Pulau Kalimantan yang merupakan pulau terbesar di Indonesia memiliki pegunungan yang luasnya mencakup tiga provinsi di pulau tersebut. Tiga provinsi tersebut adalah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Posisi dari pegunungan yang bernama Meratus tersebut membelah provinsi Kalimantan Selatan menjadi dua.

Titik tertinggi di rangkaian Pegunungan Meratus adalah Gunung Halau-halau yang memiliki ketinggian 1.901 Mdpl. Daerah pegunungan ini memang bukan gunung dengan ketinggian yang menjulang, hal tersebut karena pegunungan Meratus merupakan kawasan berhutan yang bisa dikelompokkan sebagai hutan pegunungan rendah.

Namun, dari bentuk kawasannya dengan luas sebesar itu bisa dibayangkan betapa kayanya keanekaragaman hayati di kawasan ini. Beberapa vegetasi dominan yang tumbuh di kawasan ini adalah Meranti Putih (Shorea spp), Meranti Merah (Shorea spp), Agathis (Agathis spp), Kanari (Canarium dan Diculatum BI), Nyatoh (Palaquium spp), Medang (Litsea sp), Durian (Durio sp), Gerunggang (Crotoxylon arborescen BI), Kempas (Koompassia sp), Belatung (Quercus sp). Selain itu juga terdapat banyak perkebunan karet di sepanjang pegunungan.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kawasan pegunungan Meratus dominan dengan vegetasi durian. Bukan hanya satu jenis melainkan beberapa. Di artikel ini, kawan GNFI dapat menemukan apa sajakah ragam durian yang tumbuh di pegunungan Meratus.

Lay/Pampakin - Durio kutejensis

Pampakin | Sumber: kompasiana
Pampakin | Sumber: kompasiana

Karantungan - Durio oxleyanus

Mahrawin | Sumber: Deskgram
Mahrawin | Sumber: Deskgram

Durian - Durio zibethinus

Durian | Sumber: Wikimedia
Durian | Sumber: Wikimedia

Layung/Lahung - Durio dulcis

Layung atau Lahung | Sumber: Pictame
Layung atau Lahung | Sumber: Pictame

Trako - Durio graveolens

Trako | Sumber: Album Google+
Trako | Sumber: Album Google+

Gimana, kawan-kawan? Ada yang pernah mencicipi salah satu atau beberapa dari durian yang tumbuh di pegunungan Meratus ini? Kalau saya sih, baru pernah mencicipi pampakin.

Nini (nenek dalam bahasa Banjar) saya menyukai pampakin ini karena di saat seluruh keluarga yang lain menyantap durian, beliau hanya bisa menikmati pampakin karena takut memicu penyakit beliau, maklum nini saya sudah tua hehe

Jadi, dari teksturnya pampakin memang berbeda dengan durian biasa. Teksturnya lebih keras, tidak creamy seperti durian. Warnanya pun jelas berbeda, apalagi rasanya. Susah dijelaskan, kalau ada waktu, kawan-kawan bisa langsung ke Kalimantan untuk mencoba memakan durian-durian ini jika hendak!

Sumber: Generasi Biologi

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu