Terjawab Sudah. Inilah Alasan Mengapa Komodo Hanya ada di Indonesia

Terjawab Sudah. Inilah Alasan Mengapa Komodo Hanya ada di Indonesia

Komodo © 1zoom.me


Komodo atau Varanus komodoensis, adalah spesies kadal yang merupakan hewan endemik Indonesia, yang artinya ia adalah satwa asli Indonesia. Di Indonesia sendiri, komodo hanya ada di pulau Komodo, pulau Rinca, Gili Motang dan pulau Padar.

Komodo merupakan spesies kadal terbesar di dunia yang panjangnya bisa mencapai 3 meter. Ia bisa mengendus mangsanya dari jarak 9 km !! Ia tergolong predator buas yang bisa menyerang rusa dan manusia. Tetapi, mengapa reptil satu ini hanya ditemukan di Nusa Tenggara?

Di balik kekuatan dan ketangguhannya, ternyata komodo benar-benar punya sifat alami “homebodies” alias anak rumahan yang sesungguhnya. Sifat alami yang sederhana itu mendasari perilaku menetap komodo dan membuatnya cuma tersebar di Indonesia. Bagaimana bisa?

Menurut sebuah studi yang terbit di Prosiding Royal Society B, komodo bukannya tak bisa menjelajah daerah lain atau menguasai dunia, tapi mereka memang tidak ingin melakukannya. Komodo sebetulnya tipe hewan yang tak mau ambil risiko. Sekelompok ahli yang mengamati komodo di empat pulau selama satu dekade mengungkap bahwa komodo tidak pernah meninggalkan tanah kelahirannya sepanjang hidup.

Dikutip dari IFLscience, komodo sudah merasa lebih aman dan nyaman berada di zona dekat rumah, mereka tak menginginkan apapun lagi. Selain itu, di habitat aslinya di Nusa Tenggara Timur, mereka bisa mengetahui secara persis di mana menemukan mangsa.

Selain menolak ambil pusing soal hidup berpindah-pindah, peneliti juga menemukan, karnivora dengan kaki kuat dan kemampuan bergerak cepat hingga 20 Km per jam atau sekitar 13 mph ini lebih memilih menciptakan stabilitas dengan tak banyak bergerak jauh.

Namun, hal yang membingungkan bagi para ahli adalah jika hewan berada di suatu daerah selama beberapa generasi, mereka berisiko melakukan perkawinan sedarah, menghadapi kelangkaan sumber daya, dan bahaya lain yang mungkin bisa dihindari jika mereka bergerak ke tempat lain.

"Begitu mereka menjajah sebuah pulau, terlepas dari kemampuan luar biasa penyebaran jarak jauh yang dimilikinya, mereka memutuskan itu sudah cukup (tidak menjelajah lagi),'" jelas Tim Jessop, profesor ekologi di Deakins University di Australia yang memimpin penelitian, seperti dikutip New York Times.

Komodo yang berenang | youtube.com
Komodo yang berenang | youtube.com

Para peneliti pernah melakukan dua spesimen pengujian. Pertama, para peneliti memindahkan tujuh komodo dari wilayah asal mereka ke tempat yang jauh, tetapi masih di pulau yang sama. Beberapa diangkut sekitar 22 km jauhnya. Kedua, komodo lain dipindahkan ke pulau berbeda yang meski berjarak dekat cuma 1.6 km, tapi membuat mereka harus menyeberang lautan untuk kembali ke tempat asal.

Dalam waktu empat bulan, semua komodo yang dipindahkan ke darat walaupun sangat jauh ternyata bisa kembali lagi ke rumahnya. Ini menunjukkan bahwa komodo mampu melakukan perjalanan jauh melewati medan berat. Ternyata ada seekor komodo yang dipindah ke pulau lain yang mengalami masalah. Ia tidak bisa mencari pasangan dari komodo-komodo di pulau baru dan kesulitan menemukan mangsa. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa sebetulnya komodo punya kemampuan berenang cukup jauh, tetapi usaha pulang dianggap tidak sepadan dengan risiko yang diambil.

Peneliti juga menemukan pada tes DNA komodo, yang menunjukkan adanya tanda-tanda perkawinan sedarah di populasi komodo, dan rentan terhadap kekurangan makanan.

Komodo | yoexplore.co.id
Komodo | yoexplore.co.id

Padahal, menurut peneliti, berdiam diri dan enggan pergi juga tidak menguntungkan bagi komodo. Data mikrosatelit yang memantau DNA komodo menunjukkan tanda-tanda perkawinan sedarah. Boleh jadi, itu karena komodo setempat menolak kawin dengan pendatang baru

Kemudian, mereka justru lebih berisiko kekurangan pangan karena persaingan antar kelompok. Belum lagi faktor bencana alam dan aktivitas manusia semisal perburuan juga mengancam populasi.

"Mereka tetap tidak peduli seberapa buruknya. Ini sedikit membingungkan," ujar Jessop. Komodo adalah hewan unik. Komodo muda memiliki kebiasaan memanjat pohon untuk menghindari kanibalisme dari komodo yang lebih tua. Mereka mungkin terlihat seperti predator tingkat atas yang kejam, tetapi tujuan mereka menjadi makhluk pulau ternyata lebih sederhana dari yang kita kira," ujarnya.

Sumber : IFLScience | Phys.org | New York Times | Kompas.com | Beritagar.id

Pilih BanggaBangga22%
Pilih SedihSedih4%
Pilih SenangSenang5%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi9%
Pilih TerpukauTerpukau57%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Beasiswa Ke Negeri Orange Tak Berbatas Usia Sebelummnya

Beasiswa Ke Negeri Orange Tak Berbatas Usia

Inilah Festival Terbesar di Indonesia untuk Para Pahlawan Ekonomi Selanjutnya

Inilah Festival Terbesar di Indonesia untuk Para Pahlawan Ekonomi

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.