Fakta Mengenai Bahasa di Indonesia

Fakta Mengenai Bahasa di Indonesia
info gambar utama

Masih dalam nuansa perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional, yang jatuh semalam 21 Februari. Di artikel ini kita akan membahas betapa pentingnya kita melestarikan bahasa daerah.

Di Indonesia yang terdiri dari ragam suku budaya, Bahasa menjadi salah satu yang menjadi sisi unik dari negara ini. Karena masing-masing daerah di Indonesia memiliki bahasa lokal yang dipergunakan oleh masyarakatnya.

Tidak hanya itu, Bahasa tersebut jarang sekali mirip satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu kita juga memiliki Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa.

Saya ingat pernah berdebat dengan seorang teman dari luar negeri yang mengira bahwa Bahasa daerah di Indonesia ini adalah dialek. Saya jelaskan kepadanya bahwa bahasa daerah di Indonesia bukanlah dialek. Sebab kita memiliki bahasa yang sangat berbeda. Contoh: I dalam Bahasa Inggris berarti Saya atau Aku dalam Bahasa Indonesia, Kulo dalam Bahasa Jawa Halus, Ulun dalam Bahasa Banjar.

Hingga Oktober 2017, Kepala Bidang Perlindungan Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Bahasa Jakarta Ganjar Harimansyah Indonesia memiliki 652 bahasa daerah yang telah diidentifikasi dan divalidasi dari 2.452 daerah pengamatan di wilayah Indonesia. Menjadi 733 dari akumulasi persebaran bahasa daerah per provinsi.

Namun, Ganjar menyebutkan jumlah tersebut belum termasuk dengan bahasa di Nusa Tengga Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat karena belum teridentifikasi.

Sayangnya, 11 bahasa daerah yang ada di Indonesia dinyatakan punah. Selain itu, ada empat bahasa daerah yang dinyatakan kritis dan dua bahasa daerah mengalami kemunduran.

11 bahasa yang punah tersebut berasal dari Maluku yaitu bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua, dan Nila, serta bahasa Papua yaitu Tandia dan Mawes. Sementara bahasa yang kritis adalah bahsa daerah Reta dari NTT, Saponi dari Papua, dan dari Maluku yaitu bahasa daerah Ibo dan Meher.

"Ada juga 16 bahasa yang stabil tapi terancam punah dan ada 19 bahasa yang masuk dalam kategori aman," tutur Ganjar.

"Setiap tahun beberapa bahasa daerah yang ada di Indonesia terancam punah atau mengalami penurunan status. Unesco pada 2009 juga mencatat sekitar 2.500 bahasa di dunia termasuk lebih dari 100 bahasa daerah di Indonesia terncam punah. Sedangkan sebanyak 200 bahasa telah punah dalam 30 tahun terakhir dan 607 tidak aman," kata Ganjar.

Salah satu upaya untuk pelestarian bahasa daerah yang saya tahu adalah adanya penghargaan sastra Rancagé. Penghargaan ini diberikan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah. Penghargaan ini diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage, yang didirikan oleh budayawan Ajip Rosidi, Erry Riyana Harjapamekas, Edi S. Ekajati, dan beberapa tokoh lainnya.

Dengan adanya penghargaan ini, saya rasa bisa membangkitkan dan menularkan semangat pelestarian bahasa daerah.

Kita sebagai individu yang dianugerahi dengan kekayaan bahasa daerah ini tidak perlu membuat penghargaan besar atau apapun, dengan tetap mempraktikkan bahasa daerah saja kita sudah turut membantu untuk melestarikannya.

Semangat kawan! Semoga tidak ada lagi bahasa daerah yang punah.


Sumber: Kompas

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini