Sumba begitu berbeda dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Sumba dikenal dengan keunikan tersebut. Dengan padang-padang savana yang berbukiti-bukit mirip gelombang. dan perbukitan kapur rendah, karakteristik fisiknya hampir tidak ada kemiripan dengan pulau-pulau lain di Indonesia.

Bukit Warinding, Sumba | Travelingyuk.com
Bukit Warinding, Sumba | Travelingyuk.com

Tak hanya alamnya yang begitu menakjubkan, namun juga seni tenun ikatnya yang dibuat dengan pewarna alami dari ketrampilan tangan-tangan halus wanita Sumba yang sudah mendunia. Pun juga salah satu ikon budayanya, yakni Pasola, festival perang-perangan yang terkenal itu. Dan ada satu lagi yang, menurut saya, membuatnya dijuluki "Negeri yang dilupakan Waktu" tadi. Yakni budaya megalitik, a living culture yang tidak bisa ditemui di wilayah lain.

Batu megalitik di sebuah kampung di Sumba | inews.id
Batu megalitik di sebuah kampung di Sumba | inews.id

Artefak-artefak megalitik terutama kubur batu dan menhir hampir selalu bisa ditemukan di seluruh bagian Sumba. Batu-batu besar kokoh dengan berat berton-ton yang dipahat sangat halus didedikasikan sebagai kubur orang tua atau leluhur. Bagi orang Sumba, kubur batu hampir selalu berasosiasi dengan pemukiman, untuk menjaga kedekatan mereka dengan anggota keluarga yang telah meninggal. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari adanya anggapan bahwa roh leluhur dapat melindungi keluarganya yang masih hidup.

Tradisi megalitik di Sumba sangat terasa dengan konsep pemujaan leluhur yang tercermin dari upacara-upacara ritual yang masih berlangsung hingga saat ini. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari kepercayaan asli masyarakat Sumba yakni Marapu, yang bertumpu pada pemujaan leluhur. Penganut Marapu percaya adanya Dewa-Dewa di sekeliling mereka dan percaya bahwa arwah nenek moyang masih tetap hidup sehingga mereka memperlakukan arwah nenek moyang secara istimewa.

Pasola | indonesia.travel
Pasola | indonesia.travel

Terakhir, tak lengkap membicarakan Sumba tanpa membicarakan ..kuda. Kuda mempunyai ikatan historis dengan orang Sumba. Kuda telah menjadi bagian hidup masyarakat di pulau paling selatan Indonesia itu sejak pertengahan abad ke-18. Kuda Sumba aslinya merupakan kuda poni dan kemudian diberi nama kuda Sandel atau lengkapnya kuda Sandelwood Pony. Kuda Sandel yang dikembangkan di Sumba merupakan kuda pacu asli Indonesia.

Ah...Sumba. Banyaknya cerita, dan saya belum pernah menjelajahinya. Entah mengapa, saya merasa bersalah di buatnya. Dan keinginan saya untuk berkunjung ke Sumba makin bergelora setelah membaca puisi dahsyat karya Taufiq Ismail berjudul "Beri Daku Sumba". Puisi yang menggambarkan keindahan pulau ini yang ditulis oleh dibuat sang maestro pada 1970 tanpa pernah berkunjung ke sana sebelumnya. Dia membuatnya berdasarkan cerita teman dan visualisasi pemandangan Uzbekistan di Asia Tengah.

Taufik Ismail | Tribun Jabar
Taufik Ismail | Tribun Jabar

Berawal tahun 68 dari pergaulannya dengan seorang seniman Sumba bernama Umbu Landu Paranggi yang tak henti bercerita tentang Sumba. Taufiq pun menjadi sangat tertarik pada Sumba dan ingin sekali ke sana, meski begitu, takdir membawanya justru ke Uzbekistan. Di sinilah Taufiq menemukan gambaran keindahan Sumba. Kuda-kuda, tanah luas, dan juga pantai, persis seperti Sumba yang ada dalam bayangannya selama ini dari cerita-cerita Umbu.

Dari situlah dia terinspirasi membuat puisi "Beri Daku Sumba", sebagai perlambang harapan bisa segera mengunjungi pulau di Nusa Tenggara Timur itu. Taufiq akhirnya menginjakkan kakinya di Sumba sekitar 20 tahun setelah puisinya dibuat.

BERI DAKU SUMBA
Oleh Taufik Ismail


Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

---

Ah..sudahlah...saya beli tiket ke Sumba sekarang.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu