Asal Usul Terbentuknya Daratan Pulau Jawa

Asal Usul Terbentuknya Daratan Pulau Jawa

Peneliti LIPI menunjukkan bukti bebatuan hasil tumbukan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia di Kali Muncar, Desa Seboro, Kecamatan Sadang Kebumen, Jateng © Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia

  • Lantai dasar Samudra Hindia berkedalaman 4 km terangkat akibat tumbukan lempeng samudra Indo-Australia dan lempeng benua Eurasia dan membentuk daratan Pulau Jawa.
  • Proses pembentukan daratan Jawa berdasarkan bebatuan yang berumur 117-80 juta tahun yang lalu, dan jejaknya tersingkap di tebing Kali Muncar, Desa Seboro, Kecamatan Sadang, Kebumen, Jateng.
  • Semua itu ada di Geopark Karangsambung Karangbolong dengan bukti geologis yang lebih lengkap dibandingkan dengan Geopark Ciletuh dan Geopark Gunung Sewu.
  • Pemkab Kebumen berkeinginan menjadikan Geopark Karangsambung Karangbolong sebagai geopark global oleh UNESCO pada 2021.

***

Apa akibatnya kalau lempeng samudra Indo-Australia dan lempeng benua Eurasia bertumbukan?

Tentu saja, peristiwa dahsyat terjadi. Tetapi prosesnya tidak sekejap mata, bisa berjuta-juta tahun. Dalam tumbukan itu, tentu saja diwarnai dengan gempa bumi, tsunami, meletusnya gunung api dan lainnya. Bahkan, lantai samudra yang memiliki kedalaman 4.000 meter bisa terangkat menjadi daratan. Benarkah?

Dari riset yang dilakukan para ahli geologi, bukti mengenai lantai samudra yang terangkat ditemukan di Kebumen, Jawa Tengah. Ada sejumlah kecamatan seperti Karangsambung dan Sadang yang bebatuannya menyingkap sejarah evolusi bumi.

Dari catatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), geolog asal Belanda bernama RDM Verbeek dan R Fennema yang pertama kali menemukan tanah dasar Pulau Jawa pada 1881. Sepuluh tahun kemudian, pada 1891, Verbeek kembali menemukan fosil Nummulites dan Orbitulina di Sungai Luk Ulo. Dari penelitiannya itu, diperkirakan batuan tua tersebut berumur 117 tahun.

Kemudian daerah setempat terutama di Karangsambung, Kebumen mulai dipetakan oleh Harloff pada 1933. Tetapi kemudian perang dunia II berkecamuk, sehingga baru tahun 1970-an, geolog asal Indonesia Sukendar Asikin yang melakukan riset kemudian mengulas geologi daerah Karangsambung berdasarkan Teori Tektonik Lempeng.

Peneliti LIPI menunjukkan bukti bebatuan hasil tumbukan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia di Kali Muncar, Desa Seboro, Kecamatan Sadang Kebumen, Jateng | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia
Peneliti LIPI menunjukkan bukti bebatuan hasil tumbukan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia di Kali Muncar, Desa Seboro, Kecamatan Sadang Kebumen, Jateng | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia

Pada Senin (21/1/2019) lalu, peneliti utama LIPI Chusni Ansori memperlihatkan salah satu bukti fenomenal yakni lantai dasar Samudra Hindia yang memiliki kedalaman 4 km terangkat dan membentuk daratan Pulau Jawa. Jejaknya tersingkap di tebing Kali Muncar, Desa Seboro, Kecamatan Sadang, Kebumen. Di sungai bagian hulu tersebut, ada lava basal seperti bantal bertumpuk. Warga setempat mengidentikkan dengan alat musik gamelan yang berbentuk kenong dan gong. Sedangkan di bawahnya ada batuan yang tegap berdiri berwarna merah. Ada batuan rijang dan batu gamping.

“Yang kita jejak di sini, dulunya merupakan lantai Samudra Hindia. Ada riset-riset yang membuktikan kalau jenis batuannya sama dengan yang ditemukan di dasar Samudra Hindia. Di sinilah bukti terangkatnya lantai samudra akibat tumbukan lempeng Indo-Australia dari selatan dengan Eurasia di utara. Bebatuan di sini menyingkapkan sejarah perjalanan evolusi bumi. Bebatuan yang ada di sini berusia 117 juta tahun yang lalu hingga sekitar 80 juta tahun silam. Prosesnya memang sangat panjang, tetapi hal ini membuktikan bahwa lempeng terus bergerak dan bisa bertumbukan. Kalau bukti lempeng Eurasia adalah adanya batuan marmer, tetapi ditemukan di tempat lain di kawasan Kebumen,”ungkap Chusni yang telah meneliti di Karangsambung puluhan tahun lalu.

Menurut Chusni, pada akhir November lalu, pemerintah telah menetapkan Karangsambung dan Karangbolong sebagai taman bumi dengan nama Karangsambung Karangbolong Geopark. “Karangsambung Karangbolong Geopark memiliki bukti-bukti lengkap jika dibandingkan dengan Ciletuh dan Gunung Sewu yang telah menjadi geopark global. Sebab, di Ciletuh, bebatuannya dari dasar samudra yang lengkap, sedangkan di Gunung Sewu lebih banyak dari bagian atas atau gunung api purba. Tetapi Karangsambung Karangbolong Geopark lebih lengkap. Bebatuan di Karangsambung beraneka ragam dan bercampur aduk dan disebut melange,” paparnya.

Melange yang terbentuk di Karangsambung biasa disebut sebagai Melange Luk Ulo. Luk Ulo adalah sungai yang membelah kawasan utara Kebumen bagian perbukitan hingga sampai muara sungai di Samudra Hindia. Dalam risetnya, geolog Sukendar Asikin menyatakan kalau Melange Luk Ulo merupakan percampuran tektonik batuan yang mempunyai lingkungan berbeda. Pencampuran terjadi akibat proses subduksi antara lempeng Indo-Australia dengan Eurasia.

Panorama perbukitan yang merupakan bukti tumbukan lempeng dilihat dari jalan raya penghubung antara Karangsambung-Sadang di Kebumen, Jateng | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia
Panorama perbukitan yang merupakan bukti tumbukan lempeng dilihat dari jalan raya penghubung antara Karangsambung-Sadang di Kebumen, Jateng | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia

Chusni menerangkan dari studi geologi di Karangsambung, ada enam sejarah proses geologi yang ditemukan. Yakni pembentukan awal Pulau Jawa yang dimulai sejak 117 juta tahun hingga 55 juta tahun yang lalu. Kemudian masa sedimentasi longsoran laut dalam mulai 55 juta hingga 25 juta tahun lalu. “Fase ketiga adalah pembentukan old andesit formation (OAF) atau gunung api purba yang terjadi pada 25 juta hingga 16 juta tahun silam. Kemudian keempat adalah paparan karbonat pada 16 juta hingga 10 juta tahun lalu, kemudian kelima gunung api halang pada masa 10 juta hingga 2 juta tahun lalu, lalu keenam endapan allluvial dan pantai yakni kurang dari 2 juta tahun lalu,”jelas Chusni.

Sementara Kepala Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI Edi Hidayat menyatakan bahwa setiap tahunnya ada 13 ribu hingga 14 ribu pelajar, mahasiswa, peneliti dan masyarakat umum yang datang ke Karangsambung. “Di Karangsambung terbentang teater alam sebagai laboratorium terbuka proses tumbukan antara lempeng samudra dengan lempeng benua. Prof Sukendar Asikin menjadi salah satu tokoh penting yang membuktikan secara nyata Teori Tektonik Lempeng di Karangsambung. Ia bersama dengan Prof JA Katili kemudian membangun laboratorium geologi di Karangsambung ini,”ungkap Edi.

Ia juga kagum dengan penamaan Karangsambung. Sebab, kalau dimaknai, nama Karangsambung adalah karang yang tersambung. “Saya jadi ingat kata-kata Pak Munasri yang dulunya Kepala Balai di sini, menyatakan kalau ada dua karang raksasa bersambung, menciptakan konsep baru ilmu kebumian. Dari sanalah lahir ribuan ahli geologi Indonesia di Karangsambung Kebumen. Saya tidak tahu, apakah nenek moyang dulu yang menamai Karangsambung sudah tahu mengenai fenomena ini atau belum,” lanjut Edi.

“Demikian juga dengan nama Kebumen. Saya mengartikan nama tersebut identik dengan kata kebumian. Nah, apakah yang menamakan juga tahu kalau di Kebumen menyimpan bukti evolusi kebumian yang lengkap? Tetapi yang paling penting adalah bagaimana menjaga bukti-bukti evolusi bumi yang tersingkap jelas di Karangsambung. Apalagi, saat sekarang telah dijadikan sebagai Taman Bumi nasional dengan nama Karangsambung Karangbolong Geopark,” tandasnya.

Peneliti LIPI menunjukkan proses terjadinya tumbukan antarlempeng yang terbuktikan dengan bebatuan yang ada di kawasan Sadang dalam kawasan Karangsambung Karangbolong Geopark | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia
Peneliti LIPI menunjukkan proses terjadinya tumbukan antarlempeng yang terbuktikan dengan bebatuan yang ada di kawasan Sadang dalam kawasan Karangsambung Karangbolong Geopark | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia

Kejar Jadi Geopark Global

Kawasan Karangsambung Karangbolong Geopark memiliki luasan 543,5 km2 yang meliputi 117 desa tersebar di 12 kecamatan di Kebumen. Mulai dari wilayah pegunungan di sisi utara hingga ke sisi selatan pegunungan Karst serta Samudra Hindia. Ada tiga segmen kawasan yakni Kawasan Karangsambung sebagai kawasan cagar alam geologi berupa taman nasional bumi sejak 2016, kemudian Kawasan Sempor bagian tengah serta selatan adalah Kawasan Pesisir Ayah yang merupakan kawasan karst dan vulkanik tua.

Unsur kekayaan geologi disatupadukan dengan kekayaan budaya dan hayati menjadi kawasan konservasi, pendidikan dan pemberdayaan. Kawasan geopark tersebut akan menjadi salah satu instrumen penting pembangunan ekonomi berkelanjutan yang mengedepankan aspek konservasi, pendidikan, pertumbuhan ekonomi lokal lewat pariwisata, yang melibatkan masyarakat secara aktif sebagai pelaku utamanya.

Inti pendapat itu disampaikan sejumlah nara sumber dalam acara Sarasehan Pengembangan Geopark Karangsambung Karangbolong pada Senin (21/1) lalu. Wakil Bupati Kebumen Yazid Mahfudz mengatakan setelah ditetapkan sebagai kawasan taman bumi nasional, maka Pemkab Kebumen minta supaya terus bekerja sehingga dua tahun mendatang Karangsambung Karangbolong Geopark dapat dijadikan sebagai geoparkglobal yang diakui UNESCO. “Kita harus kembali bekerja dan mengusahakan agar Karangsambung Karangbolong Geopark menjadi geopark global yang diakui oleh UNESCO dalam dua tahun mendatang,”tegasnya.

Wakil Bupati juga meminta agar geopark tersebut berdampak positif bagi masyarakat. “Keberadaan geopark harus mampu menyejahterakan masyarakat di 117 desa di 12 kecamatan di Kebumen yang menjadi kawasan Taman Bumi. Kami juga berharap geopark ini akan menjadi geowisata dan edukasi sehingga masyarakat dapat meningkat kesejahteraannya,” katanya.

Berbagai jenis bebatuan yang tersimpan di museum kebumian LIPI di Karangsambung, Kebumen, Jateng | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia
Berbagai jenis bebatuan yang tersimpan di museum kebumian LIPI di Karangsambung, Kebumen, Jateng | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia


Sumber:

Pilih BanggaBangga42%
Pilih SedihSedih1%
Pilih SenangSenang5%
Pilih Tak PeduliTak Peduli2%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi4%
Pilih TerpukauTerpukau47%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Bersama Dua Coffee, Mengenalkan Kopi Nusantara di Amerika Sebelummnya

Bersama Dua Coffee, Mengenalkan Kopi Nusantara di Amerika

Perempuan Penulis dan Cinta Indonesia Selanjutnya

Perempuan Penulis dan Cinta Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.